HARTA adalah anugerah Allah kepada manusia untuk menghidupi hidup-nya. Harta adalah sesuatu yang Tuhan sediakan. Di Mazmur 127 dikatakan bahwa ketika kita masih tidur Tuhan sudah menyediakan roti yang kita butuhkan untuk esok pagi. Tapi ayat ini tidak untuk mengajarkan kita tidak perlu bekerja. Ayat ini justru mengajarkan bahwa ada jaminan yang Allah sediakan bagi kita, tetapi Allah mau kita bertindak di dalam kehidupan secara bertanggung jawab, yaitu dengan otak, tenaga, dan talenta yang Tuhan berikan. Itu kita pakai mengelola hidup, untuk mendapatkan apa yang Tuhan sudah sediakan bagi kita.
Kenapa kita khawatir? Karena ada keterbatasan kita di dalam ruang dan waktu. Keterbatasan membuat kita tidak mengetahui apa yang terjadi besok. Menurut hitung-hitungan kita, jika tidak punya uang tidak bisa makan. Kalau tidak punya deposito cukup, berat menyekolahkan anak. Hitungan-hitungan itu memang tidak salah. Dalam keterbatasan, kita berpikir seperti itu. Seluruh yang ada itu bisa kita hitung sedemikian rupa: sebab-akibatnya dan logika jalannya. Dalam keterbatasan itu kita mampu berhitung dengan jitu dan tepat.
Jadi, masak kita tidak mau belajar pada realita umum yang disebut sebagai anugerah umum common grace. Kalau rajin be-lajar pasti pintar. Kalau Anda baik, dihargai orang dan banyak sahabat, mereka pasti menolongmu. Secara common grace, semua orang diperlihara oleh kasih Tuhan. Karena Tuhan mengatakan bahwa Dia memberikan matahari bukan hanya untuk orang baik, tetapi juga orang jahat. Maka secara anugerah umum tadi kita sadar ada berkat Tuhan yang mengalir dalam hidup. Tetapi jangan kaitkan ini dengan special grace, kese-lamatan. Maka dalam common grace tadi, orang bisa belajar, bisa bertumbuh di dalam ke-imanannya, memahami kebenaran kasih setia Allah. Maka di dalam keimanannya itu, ia akan bertumbuh dan makin kuat menaruh harapannya kepada Tuhan, dan pengharapannya itu akan merangsang dia untuk bekerja secara betanggung jawab di hadapan Tuhan.
Jadi, kalau secara umum orang baik membuka peluang masa depan bagi dirinya, apalagi orang yang takut Tuhan. Orang takut Tuhan pasti baik kan? Tapi jangan mengaku percaya Tuhan, tetapi Anda terkenal sebagai pekerja yang tidak jujur, tidak suka menolong. Jangan mengaku cinta Yesus tetapi Anda dikenal sebagai teman kerja yang tidak bisa diandalkan. Lalu kau berdoa marah-marah sama Tuhan. “Di manakah pemeliharaan-Mu?...” Lalu muncullah rasa khawatirmu tentang hidup ini, maka doamu selalu menuntut apa yang kau perlukan dalam hidupmu. Maka kau melupakan prinsip yang Tuhan ajarkan: “Cari dahulu kerajaan Allah semuanya akan ditambahkan bagimu” (Matius 6: 33). Orang yang mencari kerajaan Allah adalah yang melakukan kehendak-kehendak Allah dalam hidupnya. Maka dia jujur, bisa diandalkan, rekan yang baik dan menyenangkan. Maka dengan sendirinya dia akan mendapatkan penghargaan, bukan?
Nikmati porsi masing-masing
Jadi, mencari kerajaan Allah itu musti diterjemahkan secara praktikal dalam hidup. Jangan dijadikan semacam ayat yang menyembunyikan kesulitan kita dan mencoba lari dan bersembunyi di balik itu. Itu membunuh tanggung jawab kita untuk hidup seperti apa yang Tuhan kehendaki dalam rangka mencari kerajaan itu.
Karena itu mari kita hidup seperti yang Tuhan kehendaki. Cari kerajaan-Nya itu, lakukan kehendak-Nya, jangan sampai salah langkah, salah kaprah. Oleh karena itulah harta yang ada di dalam hidup ini tidak boleh kita khawatirkan. Kekhawatiran terhadap harta atau hidup ini hanya menunjukkan kesalahpahaman kita tentang arti pemeliharaan Tuhan. Jadi karena itu, jangan kamu khawatir akan hidupmu, apa yang hendak kamu makan atau minum. Jangan khawatir akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup lebih penting dari makanan? Tubuh lebih penting dari pakaian, dan hidup kita dipelihara Tuhan.
Khawatirlah kalau hidupmu tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Khawatirlah kalau kamu bukan mencari kerajaan Tuhan, tetapi mencari kerajaanmu sendiri. Khawatirlah sekalipun dalam pencarian kerajaan itu saudara mempunyai banyak harta benda, karena harta benda itu bisa menjadi malapetaka. Kaya-miskin hanyalah dinamika dalam hidup yang harus disikapi dengan lapang dada. Yang kaya tidak besar kepala. Yang miskin tidak kecil hati, tetapi bagaimana menikmati masing-masing porsi yang Tuhan berikan pada kita. Karena tujuan utama kita bukan bagaimana kita bekerja untuk mendapatkan banyak harta tetapi bagaimana hidup memuliakan Tuhan.
Oleh karena itu tempatkanlah harta itu sebagai alat dalam kehidupan, bukan tujuan utama. Jangan pernah khawatir terhadap hal itu sekalipun manusia riskan atas hal itu, tetapi itulah perjuangan kita melawan rasa khawatir. Selama rasa khawatir itu kita biarkan bertumbuh berkembang bahkan menguasai kehidupan kita maka selama itu kita tidak akan pernah mengalami pertumbuhan iman yang utuh. Selama rasa khawatir itu melanda kehidupan maka selama itu pula kita tidak bisa apa-apa dalam membangun semangat keberimanan.
Karena itu belajarlah untuk membuang rasa khawatir itu dengan hidup bergantung pada Tuhan, bukan dengan menumpuk segala apa yang kau anggap bisa menjamin masa depanmu. Tidak ada yang salah dengan kekayaan. Yang salah sikap terhadap kekayaan. Tak ada yang salah dengan harta. Yang salah sikap terhadap harta itu. Jangan harta menjadi jaminan hidupmu, tetapi Tuhan. Tetapi kalau kau bilang Tuhan jaminan hidupmu, itu harus tampak benar-benar dalam aktivitasmu.
Jangan khawatir tentang apa yang akan kau makan, minum, pakai. Kekhawatiran tidak akan mengubah apa pun, tetapi bersyukurlah di dalam kekhawatiran yang sudah salah itu, toh Tuhan berbelas kasihan, mendidik membimbing menuntun kita. Karena itu mulailah dengan belajar mencari dulu kerajaan Allah supaya kau tidak terjebak dalam lilitan persoalan.
(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)
Oleh: Pdt Bigman Sirait
Info:
Jika Anda butuh:
1. Jasa Design Hotel, Villa, Spa, Resort, Landscape klik www.GunardiSaputra.com/Presiska atau hubungi Ardi di 08558827222
2.Peralatan makan Stainless Steel: Sendok Makan, Sendok Teh untuk usaha Anda (buka restoran atau catering) maupun untuk kegiatan promosi pemasaran Anda (pemberian hadiah atas produk dagangan Anda), hubungi: Ardi di 08558827222
3.Rekomendasi Saham klik www.GunardiSaputra.com
4.Promosi dengan Sendok Makan Stainless klik gl_trading.indonetwork.co.id
promosi Anda ya Sendok Makan atau Sendok Teh saja...
Showing posts with label Kotbah Bigman Sirait. Show all posts
Showing posts with label Kotbah Bigman Sirait. Show all posts
Monday, November 9, 2009
Thursday, October 22, 2009
BS: Koruptor, Tidak Takut akan Tuhan
BAGI orang yang sudah tidak punya rasa takut lagi pada Tuhan, berbuat dosa menjadi suatu kenikmatan. Jelas pula bahwa hati nuraninya sudah mati. Hati nurani yang mati tidak lagi mampu memahami apa yang menjadi kehendak Tuhan. Kita perlu menyadari betapa me-ngerikannya jika orang sudah tiba pada posisi seperti ini. Seharusnya, ketika melihat hal seperti itu, orang Kristen menjadi berbelas kasihan. Orang ini ada pada kondisi rawan dan sangat memba-hayakan. Di Roma 3: 9-20, Paulus menggambarkan seperti apa manusia yang jatuh ke dalam dosa itu.
Seseorang yang keberdosaan-nya sudah mencapai titik nadir, di mana dia tidak lagi takut pada Tuhan, akan melakukan per-buatan-perbuatan yang menge-rikan. Karena itu pertarungan orang Kristen yang benar itu tidak gampang. Karena kita akan menghadapi orang-orang yang kita benci. Orang-orang seperti ini secara kasat mata dibenci karena perbuatan-perbuatannya yang tidak baik, tetapi di sisi lain dia adalah orang yang harus diselamatkan. Bayangkan, betapa beratnya ketika Yesus harus mati di kayu salib menebus orang-orang seperti itu, dan itulah yang kita hadapi. Karena itu jangan memudah-mudahkan kekristenan. Kita tidak mungkin mengerjakannya kecuali dengan pertolongan Roh Kudus. Karena itu kita harus melengkapi diri untuk terus maju supaya di dalamnya nama Tuhan ditinggikan dan dimuliakan.
Apa yang terjadi dalam kehidupan, kita harus jeli memahami sehingga sebagai orang Kristen kita mampu menolong dan menyelamatkan banyak orang. Karena itu jangan pernah bermain-main dengan dosa. Dan jangan pernah menganggap remeh dosa. Kita sebagai orang percaya terpanggil untuk menolong mereka yang terjebak pada perangkap jahat itu, yang tidak berdaya melepaskan diri. Sebab mereka tidak lagi menghargai diri sendiri, mereka merusak dan menganiaya diri sendiri, entah dengan mengonsumsi obat-obatan atau dengan gaya hidup apa pun itu, mereka membuat dirinya tidak berharga.
Sangat menakutkan. Mereka menganggap bahwa apa yang dilakukan tidak salah. Bahkan makin jauh mereka akan menganggap bahwa orang yang tidak melakukan apa yang mereka lakukan, itu yang salah. Sehingga mereka tidak akan merusak dirinya sendiri saja, tetapi membawa orang lain untuk dirusak. Merusak orang menjadi bagian dari kegiatan orang yang tidak lagi takut akan Tuhan. Ini sama dengan penjual narkoba yang sadar betul bahwa memakai narkoba itu merusak. Ini juga sama dengan germo yang menipu anak-anak perawan dari desa untuk diperjualbelikan keperawanannya.
Mereka juga sama dengan para koruptor yang saking buas dan rakusnya, tak risih mengorupsi hak-hak orang miskin. Dana untuk korban bencana alam pun disunat. Tetapi di masyarakat bisa jadi mereka punya kesan terhormat. Dalam pergaulan sosial mereka seperti orang-orang baik. Mereka bermain seperti Robin Hood: mencuri di malam hari, membagi hasil curian di siang hari. Mereka tidak lagi takut terhadap Tuhan, sehingga bersandiwara pun sangat pandai. Siang seperti malaikat, malam mereka bejat. Siang berbuat kebaikan, malam berbuat kejahatan. Sangat mengerikan. Mereka tidak peduli pada apa yang terjadi, mereka hanya peduli apa yang mereka alami. Mereka tidak peduli apa yang Tuhan suka, mereka hanya peduli yang mereka suka. Mereka tidak peduli apa yang menggembirakan hati Tuhan, mereka hanya peduli yang memuaskan hawa nafsu mereka.
Orang seperti ini sudah beradaptasi dengan kegelapan bahkan menikmati kegelapan itu. Dia tidak lagi suka pada titik-titik yang terang. Mungkin kau mulai berjalan perlahan ke titik itu, segeralah berhenti. Kemurahan Tuhan menolongmu. Jika tidak, kau akan membunuh nuranimu. Orang-orang yang hati nuraninya sudah mati, yang terus menolak kuasa Roh Kudus, yang sudah menikmati perbuatan-perbuatan jahatnya, adalah mereka yang menjadikan ritual-ritual gereja hanya topeng saja. Mereka mencari keuntungan tanpa rasa salah, bahkan tersenyum di atas kejahatan yang mereka lakukan.
Saham orang tua
Orang-orang Kristen makin sulit untuk menyelamatkan orang-orang yang sudah tidak takut akan Tuhan, karena mereka menikmati keberdo-saan itu dengan amat sangat vulgar. Kaum homoseks misalnya, bahkan membangun komunitas-komunitas sebagai pembenaran atas dosa, tanpa sedikit pun rasa takut pada Tuhan dan keinginan berbalik kepada Tuhan. Bagi mereka, ukuran merekalah yang paling penting dan paling pas.
Oleh karena itu, perhatikan sekitarmu. Jangan biarkan rasa tidak takut akan Tuhan itu muncul dan bertumbuh. Jika sejak kecil anak-anak tidak diajar untuk takut akan Tuhan secara positif, bagaimana dia saat remaja? Dan apa yang bisa diharapkan setelah dia dewasa? Kalau mereka “hilang” itu merupakan separoh saham dari orang tua. Karena itu, wahai para orang tua, berdoalah untuk anak-anakmu supaya mereka terpelihara pada jalan yang Tuhan kehen-daki. Takut akan Tuhan bertumbuh dalam hidup mereka dan mereka men-dapat kebahagiaan.
Ketika engkau melihat tidak ada lagi rasa takut pada Tuhan pada diri se-seorang, tangisi dia, ber-doa buat dia. Coba bicara, semoga pada titik-titik terakhir dia terselamat-kan. Kalaupun tidak, paling tidak engkau sudah melakukan yang terbaik yang bisa kau lakukan, yaitu mengingatkan dia. Tetapi jangan lupa, contohkan bagaimana sebenarnya hidup yang benar itu.
Dunia sedang menuju kehan-curan. Persentase orang-orang yang tidak takut Tuhan semakin tinggi. Dengan kesadaran penuh mereka merusak diri, dengan sadar mereka melakukan korupsi, memperjualbeli-kan diri, dengan sadar mereka menjebak hidup orang lain untuk keuntungan diri sendiri. Mungkin Anda belum mampu melakukan hal yang baik, tapi minimal jangan sampai kehilangan rasa takut kepada Tuhan yang positif.
Kiranya Tuhan menolong dan memimpin kita. Selamat berpacu memenangkan jiwa. Tetapi awas, perhatikan dulu jiwa sendiri.
(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)
Oleh: Pdt Bigman Sirait
Info:
Jika Anda butuh:
1. Jasa Design Hotel, Villa, Spa, Resort, Landscape klik www.GunardiSaputra.com/Presiska atau hubungi Ardi di 08558827222
2.Peralatan makan Stainless Steel: Sendok Makan, Sendok Teh untuk usaha Anda (buka restoran atau catering) maupun untuk kegiatan promosi pemasaran Anda (pemberian hadiah atas produk dagangan Anda), hubungi: Ardi di 08558827222
3.Rekomendasi Saham klik www.GunardiSaputra.com
4.Promosi dengan Sendok Makan Stainless klik gl_trading.indonetwork.co.id
promosi Anda ya Sendok Makan atau Sendok Teh saja...
Seseorang yang keberdosaan-nya sudah mencapai titik nadir, di mana dia tidak lagi takut pada Tuhan, akan melakukan per-buatan-perbuatan yang menge-rikan. Karena itu pertarungan orang Kristen yang benar itu tidak gampang. Karena kita akan menghadapi orang-orang yang kita benci. Orang-orang seperti ini secara kasat mata dibenci karena perbuatan-perbuatannya yang tidak baik, tetapi di sisi lain dia adalah orang yang harus diselamatkan. Bayangkan, betapa beratnya ketika Yesus harus mati di kayu salib menebus orang-orang seperti itu, dan itulah yang kita hadapi. Karena itu jangan memudah-mudahkan kekristenan. Kita tidak mungkin mengerjakannya kecuali dengan pertolongan Roh Kudus. Karena itu kita harus melengkapi diri untuk terus maju supaya di dalamnya nama Tuhan ditinggikan dan dimuliakan.
Apa yang terjadi dalam kehidupan, kita harus jeli memahami sehingga sebagai orang Kristen kita mampu menolong dan menyelamatkan banyak orang. Karena itu jangan pernah bermain-main dengan dosa. Dan jangan pernah menganggap remeh dosa. Kita sebagai orang percaya terpanggil untuk menolong mereka yang terjebak pada perangkap jahat itu, yang tidak berdaya melepaskan diri. Sebab mereka tidak lagi menghargai diri sendiri, mereka merusak dan menganiaya diri sendiri, entah dengan mengonsumsi obat-obatan atau dengan gaya hidup apa pun itu, mereka membuat dirinya tidak berharga.
Sangat menakutkan. Mereka menganggap bahwa apa yang dilakukan tidak salah. Bahkan makin jauh mereka akan menganggap bahwa orang yang tidak melakukan apa yang mereka lakukan, itu yang salah. Sehingga mereka tidak akan merusak dirinya sendiri saja, tetapi membawa orang lain untuk dirusak. Merusak orang menjadi bagian dari kegiatan orang yang tidak lagi takut akan Tuhan. Ini sama dengan penjual narkoba yang sadar betul bahwa memakai narkoba itu merusak. Ini juga sama dengan germo yang menipu anak-anak perawan dari desa untuk diperjualbelikan keperawanannya.
Mereka juga sama dengan para koruptor yang saking buas dan rakusnya, tak risih mengorupsi hak-hak orang miskin. Dana untuk korban bencana alam pun disunat. Tetapi di masyarakat bisa jadi mereka punya kesan terhormat. Dalam pergaulan sosial mereka seperti orang-orang baik. Mereka bermain seperti Robin Hood: mencuri di malam hari, membagi hasil curian di siang hari. Mereka tidak lagi takut terhadap Tuhan, sehingga bersandiwara pun sangat pandai. Siang seperti malaikat, malam mereka bejat. Siang berbuat kebaikan, malam berbuat kejahatan. Sangat mengerikan. Mereka tidak peduli pada apa yang terjadi, mereka hanya peduli apa yang mereka alami. Mereka tidak peduli apa yang Tuhan suka, mereka hanya peduli yang mereka suka. Mereka tidak peduli apa yang menggembirakan hati Tuhan, mereka hanya peduli yang memuaskan hawa nafsu mereka.
Orang seperti ini sudah beradaptasi dengan kegelapan bahkan menikmati kegelapan itu. Dia tidak lagi suka pada titik-titik yang terang. Mungkin kau mulai berjalan perlahan ke titik itu, segeralah berhenti. Kemurahan Tuhan menolongmu. Jika tidak, kau akan membunuh nuranimu. Orang-orang yang hati nuraninya sudah mati, yang terus menolak kuasa Roh Kudus, yang sudah menikmati perbuatan-perbuatan jahatnya, adalah mereka yang menjadikan ritual-ritual gereja hanya topeng saja. Mereka mencari keuntungan tanpa rasa salah, bahkan tersenyum di atas kejahatan yang mereka lakukan.
Saham orang tua
Orang-orang Kristen makin sulit untuk menyelamatkan orang-orang yang sudah tidak takut akan Tuhan, karena mereka menikmati keberdo-saan itu dengan amat sangat vulgar. Kaum homoseks misalnya, bahkan membangun komunitas-komunitas sebagai pembenaran atas dosa, tanpa sedikit pun rasa takut pada Tuhan dan keinginan berbalik kepada Tuhan. Bagi mereka, ukuran merekalah yang paling penting dan paling pas.
Oleh karena itu, perhatikan sekitarmu. Jangan biarkan rasa tidak takut akan Tuhan itu muncul dan bertumbuh. Jika sejak kecil anak-anak tidak diajar untuk takut akan Tuhan secara positif, bagaimana dia saat remaja? Dan apa yang bisa diharapkan setelah dia dewasa? Kalau mereka “hilang” itu merupakan separoh saham dari orang tua. Karena itu, wahai para orang tua, berdoalah untuk anak-anakmu supaya mereka terpelihara pada jalan yang Tuhan kehen-daki. Takut akan Tuhan bertumbuh dalam hidup mereka dan mereka men-dapat kebahagiaan.
Ketika engkau melihat tidak ada lagi rasa takut pada Tuhan pada diri se-seorang, tangisi dia, ber-doa buat dia. Coba bicara, semoga pada titik-titik terakhir dia terselamat-kan. Kalaupun tidak, paling tidak engkau sudah melakukan yang terbaik yang bisa kau lakukan, yaitu mengingatkan dia. Tetapi jangan lupa, contohkan bagaimana sebenarnya hidup yang benar itu.
Dunia sedang menuju kehan-curan. Persentase orang-orang yang tidak takut Tuhan semakin tinggi. Dengan kesadaran penuh mereka merusak diri, dengan sadar mereka melakukan korupsi, memperjualbeli-kan diri, dengan sadar mereka menjebak hidup orang lain untuk keuntungan diri sendiri. Mungkin Anda belum mampu melakukan hal yang baik, tapi minimal jangan sampai kehilangan rasa takut kepada Tuhan yang positif.
Kiranya Tuhan menolong dan memimpin kita. Selamat berpacu memenangkan jiwa. Tetapi awas, perhatikan dulu jiwa sendiri.
(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)
Oleh: Pdt Bigman Sirait
Info:
Jika Anda butuh:
1. Jasa Design Hotel, Villa, Spa, Resort, Landscape klik www.GunardiSaputra.com/Presiska atau hubungi Ardi di 08558827222
2.Peralatan makan Stainless Steel: Sendok Makan, Sendok Teh untuk usaha Anda (buka restoran atau catering) maupun untuk kegiatan promosi pemasaran Anda (pemberian hadiah atas produk dagangan Anda), hubungi: Ardi di 08558827222
3.Rekomendasi Saham klik www.GunardiSaputra.com
4.Promosi dengan Sendok Makan Stainless klik gl_trading.indonetwork.co.id
promosi Anda ya Sendok Makan atau Sendok Teh saja...
BS: Cara Setan Tawarkan Kesempatan
DALAM beberapa edisi lalu kita membahas topik tentang takut akan Tuhan. Kini kita coba membahas tentang takut pada setan. Takut pada setan, bukan sifat orang beriman. Takut pada setan justru suatu tindakan melawan Tuhan. Takut pada setan membuat kita diperbudaknya. Budak setan bisa menjadi tukang pukul yang sangat menakutkan. Uniknya, tukang pukul yang kerjanya menghajar orang, merasa diri pemberani, justru mengaku tidak takut pada setan. Ini salah, sebab pada dasarnya dia tunduk pada setan, tetapi kesadaran itu diputarbalikkan dengan mende-monstrasikan keberaniannya memukul dan menghancurkan orang sehingga dia merasa sombong dan paling hebat. Padahal dia diperbudak setan.
Dalam Yakobus 4: 7-8 kita disuruh melawan iblis dan mendekatkan diri pada Allah. Maka takutlah kepada Tuhan dalam arti positif. Kita adalah anak-anak Tuhan yang sudah mengenal Tuhan. Karena itu tidak ada ruang yang membuat kita takut pada setan hingga berkompromi terhadap anjuran setan. Dengan menyadari posisi sebagai orang yang kenal Tuhan, kita bisa memainkan peran secara utuh sebagai orang yang tidak takut pada setan. Sebab hanya orang yang kenal Tuhanlah yang tidak takut setan.
Bagaimana setan bekerja? Pertama: setan akan membangun rasa tidak pasti dalam hidup. Karena hidup ini tidak pasti, maka setan berkata bahwa kita harus punya uang banyak. Maka korupsilah, babat lawan-lawanmu, karena mereka berbahaya. Manusia memang butuh ke-pastian, dan setan mengobralnya. Kenikmatan-kenikmatan kosong diberikan.
Ketidakpastian itu adalah musuh kita. Karena itu datanglah kepada Tuhan karena hanya di dalam Dia-lah ada kepastian. Jangan beli barang palsu dari setan. Takut akan Tuhanlah yang memberikan kepastian, bukan saja di dalam hidup ini bahkan nanti di balik kehidupan itu, yakni kematian, misteri yang kemudian menjadi tampak nyata dan terang di dalam kehidupan.
Kedua, setan menawarkan relativisme. Setan menawarkan agar kita menghindar dari kemutlakan. Relativisme adalah satu paham yang mengatakan tidak ada yang mutlak, termasuk Alkitab, Firman Tuhan. Menurut relativisme, kebenaran itu relatif: hari ini bisa benar, besok tidak. Bagi relativisme, gereja bisa benar, tetapi suatu waktu bisa salah. Menurut relativisme, gereja benar karena mewariskan pemikiran-pemikiran hebat. Tapi gereja salah waktu membunuh ilmuwan Galileo Galilei, karena mengatakan bumi ini berputar. Memang waktu itu ada keyakinan bahwa matahari yang berputar mengitari bumi. Karena waktu itu ada pemahaman bumi itu bukan bulat tetapi setengah lingkar. Gereja yang sangat berkuasa waktu itu, membunuh Galileo yang teorinya terbukti benar.
Orang yang tidak mau takut kepada Tuhan akan tunduk kepada setan, dan setan akan menawarkan relativisme ini sehingga tidak ada kemutlakan. Jadi Anda bisa berbuat dosa. Dan dosa itu bisa benar, bisa salah, tergantung tatanan dan ukuran yang diciptakan. Dalam relativisme, ukuran membunuh itu sangat relatif dan sangat situasional. Maka membunuh orang yang brengsek bisa dibenarkan. Mencuri, belum tentu dosa, karena tergantung situasi. Daripada mati kelaparan, mencuri jadi boleh, sah atas dasar argumen tadi. Itulah relativisme yang harus kita lawan!
Lawan relativisme!
Jangan pernah mencuri karena alasan lapar, karena kita percaya betul bahwa orang yang takut akan Tuhan akan diperlihara dengan cara-Nya yang ajaib. Karena itu jangan takut kepada setan. Lawan relativisme, bangunlah struktur kebenaran kemutlakan, dan taklukkan dirimu ke sana. Dan kemutlakan itu adalah Firman Tuhan itu. Kadang, melakukan ajaran Tuhan itu berat. Bayangkan, kita disuruh berdoa buat musuh. Padahal kita ingin menghajar dan menghabisi musuh, tapi firman Tuhan menyuruh kita memberkati musuh. Sungguh sulit. Maunya kita menangkap dan hancurkan musuh. Itu anjuran setan. Semangat takut akan Tuhan harus dikembangkan yang membuat kita berpikir ratusan kali kalau mau berbuat dosa. Dan akhirnya kita selamat dengan tidak berbuat dosa, karena tidak takut kepada setan yang menawarkan berbagai kemungkinan.
Yang ketiga setan juga menawarkan kesempatan, seakan-akan hanya dengan melakukan apa yang ditawarkan setanlah kita akan mendapatkan kesempatan. Dengan korupsi kita akan mendapat kesempatan kaya. Dengan telikung sana-sini, kita akan punya kesempatan menduduki kursi jabatan. Kaya, punya jabatan tinggi, memang tidak salah, tetapi bagaimana cara meraih dan menjalaninya. Maka setan akan menawarkan berbagai kesempatan, bahkan termasuk pesta pora dalam dosa. Seakan-akan kalau tidak ikut itu kita akan habis.
Mungkin kesempatan jauh darimu. Kejujuran mungkin membuatmu disingkirkan, tidak disukai. Tetapi percayalah, Tuhan pasti menolong, menuntun dan membela. Bagaimana mendemonstrasikan itu sebagai orang yang mengenal Tuhan, itu perlu kita bangun. Jadi, jangan takut pada setan yang datang menghimpit dengan relativisme, atau menggoda dengan kesempatan-kesempatan. Ketika kita merasa takut akan hari esok, takut sakit, itu wajar sebagai manusia. Tetapi Tuhan berkata: “Jangan takut, serahkan takutmu kepada-Ku. Serahkan khawatirmu kepada-Ku.”
Takut dan khawatir yang dipelihara akan membunuh keberimanan, karena membuat setan tumbuh subur dalam hidup kita. Karena itulah kita perlu bertarung seperti yang Tuhan kehendaki sehingga hidup kita berkemenangan, hanya untuk memuji dan memuliakan Dia. Jangan hina dirimu dengan takut pada setan. Dengan takut pada setan justru kau mengatakan bahwa Tuhan tidak hidup. Lawan setan itu, maka bahagialah hidupmu karena kau merdeka.
(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)
Oleh: Pdt Bigman Sirait
Info:
Jika Anda butuh:
1. Jasa Design Hotel, Villa, Spa, Resort, Landscape klik www.GunardiSaputra.com/Presiska atau hubungi Ardi di 08558827222
2.Peralatan makan Stainless Steel: Sendok Makan, Sendok Teh untuk usaha Anda (buka restoran atau catering) maupun untuk kegiatan promosi pemasaran Anda (pemberian hadiah atas produk dagangan Anda), hubungi: Ardi di 08558827222
3.Rekomendasi Saham klik www.GunardiSaputra.com
4.Promosi dengan Sendok Makan Stainless klik gl_trading.indonetwork.co.id
promosi Anda ya Sendok Makan atau Sendok Teh saja...
Dalam Yakobus 4: 7-8 kita disuruh melawan iblis dan mendekatkan diri pada Allah. Maka takutlah kepada Tuhan dalam arti positif. Kita adalah anak-anak Tuhan yang sudah mengenal Tuhan. Karena itu tidak ada ruang yang membuat kita takut pada setan hingga berkompromi terhadap anjuran setan. Dengan menyadari posisi sebagai orang yang kenal Tuhan, kita bisa memainkan peran secara utuh sebagai orang yang tidak takut pada setan. Sebab hanya orang yang kenal Tuhanlah yang tidak takut setan.
Bagaimana setan bekerja? Pertama: setan akan membangun rasa tidak pasti dalam hidup. Karena hidup ini tidak pasti, maka setan berkata bahwa kita harus punya uang banyak. Maka korupsilah, babat lawan-lawanmu, karena mereka berbahaya. Manusia memang butuh ke-pastian, dan setan mengobralnya. Kenikmatan-kenikmatan kosong diberikan.
Ketidakpastian itu adalah musuh kita. Karena itu datanglah kepada Tuhan karena hanya di dalam Dia-lah ada kepastian. Jangan beli barang palsu dari setan. Takut akan Tuhanlah yang memberikan kepastian, bukan saja di dalam hidup ini bahkan nanti di balik kehidupan itu, yakni kematian, misteri yang kemudian menjadi tampak nyata dan terang di dalam kehidupan.
Kedua, setan menawarkan relativisme. Setan menawarkan agar kita menghindar dari kemutlakan. Relativisme adalah satu paham yang mengatakan tidak ada yang mutlak, termasuk Alkitab, Firman Tuhan. Menurut relativisme, kebenaran itu relatif: hari ini bisa benar, besok tidak. Bagi relativisme, gereja bisa benar, tetapi suatu waktu bisa salah. Menurut relativisme, gereja benar karena mewariskan pemikiran-pemikiran hebat. Tapi gereja salah waktu membunuh ilmuwan Galileo Galilei, karena mengatakan bumi ini berputar. Memang waktu itu ada keyakinan bahwa matahari yang berputar mengitari bumi. Karena waktu itu ada pemahaman bumi itu bukan bulat tetapi setengah lingkar. Gereja yang sangat berkuasa waktu itu, membunuh Galileo yang teorinya terbukti benar.
Orang yang tidak mau takut kepada Tuhan akan tunduk kepada setan, dan setan akan menawarkan relativisme ini sehingga tidak ada kemutlakan. Jadi Anda bisa berbuat dosa. Dan dosa itu bisa benar, bisa salah, tergantung tatanan dan ukuran yang diciptakan. Dalam relativisme, ukuran membunuh itu sangat relatif dan sangat situasional. Maka membunuh orang yang brengsek bisa dibenarkan. Mencuri, belum tentu dosa, karena tergantung situasi. Daripada mati kelaparan, mencuri jadi boleh, sah atas dasar argumen tadi. Itulah relativisme yang harus kita lawan!
Lawan relativisme!
Jangan pernah mencuri karena alasan lapar, karena kita percaya betul bahwa orang yang takut akan Tuhan akan diperlihara dengan cara-Nya yang ajaib. Karena itu jangan takut kepada setan. Lawan relativisme, bangunlah struktur kebenaran kemutlakan, dan taklukkan dirimu ke sana. Dan kemutlakan itu adalah Firman Tuhan itu. Kadang, melakukan ajaran Tuhan itu berat. Bayangkan, kita disuruh berdoa buat musuh. Padahal kita ingin menghajar dan menghabisi musuh, tapi firman Tuhan menyuruh kita memberkati musuh. Sungguh sulit. Maunya kita menangkap dan hancurkan musuh. Itu anjuran setan. Semangat takut akan Tuhan harus dikembangkan yang membuat kita berpikir ratusan kali kalau mau berbuat dosa. Dan akhirnya kita selamat dengan tidak berbuat dosa, karena tidak takut kepada setan yang menawarkan berbagai kemungkinan.
Yang ketiga setan juga menawarkan kesempatan, seakan-akan hanya dengan melakukan apa yang ditawarkan setanlah kita akan mendapatkan kesempatan. Dengan korupsi kita akan mendapat kesempatan kaya. Dengan telikung sana-sini, kita akan punya kesempatan menduduki kursi jabatan. Kaya, punya jabatan tinggi, memang tidak salah, tetapi bagaimana cara meraih dan menjalaninya. Maka setan akan menawarkan berbagai kesempatan, bahkan termasuk pesta pora dalam dosa. Seakan-akan kalau tidak ikut itu kita akan habis.
Mungkin kesempatan jauh darimu. Kejujuran mungkin membuatmu disingkirkan, tidak disukai. Tetapi percayalah, Tuhan pasti menolong, menuntun dan membela. Bagaimana mendemonstrasikan itu sebagai orang yang mengenal Tuhan, itu perlu kita bangun. Jadi, jangan takut pada setan yang datang menghimpit dengan relativisme, atau menggoda dengan kesempatan-kesempatan. Ketika kita merasa takut akan hari esok, takut sakit, itu wajar sebagai manusia. Tetapi Tuhan berkata: “Jangan takut, serahkan takutmu kepada-Ku. Serahkan khawatirmu kepada-Ku.”
Takut dan khawatir yang dipelihara akan membunuh keberimanan, karena membuat setan tumbuh subur dalam hidup kita. Karena itulah kita perlu bertarung seperti yang Tuhan kehendaki sehingga hidup kita berkemenangan, hanya untuk memuji dan memuliakan Dia. Jangan hina dirimu dengan takut pada setan. Dengan takut pada setan justru kau mengatakan bahwa Tuhan tidak hidup. Lawan setan itu, maka bahagialah hidupmu karena kau merdeka.
(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)
Oleh: Pdt Bigman Sirait
Info:
Jika Anda butuh:
1. Jasa Design Hotel, Villa, Spa, Resort, Landscape klik www.GunardiSaputra.com/Presiska atau hubungi Ardi di 08558827222
2.Peralatan makan Stainless Steel: Sendok Makan, Sendok Teh untuk usaha Anda (buka restoran atau catering) maupun untuk kegiatan promosi pemasaran Anda (pemberian hadiah atas produk dagangan Anda), hubungi: Ardi di 08558827222
3.Rekomendasi Saham klik www.GunardiSaputra.com
4.Promosi dengan Sendok Makan Stainless klik gl_trading.indonetwork.co.id
promosi Anda ya Sendok Makan atau Sendok Teh saja...
BS: Ketika Tuhan hanya dalam Omongan
ADA orang berpikir dengan kemampuan manusiawinya, artinya murni pada diri dan hakekat dia. Ada pula yang berpikir dengan pertolongan Tuhan. Berpikir dengan kemampuan manusiawi, adalah bagaimana orang-orang berpikir dengan cara berpikirnya, baik dia beragama atau tidak beragama (rasional). Orang tidak beragama (ateis) berpikir: tidak ada Allah. Mazmur 14: 1 berkata, “Orang bebal berkata tidak ada Tuhan”. Itu menggambarkan bagaimana orang ateis itu membuat kesimpulan atas analisis dan pengertian bahwa Allah tidak ada. Hidup dia adalah dia. Bagaimana dia berjalan, itu adalah keputusan dia. Maka bagi orang ateis, Allah itu omong kosong. Bagi dia, apa yang ada dan kelihatan, itulah yang ada. Jadi Allah itu tidak ada masuk dalam kamusnya.
Orang-orang beragama sebagai satu institusi agama, mereka berpikir dengan cara yang mereka yakini juga. Mereka percaya ada Allah, tetapi tergantung bagai-mana mereka merumuskannya. Ini cara berpikir orang beragama, yang kemudian mengkudeta Allah itu sendiri. Itu sebab kalau agama sebagai institusi, yang muncul adalah radikalisme yang mengerikan. Ada yang bilang mereka itu beragama tapi tidak bertuhan. Tuhan itu cuma diomongkan tetapi tidak tampak di dalam kehidupannya. Sehingga atas nama agama orang-orang ini bisa membenarkan dirinya, menyakiti orang lain. Dia percaya Tuhan, seperti apa dia meyakininya. Anda pun bisa begitu. Anda bisa mengaku Kristen, membaca Alkitab. Tetapi siapa Yesus? Nanti dulu. Bisa jadi berbeda. Mungkin Anda mengenal Yesus berdasarkan pengalaman atau kemampuan memahami, atau yang cocok dengan selera. Sehingga menerjemahkan siapa Yesus itu bisa macam-macam.
Sementara orang yang berpikir rasional selalu menganggap bahwa apa yang masuk akal, itulah yang benar. Dia tidak berbicara soal ada Tuhan atau tidak. Tuhan, kalau masuk akal, oke-oke saja. Jadi ini seperti antara orang beragama dan tidak beragama. Jadi, dia bisa beragama, tapi juga bisa tidak beragama. Jika Tuhan masuk akal, berarti Tuhan ada. Mereka tidak bilang Tuhan tidak ada, tetapi tidak mau terima kalau yang dibicarakan itu supranatural. Bahwa Tuhan bisa membangkitkan orang mati, ada mukjizat, kuasa Tuhan, mereka tidak bisa terima, karena tidak masuk akal mereka.
Kita sering salah memahami kalau orang beragama berpikirnya sudah sesuai kehendak Tuhan. Yang tidak beragama itu kurang ajar. Belum tentu. Itu sebab sering kali kita melihat sesuatu yang chaos, rancu, kacau, karena melihat orang tak beragama kok malah lebih lurus pikirannya dibanding orang beragama. Artinya tingkah lakunya, pola hidupnya, perilakunya. Kita bingung, kok mutu orang tidak beragama lebih baik dibanding orang beragama. Kenapa bisa begini? Jadi jangan kaget menghadapi kenyataan kehidupan kekristenan yang tidak seperti Anda bayangkan. Harus hati-hati. Orang beragama pun bisa berpikir dengan kemampuan dirinya. Dia memperlakukan Alkitab, menerjemahkan seperti apa maunya. Jadi, bukan apa kata Alkitab terhadap saya, tetapi apa yang saya mau, yang harus didukung Alkitab.
Pikiran baru
Lalu bagaimana orang yang berpikir dengan pertolongan Tuhan. Ia berpikir dengan pikiran baru. Paulus berkata bahwa kita manusia baru diperbaharui, roh dan pikiran kita. Terminologi ini harus dipahami baik-baik. Berpikir dengan pikiran yang baru itu, maksudnya bukan memori kita yang baru, dan yang lama yang dihapus semua. Tetapi arah pemikiran kita, atau konsentrasi pemikiran kita kepada kebenaran. Kualitas berpikir itu sudah diarahkan kepada kebenaran. Dulu, sesuatu yang tidak benar tapi kita pikir baik, sekarang kita tahu itu tidak baik. Ini karena berpikir kita sudah dipengaruhi kebenaran, sudah dikuasai kebenaran. Kemampuan berpikir benar itu bukan pula karena kemampuan IQ bertambah. Tapi itulah yang kita sebut sebagai kemurahan Tuhan. Di mana pemberdayaan daripada kebenaran membuat kita bisa memilah-milah mana yang sesuai dan yang tidak sesuai dengan kebenaran itu. Maka orang bodoh pun tidak berarti tidak bisa mengerti kebenaran. Karena kebenaran adalah sebuah anugerah, kekuatan yang Tuhan berikan kepada orang yang diperkenan-Nya.
Berpikir dengan pertolongan Tuhan itu berpikir tentang yang di atas, bukan yang di bumi. Dalam Kolose: 3 Paulus mengatakan “Supaya kita memikirkan perkara-perkara yang di atas, bukan yang di bumi”. Artinya, Paulus sedang mengajarkan kita tentang orientasi, arah pikir itu, bukan lagi memikirkan kehidupan di bumi yang serba terbatas, sehingga berhitung apa yang menguntungkan dan merugikan. Tetapi sekarang kita dilatih untuk hidup memikiran hal-hal yang di surga, apa yang Tuhan kehendaki. Bukan berarti kita meninggalkan bumi lalu naik ke surga, tetapi kualitas pemikiran itu, sehinga seluruh nilai-nilai surgawi itu memenuhi pemikiran kita. Apa pun yang mau kita putuskan hanya dalam kerangka yang utuh ingin memuliakan Tuhan. Sehingga semua itu menjadi berubah. Dengan pertolongan Tuhan kita dibawa berubah, mengenal Tuhan.
Orang rasional, begitu mengenal Tuhan, dia kaget, dan mengatakan: “Sekarang saya baru tahu bahwa Tuhan bisa melakukan apa yang tidak masuk dalam akal saya, yang melewati akal saya, karena Tuhan lebih hebat dari akal saya”. Maka dia menaklukkan rasionya ke dalam atau ke bawah kebenaran. Perubahan atau perpindahan seperti ini sering terjadi di dalam kehidupan kita. Tetapi sebaliknya kalau kita tidak menyadari nilai-nilai seperti ini kita bisa kebingungan. Sekarang menjadi penting, bagaimana seharusnya kita mengalami pembelajaran dalam hidup sehingga mengenal dan mengerti kebenaran itu.
Kita harus memeriksa diri. Jangan habiskan waktu untuk memeriksa orang lain, karena Tuhan tidak memberi kita hak wewenang untuk menghakimi. Tetapi kita harus memeriksa diri kita seperti Paulus bilang pada Timotius: “Awasi dirimu, awasi pula ajaranmu”. Kiranya ini menjadi perenungan bagi kita untuk terus memperdalam bagaimana kita seharusnya mampu berpikir benar.
(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P. Tan)
Oleh: Pdt Bigman Sirait
Info:
Jika Anda butuh:
1. Jasa Design Hotel, Villa, Spa, Resort, Landscape klik www.GunardiSaputra.com/Presiska atau hubungi Ardi di 08558827222
2.Peralatan makan Stainless Steel: Sendok Makan, Sendok Teh untuk usaha Anda (buka restoran atau catering) maupun untuk kegiatan promosi pemasaran Anda (pemberian hadiah atas produk dagangan Anda), hubungi: Ardi di 08558827222
3.Rekomendasi Saham klik www.GunardiSaputra.com
4.Promosi dengan Sendok Makan Stainless klik gl_trading.indonetwork.co.id
promosi Anda ya Sendok Makan atau Sendok Teh saja...
Orang-orang beragama sebagai satu institusi agama, mereka berpikir dengan cara yang mereka yakini juga. Mereka percaya ada Allah, tetapi tergantung bagai-mana mereka merumuskannya. Ini cara berpikir orang beragama, yang kemudian mengkudeta Allah itu sendiri. Itu sebab kalau agama sebagai institusi, yang muncul adalah radikalisme yang mengerikan. Ada yang bilang mereka itu beragama tapi tidak bertuhan. Tuhan itu cuma diomongkan tetapi tidak tampak di dalam kehidupannya. Sehingga atas nama agama orang-orang ini bisa membenarkan dirinya, menyakiti orang lain. Dia percaya Tuhan, seperti apa dia meyakininya. Anda pun bisa begitu. Anda bisa mengaku Kristen, membaca Alkitab. Tetapi siapa Yesus? Nanti dulu. Bisa jadi berbeda. Mungkin Anda mengenal Yesus berdasarkan pengalaman atau kemampuan memahami, atau yang cocok dengan selera. Sehingga menerjemahkan siapa Yesus itu bisa macam-macam.
Sementara orang yang berpikir rasional selalu menganggap bahwa apa yang masuk akal, itulah yang benar. Dia tidak berbicara soal ada Tuhan atau tidak. Tuhan, kalau masuk akal, oke-oke saja. Jadi ini seperti antara orang beragama dan tidak beragama. Jadi, dia bisa beragama, tapi juga bisa tidak beragama. Jika Tuhan masuk akal, berarti Tuhan ada. Mereka tidak bilang Tuhan tidak ada, tetapi tidak mau terima kalau yang dibicarakan itu supranatural. Bahwa Tuhan bisa membangkitkan orang mati, ada mukjizat, kuasa Tuhan, mereka tidak bisa terima, karena tidak masuk akal mereka.
Kita sering salah memahami kalau orang beragama berpikirnya sudah sesuai kehendak Tuhan. Yang tidak beragama itu kurang ajar. Belum tentu. Itu sebab sering kali kita melihat sesuatu yang chaos, rancu, kacau, karena melihat orang tak beragama kok malah lebih lurus pikirannya dibanding orang beragama. Artinya tingkah lakunya, pola hidupnya, perilakunya. Kita bingung, kok mutu orang tidak beragama lebih baik dibanding orang beragama. Kenapa bisa begini? Jadi jangan kaget menghadapi kenyataan kehidupan kekristenan yang tidak seperti Anda bayangkan. Harus hati-hati. Orang beragama pun bisa berpikir dengan kemampuan dirinya. Dia memperlakukan Alkitab, menerjemahkan seperti apa maunya. Jadi, bukan apa kata Alkitab terhadap saya, tetapi apa yang saya mau, yang harus didukung Alkitab.
Pikiran baru
Lalu bagaimana orang yang berpikir dengan pertolongan Tuhan. Ia berpikir dengan pikiran baru. Paulus berkata bahwa kita manusia baru diperbaharui, roh dan pikiran kita. Terminologi ini harus dipahami baik-baik. Berpikir dengan pikiran yang baru itu, maksudnya bukan memori kita yang baru, dan yang lama yang dihapus semua. Tetapi arah pemikiran kita, atau konsentrasi pemikiran kita kepada kebenaran. Kualitas berpikir itu sudah diarahkan kepada kebenaran. Dulu, sesuatu yang tidak benar tapi kita pikir baik, sekarang kita tahu itu tidak baik. Ini karena berpikir kita sudah dipengaruhi kebenaran, sudah dikuasai kebenaran. Kemampuan berpikir benar itu bukan pula karena kemampuan IQ bertambah. Tapi itulah yang kita sebut sebagai kemurahan Tuhan. Di mana pemberdayaan daripada kebenaran membuat kita bisa memilah-milah mana yang sesuai dan yang tidak sesuai dengan kebenaran itu. Maka orang bodoh pun tidak berarti tidak bisa mengerti kebenaran. Karena kebenaran adalah sebuah anugerah, kekuatan yang Tuhan berikan kepada orang yang diperkenan-Nya.
Berpikir dengan pertolongan Tuhan itu berpikir tentang yang di atas, bukan yang di bumi. Dalam Kolose: 3 Paulus mengatakan “Supaya kita memikirkan perkara-perkara yang di atas, bukan yang di bumi”. Artinya, Paulus sedang mengajarkan kita tentang orientasi, arah pikir itu, bukan lagi memikirkan kehidupan di bumi yang serba terbatas, sehingga berhitung apa yang menguntungkan dan merugikan. Tetapi sekarang kita dilatih untuk hidup memikiran hal-hal yang di surga, apa yang Tuhan kehendaki. Bukan berarti kita meninggalkan bumi lalu naik ke surga, tetapi kualitas pemikiran itu, sehinga seluruh nilai-nilai surgawi itu memenuhi pemikiran kita. Apa pun yang mau kita putuskan hanya dalam kerangka yang utuh ingin memuliakan Tuhan. Sehingga semua itu menjadi berubah. Dengan pertolongan Tuhan kita dibawa berubah, mengenal Tuhan.
Orang rasional, begitu mengenal Tuhan, dia kaget, dan mengatakan: “Sekarang saya baru tahu bahwa Tuhan bisa melakukan apa yang tidak masuk dalam akal saya, yang melewati akal saya, karena Tuhan lebih hebat dari akal saya”. Maka dia menaklukkan rasionya ke dalam atau ke bawah kebenaran. Perubahan atau perpindahan seperti ini sering terjadi di dalam kehidupan kita. Tetapi sebaliknya kalau kita tidak menyadari nilai-nilai seperti ini kita bisa kebingungan. Sekarang menjadi penting, bagaimana seharusnya kita mengalami pembelajaran dalam hidup sehingga mengenal dan mengerti kebenaran itu.
Kita harus memeriksa diri. Jangan habiskan waktu untuk memeriksa orang lain, karena Tuhan tidak memberi kita hak wewenang untuk menghakimi. Tetapi kita harus memeriksa diri kita seperti Paulus bilang pada Timotius: “Awasi dirimu, awasi pula ajaranmu”. Kiranya ini menjadi perenungan bagi kita untuk terus memperdalam bagaimana kita seharusnya mampu berpikir benar.
(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P. Tan)
Oleh: Pdt Bigman Sirait
Info:
Jika Anda butuh:
1. Jasa Design Hotel, Villa, Spa, Resort, Landscape klik www.GunardiSaputra.com/Presiska atau hubungi Ardi di 08558827222
2.Peralatan makan Stainless Steel: Sendok Makan, Sendok Teh untuk usaha Anda (buka restoran atau catering) maupun untuk kegiatan promosi pemasaran Anda (pemberian hadiah atas produk dagangan Anda), hubungi: Ardi di 08558827222
3.Rekomendasi Saham klik www.GunardiSaputra.com
4.Promosi dengan Sendok Makan Stainless klik gl_trading.indonetwork.co.id
promosi Anda ya Sendok Makan atau Sendok Teh saja...
BS: Mulut Orang Benar, Sumber Kehidupan
BIBIR orang benar menggembalakan banyak orang, tetapi orang bodoh mati karena kurang akal budi (Amsal 10: 21). Mulut orang benar adalah sumber kehidupan, tetapi mulut orang fasik menyembunyikan kelaliman (ayat 11).
Orang benar dan orang bodoh merupakan perbanding-an yang sangat luar biasa. Jika dikatakan bibir orang benar menggembalakan orang banyak, maka bibir orang benar identik dengan kebenaran itu, dan selalu menghasilkan sebuah kehidupan. Bibir orang benar mendatangkan kehidupan, karena orang mempunyai kehi-dupan akibat kebenaran. Kebenar-an menciptakan sebuah ketenang-an, penghargaan, sehingga kebe-naran menghidupkan hidup itu, dan memberi makna atau nilai pada hidup itu. Maka kebenaran itu men-jadi sesuatu yang luar biasa karena ia mengumpulkan banyak orang.
Kebenaran memberikan kehi-dupan, maka kebenaran itu juga memberikan pengharapan. Kebenaran memberikan nilai-nilai yang tinggi dalam kehidupan. Hidup menjadi bermakna ketika ada kebenaran. Tetapi sebalik-nya ketika tidak ada kebenaran hidup tidak bermakna, karena di sana ada penipuan, kebencian, sifat jelek. Lalu buat apa kita hidup seperti itu? Bukankah setiap orang ingin hidup dalam ketenangan? Bukankah kita ingin hidup dalam kebahagiaan, pengharapan dan kepastian? Dan mimpi-mimpi itu hanya bisa diwujudkan jikalau ada kebe-naran, dan kebenaran menjadi prinsip hidup kita. Yang lucu adalah, kita mau hidup bahagia, benar, punya pengharapan, tetapi tidak mau membangun kebenaran.
Bagaimana kita mendapatkan kehidupan atau memberi nilai pada kehidupan itu? Tanpa kebenaran, hidup bukan lagi hidup, tetapi hidup sudah kehi-langan makna dan pengharapan-nya. Karena tidak ada kebenar-an, sehingga orang hidup pun tidak mau lama-lama hidup. Kepahitan kepedihan ditimbul-kan oleh ketidakbenaran. Kepa-hitan kepedihan itu pula yang terjadi ketika tidak ada lagi kebenaran. Sebaliknya, kebenar-an memberikan kehidupan dan pengharapan. Kiranya itu yang kita bangun dan pertahankan.
Karena kebenaran didatangkan atau diberikan oleh Tuhan, maka segala kebenaran adalah kebenaran Tuhan. Secara umum Tuhan memberikan kebenaran kepada setiap orang (common grace) dalam pengertian memahami apa yang benar. Sekalipun secara keselamatan Tuhan memberikan kepada orang yang diperkenan-Nya.
Kebenaran menjadi satu aturan, patron yang harus kita nikmati dalam kehidupan. Maka itu kita jalani bersama. Kebenaran itulah yang memberi kita rasa kemerdekaan: merdeka dari rasa takut, tertekan, berbagai perasaan-perasaan yang mematikan keindahan kehidupan. Kebenaran yang memberi warna luar biasa itu penting dalam kehidupan. Maka kebenaran menciptakan gairah bagaimana kita hidup dan mengisinya. Kebenaran itu memampukan kita melihat masa depan yang jauh di sana tetapi penuh kepastian dalam pengharapan.
Memberi gairah
Oleh karena itulah kebenaran menjadi kerinduan. Tetapi kebenaran tidak cukup hanya menjadi kerinduan tetapi harus menjadi suatu aktualisasi dalam kehidupan orang percaya. Jangankan orang benar, ketika orang-orang berdosa pun belajar melakukan kebenaran, bukankah hidup menjadi lebih indah? Itu sebab humanis, di mana manusia sangat dihargai, seringkali menjadi semacam fotokopi dari kekristenan. Kesalahan humanis adalah lepas dalam hubungan vertikal dengan Tuhan, karena humanis hanya menyisakan hubungan horizontal dengan sesama. Tapi alangkah naif, sedih dan pahit kalau orang-orang Kristen berbicara tentang kehidupan, tetapi hidupnya tidak lebih baik dari orang-orang humanis yang tidak menerima dan tidak percaya pada Tuhan. Bukankah kita seharusnya mempunyai kekuatan ekstra, di mana hidup kita lebih benar dari orang-orang humanis karena kebenaran yang menghidupkan itu milik kita? Tuhan ada di hidup kita.
Oleh karena itu ukuran-ukuran kebenaran seperti ini harus bisa diukur dalam kehidupan setiap orang. Kelihatan buah, maknanya, dst. Jika kebenaran itu menghidupi hidup maka tidak ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan. Tidak ada tembok yang tinggi untuk diloncat. Tidak ada batu yang terlalu keras dipecahkan. Permusuhan bisa berakhir karena kebenaran sejati dikumandangkan. Gairah hidup akan semakin menguat ketika kebenaran sejati didemonstrasikan. Karena itu kebenaran harus menjadi impian, dambaan dan cita-cita tertinggi kita.
Tetapi apa yang dihasilkan kebodohan? Kebodohan hanyalah mendatangkan malapetaka. Karena orang bodoh dikatakan mati karena kurang akal budi. Artinya orang bodoh bisa menciptakan malapetaka dalam hidupnya. Bagi orang bodoh, apa pun menjadi persoalan. Yang sederhana menjadi rumit. Dia menciptakan kegelisahan, kepedihan kekosongan dalam kehidupan. Sehinggga orang bisa kehilangan gairah kehidupan itu karena kebodohan. Kebodohan bisa memakan korban, sehingga orang hidup tak lagi merasakan kehidupan. Karena kebodohan telah menciptakan kejengkelan yang tidak berkesudahan, bahkan berwujud menjadi kemarahan dan kerugian yang tak terhitung. Kebodohan selalu memakan korban di mana pun dia berada. Di kantor, kebodohan menjadi masalah. Perusahaan yang seharusnya untung bisa jadi bangkrut. Di rumah, kebodohan jadi masalah, karena suami-istri yang seharusnya saling mencintai menjadi bodoh, saling membenci.
Di tengah pergumulan antara benar dan bodoh ini seharusnya kita memainkan kualitas kekristenan agar tampak nyata. Gereja yang bodoh hanya akan menciptakan persoalan di tengah kehidupan. Gereja yang bodoh bisa menciptakan malapetaka. Beda dengan gereja yang benar dan bijak, karena dia memberikan kontribusi-kontribusi utuh dalam kehidupan.
(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)
Oleh: Pdt Bigman Sirait
Info:
Jika Anda butuh:
1. Jasa Design Hotel, Villa, Spa, Resort, Landscape klik www.GunardiSaputra.com/Presiska atau hubungi Ardi di 08558827222
2.Peralatan makan Stainless Steel: Sendok Makan, Sendok Teh untuk usaha Anda (buka restoran atau catering) maupun untuk kegiatan promosi pemasaran Anda (pemberian hadiah atas produk dagangan Anda), hubungi: Ardi di 08558827222
3.Rekomendasi Saham klik www.GunardiSaputra.com
4.Promosi dengan Sendok Makan Stainless klik gl_trading.indonetwork.co.id
promosi Anda ya Sendok Makan atau Sendok Teh saja...
Orang benar dan orang bodoh merupakan perbanding-an yang sangat luar biasa. Jika dikatakan bibir orang benar menggembalakan orang banyak, maka bibir orang benar identik dengan kebenaran itu, dan selalu menghasilkan sebuah kehidupan. Bibir orang benar mendatangkan kehidupan, karena orang mempunyai kehi-dupan akibat kebenaran. Kebenar-an menciptakan sebuah ketenang-an, penghargaan, sehingga kebe-naran menghidupkan hidup itu, dan memberi makna atau nilai pada hidup itu. Maka kebenaran itu men-jadi sesuatu yang luar biasa karena ia mengumpulkan banyak orang.
Kebenaran memberikan kehi-dupan, maka kebenaran itu juga memberikan pengharapan. Kebenaran memberikan nilai-nilai yang tinggi dalam kehidupan. Hidup menjadi bermakna ketika ada kebenaran. Tetapi sebalik-nya ketika tidak ada kebenaran hidup tidak bermakna, karena di sana ada penipuan, kebencian, sifat jelek. Lalu buat apa kita hidup seperti itu? Bukankah setiap orang ingin hidup dalam ketenangan? Bukankah kita ingin hidup dalam kebahagiaan, pengharapan dan kepastian? Dan mimpi-mimpi itu hanya bisa diwujudkan jikalau ada kebe-naran, dan kebenaran menjadi prinsip hidup kita. Yang lucu adalah, kita mau hidup bahagia, benar, punya pengharapan, tetapi tidak mau membangun kebenaran.
Bagaimana kita mendapatkan kehidupan atau memberi nilai pada kehidupan itu? Tanpa kebenaran, hidup bukan lagi hidup, tetapi hidup sudah kehi-langan makna dan pengharapan-nya. Karena tidak ada kebenar-an, sehingga orang hidup pun tidak mau lama-lama hidup. Kepahitan kepedihan ditimbul-kan oleh ketidakbenaran. Kepa-hitan kepedihan itu pula yang terjadi ketika tidak ada lagi kebenaran. Sebaliknya, kebenar-an memberikan kehidupan dan pengharapan. Kiranya itu yang kita bangun dan pertahankan.
Karena kebenaran didatangkan atau diberikan oleh Tuhan, maka segala kebenaran adalah kebenaran Tuhan. Secara umum Tuhan memberikan kebenaran kepada setiap orang (common grace) dalam pengertian memahami apa yang benar. Sekalipun secara keselamatan Tuhan memberikan kepada orang yang diperkenan-Nya.
Kebenaran menjadi satu aturan, patron yang harus kita nikmati dalam kehidupan. Maka itu kita jalani bersama. Kebenaran itulah yang memberi kita rasa kemerdekaan: merdeka dari rasa takut, tertekan, berbagai perasaan-perasaan yang mematikan keindahan kehidupan. Kebenaran yang memberi warna luar biasa itu penting dalam kehidupan. Maka kebenaran menciptakan gairah bagaimana kita hidup dan mengisinya. Kebenaran itu memampukan kita melihat masa depan yang jauh di sana tetapi penuh kepastian dalam pengharapan.
Memberi gairah
Oleh karena itulah kebenaran menjadi kerinduan. Tetapi kebenaran tidak cukup hanya menjadi kerinduan tetapi harus menjadi suatu aktualisasi dalam kehidupan orang percaya. Jangankan orang benar, ketika orang-orang berdosa pun belajar melakukan kebenaran, bukankah hidup menjadi lebih indah? Itu sebab humanis, di mana manusia sangat dihargai, seringkali menjadi semacam fotokopi dari kekristenan. Kesalahan humanis adalah lepas dalam hubungan vertikal dengan Tuhan, karena humanis hanya menyisakan hubungan horizontal dengan sesama. Tapi alangkah naif, sedih dan pahit kalau orang-orang Kristen berbicara tentang kehidupan, tetapi hidupnya tidak lebih baik dari orang-orang humanis yang tidak menerima dan tidak percaya pada Tuhan. Bukankah kita seharusnya mempunyai kekuatan ekstra, di mana hidup kita lebih benar dari orang-orang humanis karena kebenaran yang menghidupkan itu milik kita? Tuhan ada di hidup kita.
Oleh karena itu ukuran-ukuran kebenaran seperti ini harus bisa diukur dalam kehidupan setiap orang. Kelihatan buah, maknanya, dst. Jika kebenaran itu menghidupi hidup maka tidak ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan. Tidak ada tembok yang tinggi untuk diloncat. Tidak ada batu yang terlalu keras dipecahkan. Permusuhan bisa berakhir karena kebenaran sejati dikumandangkan. Gairah hidup akan semakin menguat ketika kebenaran sejati didemonstrasikan. Karena itu kebenaran harus menjadi impian, dambaan dan cita-cita tertinggi kita.
Tetapi apa yang dihasilkan kebodohan? Kebodohan hanyalah mendatangkan malapetaka. Karena orang bodoh dikatakan mati karena kurang akal budi. Artinya orang bodoh bisa menciptakan malapetaka dalam hidupnya. Bagi orang bodoh, apa pun menjadi persoalan. Yang sederhana menjadi rumit. Dia menciptakan kegelisahan, kepedihan kekosongan dalam kehidupan. Sehinggga orang bisa kehilangan gairah kehidupan itu karena kebodohan. Kebodohan bisa memakan korban, sehingga orang hidup tak lagi merasakan kehidupan. Karena kebodohan telah menciptakan kejengkelan yang tidak berkesudahan, bahkan berwujud menjadi kemarahan dan kerugian yang tak terhitung. Kebodohan selalu memakan korban di mana pun dia berada. Di kantor, kebodohan menjadi masalah. Perusahaan yang seharusnya untung bisa jadi bangkrut. Di rumah, kebodohan jadi masalah, karena suami-istri yang seharusnya saling mencintai menjadi bodoh, saling membenci.
Di tengah pergumulan antara benar dan bodoh ini seharusnya kita memainkan kualitas kekristenan agar tampak nyata. Gereja yang bodoh hanya akan menciptakan persoalan di tengah kehidupan. Gereja yang bodoh bisa menciptakan malapetaka. Beda dengan gereja yang benar dan bijak, karena dia memberikan kontribusi-kontribusi utuh dalam kehidupan.
(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)
Oleh: Pdt Bigman Sirait
Info:
Jika Anda butuh:
1. Jasa Design Hotel, Villa, Spa, Resort, Landscape klik www.GunardiSaputra.com/Presiska atau hubungi Ardi di 08558827222
2.Peralatan makan Stainless Steel: Sendok Makan, Sendok Teh untuk usaha Anda (buka restoran atau catering) maupun untuk kegiatan promosi pemasaran Anda (pemberian hadiah atas produk dagangan Anda), hubungi: Ardi di 08558827222
3.Rekomendasi Saham klik www.GunardiSaputra.com
4.Promosi dengan Sendok Makan Stainless klik gl_trading.indonetwork.co.id
promosi Anda ya Sendok Makan atau Sendok Teh saja...
BS: Iman yang Kekanak-kanakan
FIRMAN Tuhan dalam 1 Kor 13: 8-13, menolong kita untuk memahami kemam-puan berpikir manusia secara rohani: masih kanak-kanak atau sudah dewasa. Orang yang berpikir kanak-kanak selalu memerlukan simbol (tanda). Bagi kanak-kanak, apakah dirinya disayang papa atau mama, salah satu indikasinya adalah apakah papa-mama suka beli kue? Karena tingkat pertumbuhan rohaninya belum ada maka dia memerlukan simbol yang konkrit dan harus ada wujudnya, barulah dia memahami itu. Jadi berpikir kanak-kanak itu membuat kita terjebak pada simbol-simbol, atau nilai-nilai yang bisa menyenangkan kita.
Tetapi bagi orang yang sudah tergolong dewasa—anak SMA misalnya—kue atau mainan yang diberikan orang tuanya tidak sama dengan sayang. Bagi dia, papa sayang atau tidak, itu tergantung pada apakah papa punya waktu dengan dia, ngobrol enggak dengan dia? Dia tidak bisa disuap lagi dengan roti. Dia mulai memahami ekspresi atau pema-haman kasih sayang itu sudah lebih berwujud. Nah, di sinilah Paulus berkata: “Kasih tidak berkesu-dahan, tetapi yang lain itu, nubuat, bahasa roh, pengetahuan, itu semua akan lenyap”. Jadi kita harus belajar menggapai yang paling tinggi, yaitu kasih yang bersifat abadi itu. Itulah kedewasaan kita untuk menggapai itu. Maka orang Kristen kalau makin dewasa makin tampak cinta kasihnya, makin dewasa makin utuh kasihnya.
Orang dewasa, meski katanya sudah terima Tuhan, juga bisa berpikir kanak-kanak. Dia hanya bisa memahami kasih Kristus itu bila ada kesembuhan, mukjizat, dapat uang, dapat pekerjaan, dan sebagainya. Itu yang dipahaminya. Sulit bagi dia memahami kasih Kristus yang sudah menyelamatkan itu, apalagi misalnya dia miskin, sakit. Tetapi orang dewasa dalam iman, mau sakit kek, mau kaya kek, sehat, miskin, baginya enggak ada masalah, karena dia semakin dewasa memahami kasih Tuhan.
Jadi, kasih Tuhan itu tidak identik dengan “punya uang atau tidak punya uang”. Kasih Tuhan itu identik dengan pemeliharaan hidup, di mana kita semakin hari semakin mengerti kehendak Tuhan. Itu sebab rasul-rasul itu lain dari orang kebanyakan. Dulu Petrus itu kekanak-kanakan sekali, maunya semua serba OK, harus menang. Dan kemenangan itu dia pahami sebagai “musuhnya harus kalah”. Itu sebab, dalam jiwa kekanak-kanakan itu Petrus memenggal telinga hamba imam sampai putus, tetapi Yesus memasangnya kembali. Tetapi kemudian kita melihat bagaimana kedewasaan iman Petrus berkembang secara luar biasa, sehingga waktu diancam, dia tidak bertarung. Dia hanya berkata, “Hei imam-imam lebih baik aku taat kepada Allah daripada kalian”. Sesudah dia betul-betul masuk dalam kedewasaan iman, dia tidak lagi memenggal telinga orang. Hidupnya susah, dia tidak ribut, tetapi dia nikmati. Keluar masuk penjara dia tidak pusing, justru dia nikmati. Rasul-rasul berkata: “Kami merasa terhormat, berbahagia karena kami boleh menderita untuk Kristus”.
Perubahan cara berpikir dari kanak-kanak ke dewasa itu memberikan kebijaksanaan dan pengertian yang hebat bagi kita. Di dalam proses bertumbuh seperti itulah, sebagai orang yang sudah percaya dan menerima Kristus, kita melihat bagaimana kualifikasi pemikiran kita. Dan berpikir itu adalah sebuah proses yang tidak pernah berhenti selama hidup. Begitulah kita sebagai orang percaya. Sehingga proses pembelajaran itu berjalan terus. Maka perlu kesetiaan, kejujuran, kesungguhan dalam menyikapi semuanya.
Demonstrasikan kasih
Jadi, berpikir kanak-kanak itu harus ditinggalkan. Kita tidak bisa terus-menerus di situ, berpikir secara simbol-simbol, yang jika engkau sakit berdoa, tidak sembuh lalu kecewa, ngambek sama Tuhan. Itu kanak-kanak. Minta kerja tidak dapat lalu malas ke gereja, malas berdoa. Itu kanak-kanak. Minta tanda ini-itu, itu kanak-kanak. Kalau kau sudah dewasa, masak sih tidak percaya Tuhan mengasihi? Kalau kau masih minta tanda, artinya engkau masih ragu. Kamu belum kenal baik dengan Tuhan. Kalau sudah kenal baik, mana mungkin kamu lakukan itu? Kita tidak mengatakan minta tanda itu salah, tetapi itu kanak-kanak. Masak saudara mau kanak-kanak terus? Saudara kan ingin dewasa, bertumbuhlah. Orang yang semakin dewasa sudah berorientasi kepada kasih. Itu yang mereka pikirkan. Pergumulan mereka, bagaimana mendemonstrasikan kasih itu, sesuatu yang bersifat abadi dan tidak habis-habis itu.
Dan orang semakin dewasa semakin menyadari dirinya, kenal diri, tahu keterbatasan dirinya. Dia cukup mengerti kalau sudah dikasih tahu. Tidak seperti anak-anak yang diombang-ambingkan oleh berbagai angin pengajaran. Karena anak-anak itu bisa ditipu kiri-kanan, semua diikuti padahal itu bertolak belakang. Gelap mata. Itu kekanak-kanakan. Orang seperti itu tidak bergaul akrab dengan firman Tuhan. Kalau bergaul akrab dengan firman, kita pasti menunjukkan sikap jelas, yang sesuai dengan Alkitab, tidak membeo, tidak sekadar ikut-ikutan, tetapi menjadi orang Kristen yang punya sikap jelas, dewasa, mampu menyikapi perbedaan dengan enteng tanpa harus ribut.
Kalau berpikir soal bisnis orang bisa mantap. Tetapi kalau urusan gereja orang bisa ribut. Maka banyak orang Kristen menjadi kecewa dengan gereja. Di gereja sering ribut, nilep uang juga. Bisa jadi di gereja ada orang yang masih kanak-kanak, yang masih suka iseng. Ia harus diingatkan. Coba lihat diri dan sekeliling. Mungkin banyak di antara kita yang berpikir seperti kanak-kanak, mengakibatkan munculnya pertikaian/keributan suami-istri, orang tua-anak, atasan-bawahan. Jam atau rutinitas ke gereja sangat tinggi, tetapi tidak ada perubahan yang signifikan terhadap perilaku dan sikap hidup. Jelas, itu karena masih kanak-kanak.
Jadi, analisis atas diri sendiri membuat kita bisa menemukan apakah kita sudah dewasa atau tidak, dalam konteks sudah menjadi orang Kristen yang menerima Kristus. Tetapi tidak selesai sampai di situ, karena pertumbuhan itu tidak akan pernah berhenti dan terus memberikan pencerahan, pembaruan, pengalaman-pengalaman unik bersama dengan Tuhan, sehingga kita semakin tangguh, semakin sadar diri, kenal diri, tahu kemampuan. Oleh karena itu temukan diri dan jadilah dewasa dalam iman.
(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)
Oleh: Pdt Bigman Sirait
Info:
Jika Anda butuh:
1. Jasa Design Hotel, Villa, Spa, Resort, Landscape klik www.GunardiSaputra.com/Presiska atau hubungi Ardi di 08558827222
2.Peralatan makan Stainless Steel: Sendok Makan, Sendok Teh untuk usaha Anda (buka restoran atau catering) maupun untuk kegiatan promosi pemasaran Anda (pemberian hadiah atas produk dagangan Anda), hubungi: Ardi di 08558827222
3.Rekomendasi Saham klik www.GunardiSaputra.com
4.Promosi dengan Sendok Makan Stainless klik gl_trading.indonetwork.co.id
promosi Anda ya Sendok Makan atau Sendok Teh saja...
Tetapi bagi orang yang sudah tergolong dewasa—anak SMA misalnya—kue atau mainan yang diberikan orang tuanya tidak sama dengan sayang. Bagi dia, papa sayang atau tidak, itu tergantung pada apakah papa punya waktu dengan dia, ngobrol enggak dengan dia? Dia tidak bisa disuap lagi dengan roti. Dia mulai memahami ekspresi atau pema-haman kasih sayang itu sudah lebih berwujud. Nah, di sinilah Paulus berkata: “Kasih tidak berkesu-dahan, tetapi yang lain itu, nubuat, bahasa roh, pengetahuan, itu semua akan lenyap”. Jadi kita harus belajar menggapai yang paling tinggi, yaitu kasih yang bersifat abadi itu. Itulah kedewasaan kita untuk menggapai itu. Maka orang Kristen kalau makin dewasa makin tampak cinta kasihnya, makin dewasa makin utuh kasihnya.
Orang dewasa, meski katanya sudah terima Tuhan, juga bisa berpikir kanak-kanak. Dia hanya bisa memahami kasih Kristus itu bila ada kesembuhan, mukjizat, dapat uang, dapat pekerjaan, dan sebagainya. Itu yang dipahaminya. Sulit bagi dia memahami kasih Kristus yang sudah menyelamatkan itu, apalagi misalnya dia miskin, sakit. Tetapi orang dewasa dalam iman, mau sakit kek, mau kaya kek, sehat, miskin, baginya enggak ada masalah, karena dia semakin dewasa memahami kasih Tuhan.
Jadi, kasih Tuhan itu tidak identik dengan “punya uang atau tidak punya uang”. Kasih Tuhan itu identik dengan pemeliharaan hidup, di mana kita semakin hari semakin mengerti kehendak Tuhan. Itu sebab rasul-rasul itu lain dari orang kebanyakan. Dulu Petrus itu kekanak-kanakan sekali, maunya semua serba OK, harus menang. Dan kemenangan itu dia pahami sebagai “musuhnya harus kalah”. Itu sebab, dalam jiwa kekanak-kanakan itu Petrus memenggal telinga hamba imam sampai putus, tetapi Yesus memasangnya kembali. Tetapi kemudian kita melihat bagaimana kedewasaan iman Petrus berkembang secara luar biasa, sehingga waktu diancam, dia tidak bertarung. Dia hanya berkata, “Hei imam-imam lebih baik aku taat kepada Allah daripada kalian”. Sesudah dia betul-betul masuk dalam kedewasaan iman, dia tidak lagi memenggal telinga orang. Hidupnya susah, dia tidak ribut, tetapi dia nikmati. Keluar masuk penjara dia tidak pusing, justru dia nikmati. Rasul-rasul berkata: “Kami merasa terhormat, berbahagia karena kami boleh menderita untuk Kristus”.
Perubahan cara berpikir dari kanak-kanak ke dewasa itu memberikan kebijaksanaan dan pengertian yang hebat bagi kita. Di dalam proses bertumbuh seperti itulah, sebagai orang yang sudah percaya dan menerima Kristus, kita melihat bagaimana kualifikasi pemikiran kita. Dan berpikir itu adalah sebuah proses yang tidak pernah berhenti selama hidup. Begitulah kita sebagai orang percaya. Sehingga proses pembelajaran itu berjalan terus. Maka perlu kesetiaan, kejujuran, kesungguhan dalam menyikapi semuanya.
Demonstrasikan kasih
Jadi, berpikir kanak-kanak itu harus ditinggalkan. Kita tidak bisa terus-menerus di situ, berpikir secara simbol-simbol, yang jika engkau sakit berdoa, tidak sembuh lalu kecewa, ngambek sama Tuhan. Itu kanak-kanak. Minta kerja tidak dapat lalu malas ke gereja, malas berdoa. Itu kanak-kanak. Minta tanda ini-itu, itu kanak-kanak. Kalau kau sudah dewasa, masak sih tidak percaya Tuhan mengasihi? Kalau kau masih minta tanda, artinya engkau masih ragu. Kamu belum kenal baik dengan Tuhan. Kalau sudah kenal baik, mana mungkin kamu lakukan itu? Kita tidak mengatakan minta tanda itu salah, tetapi itu kanak-kanak. Masak saudara mau kanak-kanak terus? Saudara kan ingin dewasa, bertumbuhlah. Orang yang semakin dewasa sudah berorientasi kepada kasih. Itu yang mereka pikirkan. Pergumulan mereka, bagaimana mendemonstrasikan kasih itu, sesuatu yang bersifat abadi dan tidak habis-habis itu.
Dan orang semakin dewasa semakin menyadari dirinya, kenal diri, tahu keterbatasan dirinya. Dia cukup mengerti kalau sudah dikasih tahu. Tidak seperti anak-anak yang diombang-ambingkan oleh berbagai angin pengajaran. Karena anak-anak itu bisa ditipu kiri-kanan, semua diikuti padahal itu bertolak belakang. Gelap mata. Itu kekanak-kanakan. Orang seperti itu tidak bergaul akrab dengan firman Tuhan. Kalau bergaul akrab dengan firman, kita pasti menunjukkan sikap jelas, yang sesuai dengan Alkitab, tidak membeo, tidak sekadar ikut-ikutan, tetapi menjadi orang Kristen yang punya sikap jelas, dewasa, mampu menyikapi perbedaan dengan enteng tanpa harus ribut.
Kalau berpikir soal bisnis orang bisa mantap. Tetapi kalau urusan gereja orang bisa ribut. Maka banyak orang Kristen menjadi kecewa dengan gereja. Di gereja sering ribut, nilep uang juga. Bisa jadi di gereja ada orang yang masih kanak-kanak, yang masih suka iseng. Ia harus diingatkan. Coba lihat diri dan sekeliling. Mungkin banyak di antara kita yang berpikir seperti kanak-kanak, mengakibatkan munculnya pertikaian/keributan suami-istri, orang tua-anak, atasan-bawahan. Jam atau rutinitas ke gereja sangat tinggi, tetapi tidak ada perubahan yang signifikan terhadap perilaku dan sikap hidup. Jelas, itu karena masih kanak-kanak.
Jadi, analisis atas diri sendiri membuat kita bisa menemukan apakah kita sudah dewasa atau tidak, dalam konteks sudah menjadi orang Kristen yang menerima Kristus. Tetapi tidak selesai sampai di situ, karena pertumbuhan itu tidak akan pernah berhenti dan terus memberikan pencerahan, pembaruan, pengalaman-pengalaman unik bersama dengan Tuhan, sehingga kita semakin tangguh, semakin sadar diri, kenal diri, tahu kemampuan. Oleh karena itu temukan diri dan jadilah dewasa dalam iman.
(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)
Oleh: Pdt Bigman Sirait
Info:
Jika Anda butuh:
1. Jasa Design Hotel, Villa, Spa, Resort, Landscape klik www.GunardiSaputra.com/Presiska atau hubungi Ardi di 08558827222
2.Peralatan makan Stainless Steel: Sendok Makan, Sendok Teh untuk usaha Anda (buka restoran atau catering) maupun untuk kegiatan promosi pemasaran Anda (pemberian hadiah atas produk dagangan Anda), hubungi: Ardi di 08558827222
3.Rekomendasi Saham klik www.GunardiSaputra.com
4.Promosi dengan Sendok Makan Stainless klik gl_trading.indonetwork.co.id
promosi Anda ya Sendok Makan atau Sendok Teh saja...
BS: Kesenangan yang Tidak Bernilai
HIDUP yang dikaruniakan Allah itu hanya bernilai dan bisa dinikmati kalau kita melakukan jerih payah, bekerja dan berkeringat. Karena memang Alkitab sudah memberikan rumusan yang begitu konkrit di dalam Kejadian 2: 15, Manusia itu dibawa ke Taman Eden dan Tuhan berkata “Usahakanlah taman ini, kelolalah”.
Dengan demikian dinamika dan kehebatan manusia sebagai pengelola alam semesta, sungguh luar biasa. Dan kepuasan hidup adalah kalau kita bisa menge-lolanya, dan menemukan kenik-matan di sana. Kebahagiaan atau kepuasan itu bukan terletak pada apa yang kita punya, tetapi bagaimana kita memakainya. Bukan apa yang kita kumpulkan tetapi bagaimana menggunakan-nya. Sementara obsesi kita adalah bagaimana kita mengumpulkan segala apa yang kita butuhkan. Dalam Pengkhotbah 5: 17-19 dikatakan bahwa kebahagiaan atau kepuasan adalah kalau kita menikmati kesenangan-kese-nangan yang bernilai, kalau kita bekerja di bawah matahari selama hidup yang pendek, yang dikaruniakan Allah.
Allah sudah memberikan karunia, di mana kita punya bagian-bagian dalam hidup kita. Dalam menggarap bagian-bagian hidup kita harus ingat bahwa umur kita pendek. Jangan bekerja ulur-ulur waktu, buang-buang waktu. Bekerja harus berpacu dengan waktu, karena waktu itu pendek. Orang yang tidak mau menyia-nyiakan waktu, selalu berpikiran: mungkin besok sudah tidak sempat. Maka dalam hidup ia meninggalkan bekas-bekas yang hebat, karya-karya luar biasa. Tapi orang yang selalu merasa umurnya masih panjang, bekerja santai tidak karuan. Output dari hidupnya tidak bernilai, tidak pernah meninggalkan karya yang selesai.
Kesenangan bukan apa yang bisa kita kumpulkan tetapi apa yang bisa kita bagikan. Kesenangan bukan tentang berapa banyak yang kita miliki tetapi bagaimana memakainya dalam hidup. Kesenangan yang sia-sia adalah ketika kita menumpuk untuk diri, bukan untuk membagi dengan orang sekitar. Maka, tidak begitu penting seberapa kaya kita, tetapi berapa kaya membagi diri. Makin banyak yang kita punya makin banyak yang kita bagi, makin bahagia kita. Secara deposit mungkin angka yang kita punya tidak seberapa, tetapi kebahagiaan luar biasa.
Kita harus berkutat dengan pergumulan seperti itu, berjalan di tengah kehidupan sehingga percaturan yang kita hadapi itu menyenangkan. Kita menggapai kesenangan yang bernilai, bukan kesenangan yang sia-sia. Kesenangan sia-sia, yang berorientasi kepada diri, yang menumpuk untuk diri. Tetapi kesenangan yang bernilai adalah kesenangan berprestasi yang membagi untuk sekitar. Tuhan menciptakan manusia untuk menjadi berkat bagi orang lain, bukan melulu mengumpulkan berkat.
Gereja sekarang pun menurut saya sudah salah kaprah. Gereja sekarang ada yang berorientasi bagaimana menumpuk berkat Tuhan, membangun sebuah kebangunan untuk dirinya, bukan bagaimana hidup berbagi. Kalaupun dia berbagi, kalau dihitung paling 5-10 persen, yang dia telan 90 persen. Kenapa tidak berani berbagi lebih banyak lagi? Karena semakin banyak yang kita bagi justru kita menemukan kesenangan sejati. Tetapi kesenangan sia-sia adalah menumpuk apa yang sifatnya pleasure: punya rumah, kolam renang. Itu bagus, kalau kau bisa menikmatinya. Karena ayat 18 bilang: “Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersuka cita dalam jerih payah itu juga karunia Allah”.
Beda Bagian
Bahagian orang yang Tuhan sediakan berbeda-beda, maka nikmati bagianmu, jangan inginkan bagian orang lain. Apakah sebagai pengusaha, pendidik, atau apa pun yang ada pada kita, harus bisa kita nikmati. Adalah kebodohan bekerja sekadar beban. Tidak ada angka yang cukup membereskan beban, berapa pun penghasilanmu. Mau menginap di hotel bintang 5, fasilitas bintang 5, makan bintang 5, semua serba wah, tetap saja beban itu tidak bisa disingkirkan. Kemerdekaan, kenikmatan, kese-nangan yang sejati bukan ada pada apa yang bisa kita kumpulkan, tetapi apa yang bisa kita bagi.
Pengkhotbah 3 mengatakan: “Manusia makan minum, apa pun yang mereka makan minum, datangnya dari Tuhan juga”. Tetapi mereka tidak tahu juga karena mereka sombong dan besar kepala. Mereka bersenang-se-nang, tetapi kesenangan mereka hanya sia-sia, karena toh sekalipun dia bersenang-senang, dia tidak bisa menambah umurnya. Dia tidak bisa mengurangi perjalanan waktu, dan dia tidak bisa menolak kematian.
Jadi hidup itu adalah kesukaci-taan yang mesti kita gapai, maka-nya energik. Apalagi kalian yang muda-muda. Oleh karena itu seluruh wawasan konsep kita ini mesti kita bongkar habis. Restrukturisasi. Jujur saja, semua kita punya cita-cita mengumpulkan apa yang kita butuhkan. Rumah mobil, maunya lebih dari satu. Itulah kita. Tetapi keberanian menginjak rem terhadap sebuah kebutuhan dan menginjak gas pada sebuah pengabdian, itu kata kunci Tuhan. Tetapi sayang, banyak manusia justru mengerem pengabdian, menggas kebutuhan. Maka dia dilindas tumpukan-tumpukan keinginannya yang terlalu banyak itu.
Karena itu berkaryalah, berprestasilah. Gapai nilai itu, jadilah pemenang, jangan pecundang. Kesenangan sangat bernilai ketika kita bisa membagi kepada orang banyak. Kepuasan hidup ketika kita bisa berbagi. Tetapi hidup untuk diri sendiri itulah kesenangan yang tidak bernilai. Kau punya segalanya, tetapi bukan siapa-siapa.
(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)
Oleh: Pdt Bigman Sirait
Info:
Jika Anda butuh:
1. Jasa Design Hotel, Villa, Spa, Resort, Landscape klik www.GunardiSaputra.com/Presiska atau hubungi Ardi di 08558827222
2.Peralatan makan Stainless Steel: Sendok Makan, Sendok Teh untuk usaha Anda (buka restoran atau catering) maupun untuk kegiatan promosi pemasaran Anda (pemberian hadiah atas produk dagangan Anda), hubungi: Ardi di 08558827222
3.Rekomendasi Saham klik www.GunardiSaputra.com
4.Promosi dengan Sendok Makan Stainless klik gl_trading.indonetwork.co.id
promosi Anda ya Sendok Makan atau Sendok Teh saja...
Dengan demikian dinamika dan kehebatan manusia sebagai pengelola alam semesta, sungguh luar biasa. Dan kepuasan hidup adalah kalau kita bisa menge-lolanya, dan menemukan kenik-matan di sana. Kebahagiaan atau kepuasan itu bukan terletak pada apa yang kita punya, tetapi bagaimana kita memakainya. Bukan apa yang kita kumpulkan tetapi bagaimana menggunakan-nya. Sementara obsesi kita adalah bagaimana kita mengumpulkan segala apa yang kita butuhkan. Dalam Pengkhotbah 5: 17-19 dikatakan bahwa kebahagiaan atau kepuasan adalah kalau kita menikmati kesenangan-kese-nangan yang bernilai, kalau kita bekerja di bawah matahari selama hidup yang pendek, yang dikaruniakan Allah.
Allah sudah memberikan karunia, di mana kita punya bagian-bagian dalam hidup kita. Dalam menggarap bagian-bagian hidup kita harus ingat bahwa umur kita pendek. Jangan bekerja ulur-ulur waktu, buang-buang waktu. Bekerja harus berpacu dengan waktu, karena waktu itu pendek. Orang yang tidak mau menyia-nyiakan waktu, selalu berpikiran: mungkin besok sudah tidak sempat. Maka dalam hidup ia meninggalkan bekas-bekas yang hebat, karya-karya luar biasa. Tapi orang yang selalu merasa umurnya masih panjang, bekerja santai tidak karuan. Output dari hidupnya tidak bernilai, tidak pernah meninggalkan karya yang selesai.
Kesenangan bukan apa yang bisa kita kumpulkan tetapi apa yang bisa kita bagikan. Kesenangan bukan tentang berapa banyak yang kita miliki tetapi bagaimana memakainya dalam hidup. Kesenangan yang sia-sia adalah ketika kita menumpuk untuk diri, bukan untuk membagi dengan orang sekitar. Maka, tidak begitu penting seberapa kaya kita, tetapi berapa kaya membagi diri. Makin banyak yang kita punya makin banyak yang kita bagi, makin bahagia kita. Secara deposit mungkin angka yang kita punya tidak seberapa, tetapi kebahagiaan luar biasa.
Kita harus berkutat dengan pergumulan seperti itu, berjalan di tengah kehidupan sehingga percaturan yang kita hadapi itu menyenangkan. Kita menggapai kesenangan yang bernilai, bukan kesenangan yang sia-sia. Kesenangan sia-sia, yang berorientasi kepada diri, yang menumpuk untuk diri. Tetapi kesenangan yang bernilai adalah kesenangan berprestasi yang membagi untuk sekitar. Tuhan menciptakan manusia untuk menjadi berkat bagi orang lain, bukan melulu mengumpulkan berkat.
Gereja sekarang pun menurut saya sudah salah kaprah. Gereja sekarang ada yang berorientasi bagaimana menumpuk berkat Tuhan, membangun sebuah kebangunan untuk dirinya, bukan bagaimana hidup berbagi. Kalaupun dia berbagi, kalau dihitung paling 5-10 persen, yang dia telan 90 persen. Kenapa tidak berani berbagi lebih banyak lagi? Karena semakin banyak yang kita bagi justru kita menemukan kesenangan sejati. Tetapi kesenangan sia-sia adalah menumpuk apa yang sifatnya pleasure: punya rumah, kolam renang. Itu bagus, kalau kau bisa menikmatinya. Karena ayat 18 bilang: “Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersuka cita dalam jerih payah itu juga karunia Allah”.
Beda Bagian
Bahagian orang yang Tuhan sediakan berbeda-beda, maka nikmati bagianmu, jangan inginkan bagian orang lain. Apakah sebagai pengusaha, pendidik, atau apa pun yang ada pada kita, harus bisa kita nikmati. Adalah kebodohan bekerja sekadar beban. Tidak ada angka yang cukup membereskan beban, berapa pun penghasilanmu. Mau menginap di hotel bintang 5, fasilitas bintang 5, makan bintang 5, semua serba wah, tetap saja beban itu tidak bisa disingkirkan. Kemerdekaan, kenikmatan, kese-nangan yang sejati bukan ada pada apa yang bisa kita kumpulkan, tetapi apa yang bisa kita bagi.
Pengkhotbah 3 mengatakan: “Manusia makan minum, apa pun yang mereka makan minum, datangnya dari Tuhan juga”. Tetapi mereka tidak tahu juga karena mereka sombong dan besar kepala. Mereka bersenang-se-nang, tetapi kesenangan mereka hanya sia-sia, karena toh sekalipun dia bersenang-senang, dia tidak bisa menambah umurnya. Dia tidak bisa mengurangi perjalanan waktu, dan dia tidak bisa menolak kematian.
Jadi hidup itu adalah kesukaci-taan yang mesti kita gapai, maka-nya energik. Apalagi kalian yang muda-muda. Oleh karena itu seluruh wawasan konsep kita ini mesti kita bongkar habis. Restrukturisasi. Jujur saja, semua kita punya cita-cita mengumpulkan apa yang kita butuhkan. Rumah mobil, maunya lebih dari satu. Itulah kita. Tetapi keberanian menginjak rem terhadap sebuah kebutuhan dan menginjak gas pada sebuah pengabdian, itu kata kunci Tuhan. Tetapi sayang, banyak manusia justru mengerem pengabdian, menggas kebutuhan. Maka dia dilindas tumpukan-tumpukan keinginannya yang terlalu banyak itu.
Karena itu berkaryalah, berprestasilah. Gapai nilai itu, jadilah pemenang, jangan pecundang. Kesenangan sangat bernilai ketika kita bisa membagi kepada orang banyak. Kepuasan hidup ketika kita bisa berbagi. Tetapi hidup untuk diri sendiri itulah kesenangan yang tidak bernilai. Kau punya segalanya, tetapi bukan siapa-siapa.
(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)
Oleh: Pdt Bigman Sirait
Info:
Jika Anda butuh:
1. Jasa Design Hotel, Villa, Spa, Resort, Landscape klik www.GunardiSaputra.com/Presiska atau hubungi Ardi di 08558827222
2.Peralatan makan Stainless Steel: Sendok Makan, Sendok Teh untuk usaha Anda (buka restoran atau catering) maupun untuk kegiatan promosi pemasaran Anda (pemberian hadiah atas produk dagangan Anda), hubungi: Ardi di 08558827222
3.Rekomendasi Saham klik www.GunardiSaputra.com
4.Promosi dengan Sendok Makan Stainless klik gl_trading.indonetwork.co.id
promosi Anda ya Sendok Makan atau Sendok Teh saja...
Sunday, September 20, 2009
BS: Berkorban Karena Kasih
Yohanes 1: 19-28, Yohanes memberitakan bahwa dia bukan Elia. Dia juga bukan Yang Diutus. Dia bukanlah Kristus Yesus itu. Itu menjadi prinsip penting tentang apa yang harus dikatakan Yohanes.
Di sini kita melihat bahwa Yohanes tidak mau mengambil sedikit pun keuntungan dari pemberitaannya, tetapi mampu menempatkan diri tentang apa yang harus diberitakan tanpa menambah atau menguranginya. Sekarang dia akan membicarakan tentang Kristus Yesus. Ketika melihat Yesus dia berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.” (29-34). Ketika itu Yohanes dan murid-muridnya berkumpul, danYesus berjalan di sana. Kita akan segera mengerti kalau istilah “Anak Domba” itu mengacu kepada Yesus Kristus. Anak Domba menyangkut kepada Dia yang berkorban untuk kita. Tetapi pada konteks saat itu, istilah Anak Domba tentu tidak bisa segera dimengerti sebagaimana kita saat ini. Dalam Perjanjian Lama (PL) gambaran tentang anak domba muncul waktu Abraham mempersembahkan Ishak. Abraham berkata bahwa ia harus memper-sembahkan korban anak domba, tetapi tidak ada, lalu siapa? Maka dipersembahkan-nyalah Ishak. Dan itu yang Tuhan minta. Dalam pergumulannya, Abraham berkata, “Aku percaya Tuhan bisa membangkitkan orang dari kematian”. Dan itu dipersaksikan dalam Ibrani. Jadi, Anak Domba Allah yang harus dikorbankan itu diekspresikan pada anak domba yang harus jadi korban. Tetapi ini harus dipahami, bahwa anak domba yang dikorbankan itu tidak pernah meminta agar dia dikorbankan. Lagi pula dia tidak bisa menolak, karena dia hanyalah seekor hewan domba saja. Lalu dalam peristiwa ketika orang-orang Israel keluar dari Mesir menuju Tanah Perjanjian, kembali anak domba menjadi simbol daripada keselamatan itu, karena anak domba dipotong lalu darahnya dibuat menjadi tanda di tiang-tiang rumah orang Israel. Maka ketika kematian datang dan membunuh anak-anak Mesir, hal itu tidak terjadi pada anak-anak Israel. Pada masa Abraham, anak domba simbol pengorbanan Ishak. Dalam peristiwa Israel keluar dari Mesir, anak domba jadi simbol dari keselamatan. Ketika orang Israel sampai di Tanah Perjanjian, dalam tata ibadah, domba menjadi penting, karena menjadi bagian dari penebusan dosa. Maka waktu itu sangat banyak domba yang disembelih karena banyaknya dosa orang Israel. Tapi ketika Yohanes Pembaptis berkata, “Inilah Anak Domba Allah…”, orang-orang tidak segera mengerti apa maksud Yohanes. Mereka tidak bisa membayangkan anak domba Allah yang dimaksud Yohanes apalagi menghubungkannya dengan Yesus. Jangan lupa, waktu itu sangat sedikit orang yang mengenal siapa Yesus. Murid-murid-Nya pun tidak semua mengenal siapa Yesus, bahkan ketika Dia disalib. Setelah Dia bangkit pada hari yang ke-3, barulah mereka mengerti apa yang dikatakan-Nya. Waktu Yohanes berkata, “Inilah Anak Domba Allah”, dia bicara tentang sesuatu yang sulit dipahami. Tetapi di dalam kesulitan memahami itu Yohanes justru membuka sebuah pemahaman baru, yang harus dimengerti orang Israel, yang harus mengerti siapa Kristus. Satu pihak sulit dipahami, tetapi di lain pihak harus dipahami, karena itulah jalur keselamatan itu. Sehingga istilah “anak domba” dengan segera menolong mereka untuk mengerti tentang arti penebusan. Tapi, bahwa istilah itu mengacu pada Kristus, mereka tidak mengerti secara utuh. Itu baru akan disingkap secara perlahan. Mengorbankan diri-Nya Kalau mengacu kepada Kristus sebagai anak domba Allah, Kristus bukanlah domba yang dikorbankan, karena Kristus adalah korban yang mengorbankan diri-Nya. Dia adalah Anak Domba yang memberikan diri-Nya. Dari sini kita melihat pergumulan Yesus di Taman Getsemane sangat penting. Saat itu Dia berdoa, “Jikalau boleh cawan ini boleh lalu dari pada-Ku, tetapi bukan kehendak-Ku, kehendak-Mu-lah yang jadi.” Domba tidak pernah bisa meminta atau menolak ketika dia dijadikan korban penebusan dosa. Tetapi Yesus bisa saja menolak kalau Dia mau. Tapi Dia rela. Di sinilah kita mengerti bahwa kasih pengorbanan Kristus di kayu salib bukan sekadar karena Dia mati, tetapi Dia mau mati dalam kedaulatan untuk bisa memilih untuk tidak mati. Yesus rela mati meski tidak punya kewajiban untuk mati. Yesus bisa menolak untuk mati, tetapi Dia mau. Di sinilah kita mengerti kasih yang besar itu. Ini beda dengan domba, yang tidak meminta tetapi juga tak bisa menolak. Dia dikorbankan untuk apa yang dia tidak lakukan. Tetapi sebagai simbol korban ia mirip, karena sama-sama kor-ban. Tetapi Yesus lebih agung dari nilai karena Dia memilih sendiri dalam kerelaan untuk menjadi korban. Waktu Yohanes berkata, “Lihatlah anak domba Allah”, dengan segera sebuah pemahaman besar dan luar biasa sudah dikumandangkan kepada seluruh Israel supaya mengetahui bahwa Dialah Anak Allah itu. Gambaran Kristus sebagai Anak Domba Allah bisa kita lihat dalam Yesaya 53, yang menceritakan bagaimana Kristus Tuhan itu, sang Tunas itu, sang Taruk itu akan dianiaya disiksa di kayu salib. Dan kemudian Paulus juga dengan jeli menangkap dan membicarakannya dalam 1 Kor 5: 7 “Dialah Anak Domba yaitu Yesus Kristus yang disalibkan”. Maka Paulus menangkap terang Yesaya 53. Dan di tengah-tengah itulah Yohanes berdiri mengatakan siapa Yesus. Tetapi ingat, waktu itu pengertian tentang Yesus Kristus sang Anak Domba Allah, tidak seutuh yang kita pahami sekarang. Karena waktu itu murid-murid saja masih banyak yang salah mengerti tentang siapa Yesus. Jadi dalam memahami Alkitab, kita perlu melihat konteks pada waktu itu. Jangan membaca secara konteks kita saat ini. Oleh karena itu, di satu sisi kita ini adalah orang yang sangat beruntung karena mengerti Alkitab dengan utuh: punya Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB). Mestinya kita lebih unggul dari orang-orang di jaman PB, dan mestinya melayani lebih hebat, karena kita lebih banyak tahu. Tetapi ternyata kita kalah dari mereka. Dibanding dengan semangat jemaat mula-mula, kita payah. Dan ini menjadi pembelajaran penting bagi kita, bagaimana seharusnya hidup dalam semangat pengabdian kepada Tuhan.
(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)
Oleh: Pdt Bigman Sirait
Info:
Jika Anda butuh:
1. Jasa Design Hotel, Villa, Spa, Resort, Landscape klik www.GunardiSaputra.com/Presiska atau hubungi Ardi di 08558827222
2.Peralatan makan Stainless Steel: Sendok Makan, Sendok Teh untuk usaha Anda (buka restoran atau catering) maupun untuk kegiatan promosi pemasaran Anda (pemberian hadiah atas produk dagangan Anda), hubungi: Ardi di 08558827222
3.Rekomendasi Saham klik www.GunardiSaputra.com
4.Promosi dengan Sendok Makan Stainless klik gl_trading.indonetwork.co.id
promosi Anda ya Sendok Makan atau Sendok Teh saja...
Di sini kita melihat bahwa Yohanes tidak mau mengambil sedikit pun keuntungan dari pemberitaannya, tetapi mampu menempatkan diri tentang apa yang harus diberitakan tanpa menambah atau menguranginya. Sekarang dia akan membicarakan tentang Kristus Yesus. Ketika melihat Yesus dia berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.” (29-34). Ketika itu Yohanes dan murid-muridnya berkumpul, danYesus berjalan di sana. Kita akan segera mengerti kalau istilah “Anak Domba” itu mengacu kepada Yesus Kristus. Anak Domba menyangkut kepada Dia yang berkorban untuk kita. Tetapi pada konteks saat itu, istilah Anak Domba tentu tidak bisa segera dimengerti sebagaimana kita saat ini. Dalam Perjanjian Lama (PL) gambaran tentang anak domba muncul waktu Abraham mempersembahkan Ishak. Abraham berkata bahwa ia harus memper-sembahkan korban anak domba, tetapi tidak ada, lalu siapa? Maka dipersembahkan-nyalah Ishak. Dan itu yang Tuhan minta. Dalam pergumulannya, Abraham berkata, “Aku percaya Tuhan bisa membangkitkan orang dari kematian”. Dan itu dipersaksikan dalam Ibrani. Jadi, Anak Domba Allah yang harus dikorbankan itu diekspresikan pada anak domba yang harus jadi korban. Tetapi ini harus dipahami, bahwa anak domba yang dikorbankan itu tidak pernah meminta agar dia dikorbankan. Lagi pula dia tidak bisa menolak, karena dia hanyalah seekor hewan domba saja. Lalu dalam peristiwa ketika orang-orang Israel keluar dari Mesir menuju Tanah Perjanjian, kembali anak domba menjadi simbol daripada keselamatan itu, karena anak domba dipotong lalu darahnya dibuat menjadi tanda di tiang-tiang rumah orang Israel. Maka ketika kematian datang dan membunuh anak-anak Mesir, hal itu tidak terjadi pada anak-anak Israel. Pada masa Abraham, anak domba simbol pengorbanan Ishak. Dalam peristiwa Israel keluar dari Mesir, anak domba jadi simbol dari keselamatan. Ketika orang Israel sampai di Tanah Perjanjian, dalam tata ibadah, domba menjadi penting, karena menjadi bagian dari penebusan dosa. Maka waktu itu sangat banyak domba yang disembelih karena banyaknya dosa orang Israel. Tapi ketika Yohanes Pembaptis berkata, “Inilah Anak Domba Allah…”, orang-orang tidak segera mengerti apa maksud Yohanes. Mereka tidak bisa membayangkan anak domba Allah yang dimaksud Yohanes apalagi menghubungkannya dengan Yesus. Jangan lupa, waktu itu sangat sedikit orang yang mengenal siapa Yesus. Murid-murid-Nya pun tidak semua mengenal siapa Yesus, bahkan ketika Dia disalib. Setelah Dia bangkit pada hari yang ke-3, barulah mereka mengerti apa yang dikatakan-Nya. Waktu Yohanes berkata, “Inilah Anak Domba Allah”, dia bicara tentang sesuatu yang sulit dipahami. Tetapi di dalam kesulitan memahami itu Yohanes justru membuka sebuah pemahaman baru, yang harus dimengerti orang Israel, yang harus mengerti siapa Kristus. Satu pihak sulit dipahami, tetapi di lain pihak harus dipahami, karena itulah jalur keselamatan itu. Sehingga istilah “anak domba” dengan segera menolong mereka untuk mengerti tentang arti penebusan. Tapi, bahwa istilah itu mengacu pada Kristus, mereka tidak mengerti secara utuh. Itu baru akan disingkap secara perlahan. Mengorbankan diri-Nya Kalau mengacu kepada Kristus sebagai anak domba Allah, Kristus bukanlah domba yang dikorbankan, karena Kristus adalah korban yang mengorbankan diri-Nya. Dia adalah Anak Domba yang memberikan diri-Nya. Dari sini kita melihat pergumulan Yesus di Taman Getsemane sangat penting. Saat itu Dia berdoa, “Jikalau boleh cawan ini boleh lalu dari pada-Ku, tetapi bukan kehendak-Ku, kehendak-Mu-lah yang jadi.” Domba tidak pernah bisa meminta atau menolak ketika dia dijadikan korban penebusan dosa. Tetapi Yesus bisa saja menolak kalau Dia mau. Tapi Dia rela. Di sinilah kita mengerti bahwa kasih pengorbanan Kristus di kayu salib bukan sekadar karena Dia mati, tetapi Dia mau mati dalam kedaulatan untuk bisa memilih untuk tidak mati. Yesus rela mati meski tidak punya kewajiban untuk mati. Yesus bisa menolak untuk mati, tetapi Dia mau. Di sinilah kita mengerti kasih yang besar itu. Ini beda dengan domba, yang tidak meminta tetapi juga tak bisa menolak. Dia dikorbankan untuk apa yang dia tidak lakukan. Tetapi sebagai simbol korban ia mirip, karena sama-sama kor-ban. Tetapi Yesus lebih agung dari nilai karena Dia memilih sendiri dalam kerelaan untuk menjadi korban. Waktu Yohanes berkata, “Lihatlah anak domba Allah”, dengan segera sebuah pemahaman besar dan luar biasa sudah dikumandangkan kepada seluruh Israel supaya mengetahui bahwa Dialah Anak Allah itu. Gambaran Kristus sebagai Anak Domba Allah bisa kita lihat dalam Yesaya 53, yang menceritakan bagaimana Kristus Tuhan itu, sang Tunas itu, sang Taruk itu akan dianiaya disiksa di kayu salib. Dan kemudian Paulus juga dengan jeli menangkap dan membicarakannya dalam 1 Kor 5: 7 “Dialah Anak Domba yaitu Yesus Kristus yang disalibkan”. Maka Paulus menangkap terang Yesaya 53. Dan di tengah-tengah itulah Yohanes berdiri mengatakan siapa Yesus. Tetapi ingat, waktu itu pengertian tentang Yesus Kristus sang Anak Domba Allah, tidak seutuh yang kita pahami sekarang. Karena waktu itu murid-murid saja masih banyak yang salah mengerti tentang siapa Yesus. Jadi dalam memahami Alkitab, kita perlu melihat konteks pada waktu itu. Jangan membaca secara konteks kita saat ini. Oleh karena itu, di satu sisi kita ini adalah orang yang sangat beruntung karena mengerti Alkitab dengan utuh: punya Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB). Mestinya kita lebih unggul dari orang-orang di jaman PB, dan mestinya melayani lebih hebat, karena kita lebih banyak tahu. Tetapi ternyata kita kalah dari mereka. Dibanding dengan semangat jemaat mula-mula, kita payah. Dan ini menjadi pembelajaran penting bagi kita, bagaimana seharusnya hidup dalam semangat pengabdian kepada Tuhan.
(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)
Oleh: Pdt Bigman Sirait
Info:
Jika Anda butuh:
1. Jasa Design Hotel, Villa, Spa, Resort, Landscape klik www.GunardiSaputra.com/Presiska atau hubungi Ardi di 08558827222
2.Peralatan makan Stainless Steel: Sendok Makan, Sendok Teh untuk usaha Anda (buka restoran atau catering) maupun untuk kegiatan promosi pemasaran Anda (pemberian hadiah atas produk dagangan Anda), hubungi: Ardi di 08558827222
3.Rekomendasi Saham klik www.GunardiSaputra.com
4.Promosi dengan Sendok Makan Stainless klik gl_trading.indonetwork.co.id
promosi Anda ya Sendok Makan atau Sendok Teh saja...
BS: Takut akan Tuhan, Memerdekakan Kita
TAKUT kepada Tuhan merupakan tuntutan Tuhan. Sebagaimana tertulis dalam Ulangan 6: 1-3, umat dituntut untuk takut kepada Tuhan, bukan saja satu generasi tetapi semua generasi, artinya bukan hanya orang tua tetapi juga anak-anak. Maka orang tua yang mewarisi rasa takut yang benar kepada Tuhan harus menurunkannya kepada anak-anaknya. Tetapi takut di sini bukan dalam pengertian “ngeri”, tetapi hormat kepada Tuhan. Adalah sangat mengerikan ketika kita tidak lagi punya rasa takut kepada Tuhan. Benak kita yang dipenuhi dosa membuat tidak ada lagi ruang untuk takut kepada Tuhan.
Mengapa kita harus takut kepada Tuhan? Pertama karena Tuhan yang menciptakan kita. Sudah pada tempatnya kita takut pada-Nya, karena Dia bukan saja pencipta, tetapi juga pemelihara. Jikalau Dia tidak mau memelihara hidup kita, mau apa kita? Dia Sang Pencipta yang setia di dalam pemeliharaan-Nya, maka Dia menuntut kita untuk takut kepada Dia. Bukankah itu logis? Tanpa diminta pun sudah seharusnya kita takut kepada Tuhan. Kedua, Dia adalah pencipta dan pemelihara tetapi juga pencemburu. Pengertian pencemburu di sini adalah Dia tidak mau melihat kita berbuat dosa, Dia Allah yang menuntut kita hidup kudus di hadapan-Nya sebagaimana Dia kudus adanya.
Takut akan Allah itu menum-buhkembangkan sikap hormat yang akan memberikan warna keagamaan yang absolutely benar. Ketika agama-agama menampilkan keberingasan, tidak lagi mampu mengekspresikan cinta kasih seperti tuntutan Tuhan, hidup suci seperti tuntutan Tuhan, patut dipertanyakan apakah agama itu betul-betul takut kepada Tuhan, atau hanya sekadar semboyan dan slogan mengatakan takut kepada Tuhan, tetapi pada hakekatnya tidak. Takut akan Tuhan menjadi penting dalam hidup kita, karena tanpa Dia hidup kita tidak mempunyai arah. Tanpa Dia, pergumulan hidup akan menjadi kepahitan dan kesakitan yang menghimpit dan menghancurkan kita. Tetapi di dalam takut akan Allah, kita akan menikmati pemeliharaan itu, yang artinya juga menikmati kehidupan. Di situlah nikmatnya kebersamaan kita dengan Dia.
Takut akan Allah tidak boleh dalam gelap mata yang sekadar sebuah statemen tetapi tidak dipahami secara utuh apa maksudnya. Takutlah akan Tuhan Allahmu karena engkau layak takut kepada Dia, yang sudah menjadikan dan memeliharamu, sehingga tiada satu hari akan bergulir jikalau bukan karena campur tangan Tuhan. Tiada sesuatu pun yang hebat dalam diri kita. Orang yang takut akan Tuhan akan melakukan apa yang Tuhan suka. Orang yang takut Tuhan akan memelihara hubungan baiknya dengan Tuhan melalui perenungan, doa, saat teduh yang membawa dia semakin dekat kepada Tuhan.
Tidak membuat bodoh
Orang yang takut Tuhan akan memiliki hidup yang sangat menyenangkan, menggembirakan semua orang, karena dia men-demonstrasikan buah-buah di dalam kehidupannya. Takut akan Tuhan tidak akan membuat kita menjadi bodoh, kehilangan gairah hidup. Takut akan Tuhan tidak membuat kita terkurung, tetapi justru memerdekakan kita. Takut akan Tuhan akan memberikan berbagai nuansa dan kegembiraan dalam hidup kita. Takut akan Tuhan menolong kita menemukan kesejatian hidup. Alkitab berkata: berbahagialah orang yang takut akan Tuhan, karena takut akan Tuhan mendatangkan kebahagiaan dan pemahaman dan penge-tahuan. Takut akan Tuhan harus menjadi kekayaan di dalam hidup kita, menjadi kegairahan bahwa Tuhan itu hidup, membimbing dan menuntun kita. Takut akan Tuhan membuat kita merdeka dari rasa takut, karena takut Tuhan secara positif menghilangkan rasa takut atas apa pun, termasuk dalam perjalanan menyongsong masa depan.
Bagi orang yang takut Tuhan, kebahagiaan itu bukan bergantung pada berapa besar ekonomi, berapa sehatnya, tingginya posisi atau jabatan, tetapi tergantung pada berapa takutnya kita pada Tuhan. Maka Tuhan akan memberikan kita kekuatan di dalam kesakitan. Tuhan akan memberikan rasa syukur yang limpah. Ketika kita berlimpah dalam hidup, itu bukan masalah, karena ketika kurang saja pun kita mampu bahagia. Maka kurang, tambah, sehat, sakit, naik turun, itu hanya menjadi dinamika di dalam kehidupan. Tetapi pada inti dan hakekatnya tetap menaruh peng-harapan pada Tuhan. Maka jangan lari dari pimpinan Tuhan. Lakukan kehendak-Nya. Takutlah akan Dia, karena itu akan menjamin bukan hanya dirimu tetapi anak-cucumu, serta memberi ketenangan dan kelegaan.
Banyak orang, hanya untuk menunjukkan keberanian, mende-monstrasikan tidak takut akan Tuhan, dengan cara membuat orang takut pada mereka. Mereka tampil garang, menekan dan menghimpit orang lain. Tapi mereka tidak sadar dia sudah membunuh dan menghabiskan dirinya, kehi-langan cinta kasih dari Tuhan. Orang-orang yang takut Tuhan tidak merasa perlu untuk membuat orang lain takut. Justru orang yang takut Tuhan menimbulkan rasa suka dan senang bagi orang lain, karena dia diliputi dan hidup dalam kebenaran. Orang tua yang takut Tuhan akan memberikan ketenangan bagi batin anak-anaknya. Sebaliknya, suami-suami yang tidak takut Tuhan hanya menciptakan rasa takut terhadap istrinya. Orang-orang tua yang tidak takut Tuhan akan menciptakan malapetaka di dalam rumah tangganya. Anak-anak hanya tunduk karena rasa takut. Jadi kalau mau bahagia keluargamu, takutlah akan Tuhan.
Jadi, camkan dan pikirkan baik-baik. Jangan habiskan rasa takutmu pada tempat yang salah, seperti: takut pada masa depan, takut pada kehidupan. Tetapi habiskanlah rasa takutmu pada tempat yang pas dan tepat: takut akan Tuhan dengan hidup memuliakan nama-Nya. Ini kata kunci dalam kebahagiaan. Karena itu takutlah akan Tuhan, karena memang itulah pusat kebahagiaan dalam hidup kita. Takut akan Tuhan tidak sama dengan mulut kita mengatakan takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan sama dengan hidup mengekspresikan cinta kasih yang utuh dalam buah-buah nyata yang bisa dilihat mata. Dan orang lain bisa menilai dan tahu: “Inilah orang yang takut akan Tuhan”. Ini tidak bisa dimanipulaisi, bukan sekadar gaya dan penampilan, kerohanian, teriakan atau kesaksian, bukan pula demonstrasi keagamaan, tetapi keluar dari hati yang jujur.
Takutlah pada Tuhan dengan memilih ketetapan-ketetapan-Nya, bukan ketetapan dunia, sehingga engkau berani seperti yang dikatakan Yesus: “Kalau mau ikut Aku sangkal diri, pikul salib!”
(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)
Oleh: Pdt Bigman Sirait
Info:
Jika Anda butuh:
1. Jasa Design Hotel, Villa, Spa, Resort, Landscape klik www.GunardiSaputra.com/Presiska atau hubungi Ardi di 08558827222
2.Peralatan makan Stainless Steel: Sendok Makan, Sendok Teh untuk usaha Anda (buka restoran atau catering) maupun untuk kegiatan promosi pemasaran Anda (pemberian hadiah atas produk dagangan Anda), hubungi: Ardi di 08558827222
3.Rekomendasi Saham klik www.GunardiSaputra.com
4.Promosi dengan Sendok Makan Stainless klik gl_trading.indonetwork.co.id
promosi Anda ya Sendok Makan atau Sendok Teh saja...
Mengapa kita harus takut kepada Tuhan? Pertama karena Tuhan yang menciptakan kita. Sudah pada tempatnya kita takut pada-Nya, karena Dia bukan saja pencipta, tetapi juga pemelihara. Jikalau Dia tidak mau memelihara hidup kita, mau apa kita? Dia Sang Pencipta yang setia di dalam pemeliharaan-Nya, maka Dia menuntut kita untuk takut kepada Dia. Bukankah itu logis? Tanpa diminta pun sudah seharusnya kita takut kepada Tuhan. Kedua, Dia adalah pencipta dan pemelihara tetapi juga pencemburu. Pengertian pencemburu di sini adalah Dia tidak mau melihat kita berbuat dosa, Dia Allah yang menuntut kita hidup kudus di hadapan-Nya sebagaimana Dia kudus adanya.
Takut akan Allah itu menum-buhkembangkan sikap hormat yang akan memberikan warna keagamaan yang absolutely benar. Ketika agama-agama menampilkan keberingasan, tidak lagi mampu mengekspresikan cinta kasih seperti tuntutan Tuhan, hidup suci seperti tuntutan Tuhan, patut dipertanyakan apakah agama itu betul-betul takut kepada Tuhan, atau hanya sekadar semboyan dan slogan mengatakan takut kepada Tuhan, tetapi pada hakekatnya tidak. Takut akan Tuhan menjadi penting dalam hidup kita, karena tanpa Dia hidup kita tidak mempunyai arah. Tanpa Dia, pergumulan hidup akan menjadi kepahitan dan kesakitan yang menghimpit dan menghancurkan kita. Tetapi di dalam takut akan Allah, kita akan menikmati pemeliharaan itu, yang artinya juga menikmati kehidupan. Di situlah nikmatnya kebersamaan kita dengan Dia.
Takut akan Allah tidak boleh dalam gelap mata yang sekadar sebuah statemen tetapi tidak dipahami secara utuh apa maksudnya. Takutlah akan Tuhan Allahmu karena engkau layak takut kepada Dia, yang sudah menjadikan dan memeliharamu, sehingga tiada satu hari akan bergulir jikalau bukan karena campur tangan Tuhan. Tiada sesuatu pun yang hebat dalam diri kita. Orang yang takut akan Tuhan akan melakukan apa yang Tuhan suka. Orang yang takut Tuhan akan memelihara hubungan baiknya dengan Tuhan melalui perenungan, doa, saat teduh yang membawa dia semakin dekat kepada Tuhan.
Tidak membuat bodoh
Orang yang takut Tuhan akan memiliki hidup yang sangat menyenangkan, menggembirakan semua orang, karena dia men-demonstrasikan buah-buah di dalam kehidupannya. Takut akan Tuhan tidak akan membuat kita menjadi bodoh, kehilangan gairah hidup. Takut akan Tuhan tidak membuat kita terkurung, tetapi justru memerdekakan kita. Takut akan Tuhan akan memberikan berbagai nuansa dan kegembiraan dalam hidup kita. Takut akan Tuhan menolong kita menemukan kesejatian hidup. Alkitab berkata: berbahagialah orang yang takut akan Tuhan, karena takut akan Tuhan mendatangkan kebahagiaan dan pemahaman dan penge-tahuan. Takut akan Tuhan harus menjadi kekayaan di dalam hidup kita, menjadi kegairahan bahwa Tuhan itu hidup, membimbing dan menuntun kita. Takut akan Tuhan membuat kita merdeka dari rasa takut, karena takut Tuhan secara positif menghilangkan rasa takut atas apa pun, termasuk dalam perjalanan menyongsong masa depan.
Bagi orang yang takut Tuhan, kebahagiaan itu bukan bergantung pada berapa besar ekonomi, berapa sehatnya, tingginya posisi atau jabatan, tetapi tergantung pada berapa takutnya kita pada Tuhan. Maka Tuhan akan memberikan kita kekuatan di dalam kesakitan. Tuhan akan memberikan rasa syukur yang limpah. Ketika kita berlimpah dalam hidup, itu bukan masalah, karena ketika kurang saja pun kita mampu bahagia. Maka kurang, tambah, sehat, sakit, naik turun, itu hanya menjadi dinamika di dalam kehidupan. Tetapi pada inti dan hakekatnya tetap menaruh peng-harapan pada Tuhan. Maka jangan lari dari pimpinan Tuhan. Lakukan kehendak-Nya. Takutlah akan Dia, karena itu akan menjamin bukan hanya dirimu tetapi anak-cucumu, serta memberi ketenangan dan kelegaan.
Banyak orang, hanya untuk menunjukkan keberanian, mende-monstrasikan tidak takut akan Tuhan, dengan cara membuat orang takut pada mereka. Mereka tampil garang, menekan dan menghimpit orang lain. Tapi mereka tidak sadar dia sudah membunuh dan menghabiskan dirinya, kehi-langan cinta kasih dari Tuhan. Orang-orang yang takut Tuhan tidak merasa perlu untuk membuat orang lain takut. Justru orang yang takut Tuhan menimbulkan rasa suka dan senang bagi orang lain, karena dia diliputi dan hidup dalam kebenaran. Orang tua yang takut Tuhan akan memberikan ketenangan bagi batin anak-anaknya. Sebaliknya, suami-suami yang tidak takut Tuhan hanya menciptakan rasa takut terhadap istrinya. Orang-orang tua yang tidak takut Tuhan akan menciptakan malapetaka di dalam rumah tangganya. Anak-anak hanya tunduk karena rasa takut. Jadi kalau mau bahagia keluargamu, takutlah akan Tuhan.
Jadi, camkan dan pikirkan baik-baik. Jangan habiskan rasa takutmu pada tempat yang salah, seperti: takut pada masa depan, takut pada kehidupan. Tetapi habiskanlah rasa takutmu pada tempat yang pas dan tepat: takut akan Tuhan dengan hidup memuliakan nama-Nya. Ini kata kunci dalam kebahagiaan. Karena itu takutlah akan Tuhan, karena memang itulah pusat kebahagiaan dalam hidup kita. Takut akan Tuhan tidak sama dengan mulut kita mengatakan takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan sama dengan hidup mengekspresikan cinta kasih yang utuh dalam buah-buah nyata yang bisa dilihat mata. Dan orang lain bisa menilai dan tahu: “Inilah orang yang takut akan Tuhan”. Ini tidak bisa dimanipulaisi, bukan sekadar gaya dan penampilan, kerohanian, teriakan atau kesaksian, bukan pula demonstrasi keagamaan, tetapi keluar dari hati yang jujur.
Takutlah pada Tuhan dengan memilih ketetapan-ketetapan-Nya, bukan ketetapan dunia, sehingga engkau berani seperti yang dikatakan Yesus: “Kalau mau ikut Aku sangkal diri, pikul salib!”
(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)
Oleh: Pdt Bigman Sirait
Info:
Jika Anda butuh:
1. Jasa Design Hotel, Villa, Spa, Resort, Landscape klik www.GunardiSaputra.com/Presiska atau hubungi Ardi di 08558827222
2.Peralatan makan Stainless Steel: Sendok Makan, Sendok Teh untuk usaha Anda (buka restoran atau catering) maupun untuk kegiatan promosi pemasaran Anda (pemberian hadiah atas produk dagangan Anda), hubungi: Ardi di 08558827222
3.Rekomendasi Saham klik www.GunardiSaputra.com
4.Promosi dengan Sendok Makan Stainless klik gl_trading.indonetwork.co.id
promosi Anda ya Sendok Makan atau Sendok Teh saja...
BS: Penginjil Harus Mengalami Pertobatan
DALAM Injil Yohanes 4 dikisahkan tentang dialog Yesus dengan seorang perempuan Samaria. Perempuan ini hidup sangat tercela, berpindah-pindah dari satu pria ke pria lain. Tetapi pertemuannya dengan Yesus mengubah seluruh wawasan hidupnya. Ia menemukan kesejatian dari Yesus yang berkata, “Akulah Mesias, yang sedang berkata-kata dengan engkau”.
Pertemuan yang sangat pribadi itu mengubah seluruh wawasan perempuan itu, mengakibatkan dia bukan wanita asusila lagi, tetapi beragama. Asusila artinya tidak punya susila, agama artinya tidak kacau. Perubahan atau lompatan ini sangat luar biasa, dan terjadi dalam sebuah pertemuan/dialog. Ini bisa terjadi karena Kristus punya kuasa yang melintasi kemampuan dan ketidakmampuan manusia. Kristus menyatakan kuasa-Nya membuat si perempuan itu mengenal dan bergantung pada Dia sepenuhnya. Ia menjadi orang percaya, berubah dari orang berdosa menjadi orang benar.
Sebelumnya dikatakan bagaimana Yesus memberikan prinsip baru kepada perempuan Samaria itu. “Selama ini engkau menyembah kepada allah yang tidak kau kenal”. Orang-orang Samaria memang jatuh ke dalam penyembahan berhala, dan itu membutakan mereka, membawa mereka kepada penyembahan yang salah. Mereka mengerti kisah tentang Juru Selamat, tetapi sudah campur aduk dengan keberhalaan.
Yesus memulai dengan kalimat yang luar biasa: “Mengenal Allah yang benar adalah mengenal Dia dalam roh dan kebenaran”. Artinya, Allah itu roh, bukan fisik (benda). Jadi tidak perlu ke gunung mencari Allah. Allah itu roh, kita tak mungkin menjamah atau membuat-Nya menjadi satu wujud yang kepadanya kita menyembah. Dan kebenaran adalah Allah, firman hidup itu, firman yang membenarkan. Maka kebenaran, yaitu firman, berhubungan dengan Dia. Memahami Dia, memahami kebenaran. Dan kebenaran itu adalah Yesus yang berkata, “Akulah jalan, kebenaran dan hidup…”
Pertemuan perempuan Samaria dengan Kristus membawa dia menemukan Allah sejati, Allah yang roh itu. Kita harus menyembah Dia dalam roh dan kebenaran. Dan sekarang Mesias itu ada di depan dia. Karena itu, dia mengalami perubahan yang sangat dahsyat. Sesudah pertemuan yang mengubah hidupnya itu, wanita Samaria itu kembali ke kampungnya, bercerita kepada semua orang tentang apa yang sudah dikerjakan Yesus baginya. Yesus membuka seluruh aib dan dosanya. Dia tak lagi mampu bersembunyi. Kristus tahu seluruh perilaku dan dosa-dosanya. Padahal baru pertama kali itu dia bertemu Kristus. Kuasa Kristus membukakan matanya bahwa dia berhadapan dengan Mesias, anak Allah. Berkat kesaksian perempuan itu, orang Samaria banyak yang jadi percaya.
Kuasa Kristus telah mengubah ketakutan menjadi keberanian yang luar biasa. Wanita yang malu karena hidup sebagai sampah masyarakat, mendadak jadi wanita berani dan luar biasa menyuarakan kebenaran itu. Dia menjelajah kampung, memberitakan tentang apa yang Yesus kerjakan, yakni pengampunan dosa. Satu kampung itu menemui Yesus, mendengar kata-kata-Nya, dan bertobat. Wanita Samaria itu bukan rasul. Dia penginjil yang mengalami pertobatan. Ia bukan calo yang menyuarakan kebenaran tetapi ia sendiri dalam posisi yang tidak benar.
Panggilan dan pertobatan
Penginjil mengalami pertobatan, ini sangat penting. Karena banyak orang menjadi penginjil tetapi pertobatannya diragukan. Orang-orang bertanya-tanya tentang perilakunya yang tidak karuan, gaya hidupnya yang tidak mencerminkan kehidupan orang percaya. Orang mereka-reka, rupanya dia hanya fasih lidah, pintar bicara. Ia minta orang bertobat, tetapi ia sendiri tidak mempunyainya.
Menjadi penginjil harus punya panggilan yang jelas, seperti perempuan Samaria itu. Kristus sudah memanggil dia. Kuasa itu mengubah dan menggugah dia sehingga memiliki keberanian yang luar biasa, bukan karena kemampuan diri tetapi karena kemurahan dan panggilan Allah. Pertobatan harus diikuti panggilan yang aktual. Penginjil diukur dari perkataannya. Perempuan itu tidak berkata-kata tentang diri atau kehebatannya. Tetapi dia berbicara tentang apa yang Yesus perbuat atas dirinya. Kalau sekarang, banyak orang Kristen berbicara tentang dirinya yang hebat, sampai berita tentang Kristus pun tenggelam.
Penginjil bukan hanya diukur dari perkataan, tetapi juga perbuatan. Maka seharusnya setiap orang berkewajiban mengamati mereka yang menyebut diri penginjil atau pendeta, bagaimana perilaku mereka. Yesus sendiri berkata, “Hei orang buta jangan ikut orang buta”. Orang berdosa, orang celaka kau percayakan dirimu pada orang-orang berdosa pula, yang menjadi penginjil atau pendeta hanya untuk perut, bisnis. Bukan Tuhan, tetapi materi yang dia cari. Kau percayakan dirimu pada orang-orang seperti itu, betapa bodohnya kau.
Yesus mengerjakan banyak hal luar biasa dahsyat. Beritakan namanya sungguh luar biasa. Maka perempuan Samaria, yang bukan apa-apa, menjadi “apa-apa”, di tangan Yesus. Yesus tak memanggil dia untuk menjadi rasul, pengkhotbah, dia hanya menceritakan apa yang dialaminya bersama Yesus. Itu tak membuatnya menjadi pemimpin agama. Lain dengan sekarang. Sedikit-sedikit sudah bersaksi ke sana ke mari, dan orang mengenal dia penginjil atau pendeta. Tetapi ketika diuji pemahaman Alkitabnya sangat mengerikan. Timbullah kekacauan. Ini yang disebut experience theology, orang berteologi hanya dari pengalaman, tetapi tidak ada pemahaman tentang firman hidup itu.
Jangan pernah berkata, “Aku hebat dan mampu, maka menjadi penginjil atau pendeta”. Tetapi sebaliknya jangan pernah berkata, “Aku tak mampu karena bodoh…”. Kau hina dirimu, karena kau tak berhak menghina dirimu, karena itu sama saja menghina Allah, seakan-akan Allah tidak mampu mengubah dan memakai engkau dengan cara-Nya. Jangan pernah puji diri, tetapi juga jangan hina diri. Tetapi biarlah Tuhan melakukan apa yang mau dilakukan-Nya terhadapmu. Biarlah engkau menaklukkan dirimu, percaya sungguh pada-Nya, mendengar panggilan-Nya dan berkata-katalah sesuai pimpinan-Nya. Bukan kehendakmu tetapi kehendak Dia, maka Dia akan memakaimu dengan cara luar biasa.
Maka hidup kita akan mengalami perubahan dahsyat dalam perkataan dan perbuatan yang seimbang. Pertobatan dan panggilan yang kuat dalam batin mengakibatkan perubahan-perubahan pada lingkungan, di mana akhirnya orang-orang percaya pada Kristus. Saudara ingin menjadi saluran berkat? Tanya dirimu, sudahkah terima Dia dalam hidupmu? Ceritakanlah kasih-Nya.
(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)
Oleh: Pdt.Bigman Sirait
Info:
Jika Anda butuh:
1. Jasa Design Hotel, Villa, Spa, Resort, Landscape klik www.GunardiSaputra.com/Presiska atau hubungi Ardi di 08558827222
2.Peralatan makan Stainless Steel: Sendok Makan, Sendok Teh untuk usaha Anda (buka restoran atau catering) maupun untuk kegiatan promosi pemasaran Anda (pemberian hadiah atas produk dagangan Anda), hubungi: Ardi di 08558827222
3.Rekomendasi Saham klik www.GunardiSaputra.com
4.Promosi dengan Sendok Makan Stainless klik gl_trading.indonetwork.co.id
promosi Anda ya Sendok Makan atau Sendok Teh saja...
Pertemuan yang sangat pribadi itu mengubah seluruh wawasan perempuan itu, mengakibatkan dia bukan wanita asusila lagi, tetapi beragama. Asusila artinya tidak punya susila, agama artinya tidak kacau. Perubahan atau lompatan ini sangat luar biasa, dan terjadi dalam sebuah pertemuan/dialog. Ini bisa terjadi karena Kristus punya kuasa yang melintasi kemampuan dan ketidakmampuan manusia. Kristus menyatakan kuasa-Nya membuat si perempuan itu mengenal dan bergantung pada Dia sepenuhnya. Ia menjadi orang percaya, berubah dari orang berdosa menjadi orang benar.
Sebelumnya dikatakan bagaimana Yesus memberikan prinsip baru kepada perempuan Samaria itu. “Selama ini engkau menyembah kepada allah yang tidak kau kenal”. Orang-orang Samaria memang jatuh ke dalam penyembahan berhala, dan itu membutakan mereka, membawa mereka kepada penyembahan yang salah. Mereka mengerti kisah tentang Juru Selamat, tetapi sudah campur aduk dengan keberhalaan.
Yesus memulai dengan kalimat yang luar biasa: “Mengenal Allah yang benar adalah mengenal Dia dalam roh dan kebenaran”. Artinya, Allah itu roh, bukan fisik (benda). Jadi tidak perlu ke gunung mencari Allah. Allah itu roh, kita tak mungkin menjamah atau membuat-Nya menjadi satu wujud yang kepadanya kita menyembah. Dan kebenaran adalah Allah, firman hidup itu, firman yang membenarkan. Maka kebenaran, yaitu firman, berhubungan dengan Dia. Memahami Dia, memahami kebenaran. Dan kebenaran itu adalah Yesus yang berkata, “Akulah jalan, kebenaran dan hidup…”
Pertemuan perempuan Samaria dengan Kristus membawa dia menemukan Allah sejati, Allah yang roh itu. Kita harus menyembah Dia dalam roh dan kebenaran. Dan sekarang Mesias itu ada di depan dia. Karena itu, dia mengalami perubahan yang sangat dahsyat. Sesudah pertemuan yang mengubah hidupnya itu, wanita Samaria itu kembali ke kampungnya, bercerita kepada semua orang tentang apa yang sudah dikerjakan Yesus baginya. Yesus membuka seluruh aib dan dosanya. Dia tak lagi mampu bersembunyi. Kristus tahu seluruh perilaku dan dosa-dosanya. Padahal baru pertama kali itu dia bertemu Kristus. Kuasa Kristus membukakan matanya bahwa dia berhadapan dengan Mesias, anak Allah. Berkat kesaksian perempuan itu, orang Samaria banyak yang jadi percaya.
Kuasa Kristus telah mengubah ketakutan menjadi keberanian yang luar biasa. Wanita yang malu karena hidup sebagai sampah masyarakat, mendadak jadi wanita berani dan luar biasa menyuarakan kebenaran itu. Dia menjelajah kampung, memberitakan tentang apa yang Yesus kerjakan, yakni pengampunan dosa. Satu kampung itu menemui Yesus, mendengar kata-kata-Nya, dan bertobat. Wanita Samaria itu bukan rasul. Dia penginjil yang mengalami pertobatan. Ia bukan calo yang menyuarakan kebenaran tetapi ia sendiri dalam posisi yang tidak benar.
Panggilan dan pertobatan
Penginjil mengalami pertobatan, ini sangat penting. Karena banyak orang menjadi penginjil tetapi pertobatannya diragukan. Orang-orang bertanya-tanya tentang perilakunya yang tidak karuan, gaya hidupnya yang tidak mencerminkan kehidupan orang percaya. Orang mereka-reka, rupanya dia hanya fasih lidah, pintar bicara. Ia minta orang bertobat, tetapi ia sendiri tidak mempunyainya.
Menjadi penginjil harus punya panggilan yang jelas, seperti perempuan Samaria itu. Kristus sudah memanggil dia. Kuasa itu mengubah dan menggugah dia sehingga memiliki keberanian yang luar biasa, bukan karena kemampuan diri tetapi karena kemurahan dan panggilan Allah. Pertobatan harus diikuti panggilan yang aktual. Penginjil diukur dari perkataannya. Perempuan itu tidak berkata-kata tentang diri atau kehebatannya. Tetapi dia berbicara tentang apa yang Yesus perbuat atas dirinya. Kalau sekarang, banyak orang Kristen berbicara tentang dirinya yang hebat, sampai berita tentang Kristus pun tenggelam.
Penginjil bukan hanya diukur dari perkataan, tetapi juga perbuatan. Maka seharusnya setiap orang berkewajiban mengamati mereka yang menyebut diri penginjil atau pendeta, bagaimana perilaku mereka. Yesus sendiri berkata, “Hei orang buta jangan ikut orang buta”. Orang berdosa, orang celaka kau percayakan dirimu pada orang-orang berdosa pula, yang menjadi penginjil atau pendeta hanya untuk perut, bisnis. Bukan Tuhan, tetapi materi yang dia cari. Kau percayakan dirimu pada orang-orang seperti itu, betapa bodohnya kau.
Yesus mengerjakan banyak hal luar biasa dahsyat. Beritakan namanya sungguh luar biasa. Maka perempuan Samaria, yang bukan apa-apa, menjadi “apa-apa”, di tangan Yesus. Yesus tak memanggil dia untuk menjadi rasul, pengkhotbah, dia hanya menceritakan apa yang dialaminya bersama Yesus. Itu tak membuatnya menjadi pemimpin agama. Lain dengan sekarang. Sedikit-sedikit sudah bersaksi ke sana ke mari, dan orang mengenal dia penginjil atau pendeta. Tetapi ketika diuji pemahaman Alkitabnya sangat mengerikan. Timbullah kekacauan. Ini yang disebut experience theology, orang berteologi hanya dari pengalaman, tetapi tidak ada pemahaman tentang firman hidup itu.
Jangan pernah berkata, “Aku hebat dan mampu, maka menjadi penginjil atau pendeta”. Tetapi sebaliknya jangan pernah berkata, “Aku tak mampu karena bodoh…”. Kau hina dirimu, karena kau tak berhak menghina dirimu, karena itu sama saja menghina Allah, seakan-akan Allah tidak mampu mengubah dan memakai engkau dengan cara-Nya. Jangan pernah puji diri, tetapi juga jangan hina diri. Tetapi biarlah Tuhan melakukan apa yang mau dilakukan-Nya terhadapmu. Biarlah engkau menaklukkan dirimu, percaya sungguh pada-Nya, mendengar panggilan-Nya dan berkata-katalah sesuai pimpinan-Nya. Bukan kehendakmu tetapi kehendak Dia, maka Dia akan memakaimu dengan cara luar biasa.
Maka hidup kita akan mengalami perubahan dahsyat dalam perkataan dan perbuatan yang seimbang. Pertobatan dan panggilan yang kuat dalam batin mengakibatkan perubahan-perubahan pada lingkungan, di mana akhirnya orang-orang percaya pada Kristus. Saudara ingin menjadi saluran berkat? Tanya dirimu, sudahkah terima Dia dalam hidupmu? Ceritakanlah kasih-Nya.
(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)
Oleh: Pdt.Bigman Sirait
Info:
Jika Anda butuh:
1. Jasa Design Hotel, Villa, Spa, Resort, Landscape klik www.GunardiSaputra.com/Presiska atau hubungi Ardi di 08558827222
2.Peralatan makan Stainless Steel: Sendok Makan, Sendok Teh untuk usaha Anda (buka restoran atau catering) maupun untuk kegiatan promosi pemasaran Anda (pemberian hadiah atas produk dagangan Anda), hubungi: Ardi di 08558827222
3.Rekomendasi Saham klik www.GunardiSaputra.com
4.Promosi dengan Sendok Makan Stainless klik gl_trading.indonetwork.co.id
promosi Anda ya Sendok Makan atau Sendok Teh saja...
Labels:
Baca Kotbah,
Denger Kotbah,
Kotbah,
Kotbah Bigman,
Kotbah Bigman Sirait
BS: Apakah Setiap Opportunity Harus Ditangkap?
Kejadian 13: 1-13, Abraham dan keponakannya, Lot, menghadapi masalah. Tidak memadainya lahan di Negeb yang mereka tempati setelah keluar dari Mesir, menimbulkan pertikaian. Untuk menghindari pertikaian berlanjut, Abraham menyarankan mereka berpisah. Abraham memberi kesempatan kepada Lot untuk memilih wilayah yang dia sukai. Dan Lot memilih Lembah Yordan yang subur.
Kita sudah melihat bagaimana Abraham dibentuk menjadi bapak orang beriman. Dia pernah gagal tetapi bangun kembali dan membuat hal-hal yang luar biasa khususnya di bagian ini. Perkembangan harta benda mereka sangat luar biasa. Harta Abraham berkembang, harta Lot juga berkembang. Tapi yang perlu kita pikirkan adalah, Lot itu keponakannya yang waktu kecil dibawanya. Artinya, Abraham memberi peluang yang baik bagi keponakannya untuk bertumbuh dan berkembang bersama. Dia tidak memonopoli semua untuk dirinya. Ini bisnis yang sangat kristiani.
Hanya saja kemudian muncul masalah karena lahan. Terjadi perkelahian antara gembala Lot dan gembala Abraham. Tetapi Abraham yang justru mengambil sikap dan berkata: Kita ini sudah diberkati Tuhan dengan harta benda yang luar biasa. Kita ini saudara, kenapa mesti ribut? Janganlah ada perkelahian antara
aku dengan engkau, antara gembalamu dan gembalaku sebab kita ini kerabat (ay. 8). Abraham punya sikap dan membuktikan kedewasaannya, sekaligus kepe-kaannya sebagai seorang pe-mimpin. Dia mengambil inisiatif menciptakan damai, bukan pertikaian. Dia tidak meman-faatkan kesempatan sebagai paman, untuk menekan bisnis keponakannya.
0pportunity atau kesempatan, itu yang akan kita pikirkan. Dalam persoalan ini Abraham punya kedudukan tinggi, dan sebenar-nya keputusan ada di tangannya. Menarik ketika Abraham berkata, “Kita baiknya berpisah, karena lahan yang tidak memadai, karena itu pilihlah dan lihatlah, kau mau ke utara aku ke selatan, kau mau ke barat aku ke timur” (ay. 9). Artinya, Abraham memberi kesempatan kepada Lot untuk memilih. Abraham mengambil posisi rugi. Karena kalau Lot mengambil yang terbaik, Abaraham mendapat sisanya.
Di sisi lain kita melihat Lot yang tidak merasa sungkan meman-faatkan kesempatan. Lot tidak memiliki lagi kepekaan hati nurani. Seharusnya Lot mempunyai itu karena sejak kecil ikut Abraham. Tetapi kuatnya dorongan untuk memiliki harta benda yang lebih banyak lagi, membuat Lot menekan suara hati. Bagi Lot ini kesempatan emas yang tidak akan datang dua kali. Bahwa itu kelihatan tidak etis, menyalip paman sendiri, bodoh amat, yang penting dapat.
Secara logika sederhana, Lot betul, tetapi secara etika di mana rasa sungkannya sebagai kepo-nakan. Di mana penghargaannya? Lot menggunakan kesempatan itu untuk memperkaya diri, bukan untuk hormat diri. Mestinya dia mempersilakan Abraham mengam-bil lebih dulu. Itu sebenarnya kesempatan bagi Lot untuk menyatakan sikap yang baik. Tetapi Lot tidak melihat kesem-patan itu, dia mengambil kesem-patan untuk memperoleh materi. Lot ambil kesempatan untuk keuntungan diri, bukan hormat diri. Lot mengambil kesempatan memperkaya diri, bukan mendemonstrasikan harga diri.
Mata jasmani
Opportunity-nya sama, tetapi Lot memilih yang menyangkut masalah materi. Maka Lot memilih Sodom dan Gomorah karena tempat itu sangat indah. Banyak pohon yang menjanjikan masa depan bisnisnya. Tetapi Alkitab mencatat orang Sodom dan Gomorah jahat, berdosa pada Tuhan. Artinya keputusannya membawanya ke pilihan yang salah, yang dibenci Tuhan. Karena Lot hanya melihat dengan mata jasmani yang memuaskan keinginan materinya. Maka Lot terperangkap dalam sebuah opportunity yang salah. Opportunity memang kesempatan yang tidak boleh disia-siakan, tidak terulang dengan momentum dan model yang sama. Tetapi, apakah setiap opportunity harus ditangkap dan dimanfaatkan? Apakah setiap opportunity pasti sesuai kehendak Tuhan?
Naluri bisnis kita boleh tajam, tetapi perlu juga kita tahu apakah ini Tuhan mau atau tidak? Banyak pilihan yang salah dan berakibat fatal. Karena itu, kita juga harus peka pada pimpinan Allah. Yang baik menurut mata belum tentu baik menurut Tuhan. Pemahaman seperti inilah yang dimiliki Abraham. Dia menyadari opportunity yang sejati datang dari Tuhan. Kalau kita mengatakan Lot itu bisnismen modern, maka Abraham orang yang sangat percaya pada kebaikan, nilai-nilai luhur, yang mendatangkan kebijakan, suka cita dari Tuhan.
Karena itu, belajar dari Abraham, jangan sampai kita salah dalam hidup ini. Seringkali ketidakmampuan melihat opportunity membuat kita marah pada Tuhan. Kita hanya melihat sakit sebagai malapetaka, seakan itu kutuk. Kalau memang Saudara penuh dosa, pantas minta ampun. Mungkin Tuhan memukul dengan penyakit. Tetapi ketika Saudara hidup seperti yang Tuhan ajarkan, dalam ketulusan tetapi bisa sakit, sadarilah ada opportunity yang Tuhan berikan, kesempatan ber-tumbuh dalam iman. Kesempatan melewati ujian iman, kesempatan untuk tahu sejauh mana kuat imanmu, apakah imanmu hanya kalau lagi bahagia, tetapi tidak per-nah mampu mengucap “haleluya” kalau lagi sakit. Padahal kita mengatakan “mengucap syukurlah dalam segala hal”.
Ketika melihat Yesus, di mana kesempatan-Nya di mana kemenangan-Nya, di mana opportunity yang diambil-Nya? Jawabnya sederhana: di Taman Getsemani Dia berkata, “Kalau boleh Bapa, cawan ini lalu daripada-Ku, tetapi bukan kehendak-Ku, kehendak-Mu-lah yang jadi”. Yesus menangkap opportunity paling pas untuk taat kepada Bapa, bukan untuk menyelamatkan diri.
Kadang-kadang opportunity yang kita ambil memang tidak mengenakkan untuk ukuran dunia. Tetapi jangan takut, cinta kasih Allah menjangkau kita. Dia menolong kita dari berbagai kesulitan. Karena itu, selamat berjuang, nikmati apa pun pilihan yang Tuhan berikan. Masuki hari-harimu dengan penuh gairah dan kebangunan. Ada persoalan hari ini? Bangun dan lihatlah, Tuhan sudah menyiapkan kesempatan itu bagimu. Tetapi kalau kau bersalah, sadari kesalahan. Itu pun opportunity untuk mengakui dosa di hadapan Tuhan, bukan melulu memikirkan bisnis atau kesehatan, tetapi hubunganmu dengan Tuhan.
(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)
Oleh: Pdt. Bigman Sirait
Info:
Jika Anda butuh:
1. Jasa Design Hotel, Villa, Spa, Resort, Landscape klik www.GunardiSaputra.com/Presiska atau hubungi Ardi di 08558827222
2.Peralatan makan Stainless Steel: Sendok Makan, Sendok Teh untuk usaha Anda (buka restoran atau catering) maupun untuk kegiatan promosi pemasaran Anda (pemberian hadiah atas produk dagangan Anda), hubungi: Ardi di 08558827222
3.Rekomendasi Saham klik www.GunardiSaputra.com
4.Promosi dengan Sendok Makan Stainless klik gl_trading.indonetwork.co.id
promosi Anda ya Sendok Makan atau Sendok Teh saja...
Kita sudah melihat bagaimana Abraham dibentuk menjadi bapak orang beriman. Dia pernah gagal tetapi bangun kembali dan membuat hal-hal yang luar biasa khususnya di bagian ini. Perkembangan harta benda mereka sangat luar biasa. Harta Abraham berkembang, harta Lot juga berkembang. Tapi yang perlu kita pikirkan adalah, Lot itu keponakannya yang waktu kecil dibawanya. Artinya, Abraham memberi peluang yang baik bagi keponakannya untuk bertumbuh dan berkembang bersama. Dia tidak memonopoli semua untuk dirinya. Ini bisnis yang sangat kristiani.
Hanya saja kemudian muncul masalah karena lahan. Terjadi perkelahian antara gembala Lot dan gembala Abraham. Tetapi Abraham yang justru mengambil sikap dan berkata: Kita ini sudah diberkati Tuhan dengan harta benda yang luar biasa. Kita ini saudara, kenapa mesti ribut? Janganlah ada perkelahian antara
aku dengan engkau, antara gembalamu dan gembalaku sebab kita ini kerabat (ay. 8). Abraham punya sikap dan membuktikan kedewasaannya, sekaligus kepe-kaannya sebagai seorang pe-mimpin. Dia mengambil inisiatif menciptakan damai, bukan pertikaian. Dia tidak meman-faatkan kesempatan sebagai paman, untuk menekan bisnis keponakannya.
0pportunity atau kesempatan, itu yang akan kita pikirkan. Dalam persoalan ini Abraham punya kedudukan tinggi, dan sebenar-nya keputusan ada di tangannya. Menarik ketika Abraham berkata, “Kita baiknya berpisah, karena lahan yang tidak memadai, karena itu pilihlah dan lihatlah, kau mau ke utara aku ke selatan, kau mau ke barat aku ke timur” (ay. 9). Artinya, Abraham memberi kesempatan kepada Lot untuk memilih. Abraham mengambil posisi rugi. Karena kalau Lot mengambil yang terbaik, Abaraham mendapat sisanya.
Di sisi lain kita melihat Lot yang tidak merasa sungkan meman-faatkan kesempatan. Lot tidak memiliki lagi kepekaan hati nurani. Seharusnya Lot mempunyai itu karena sejak kecil ikut Abraham. Tetapi kuatnya dorongan untuk memiliki harta benda yang lebih banyak lagi, membuat Lot menekan suara hati. Bagi Lot ini kesempatan emas yang tidak akan datang dua kali. Bahwa itu kelihatan tidak etis, menyalip paman sendiri, bodoh amat, yang penting dapat.
Secara logika sederhana, Lot betul, tetapi secara etika di mana rasa sungkannya sebagai kepo-nakan. Di mana penghargaannya? Lot menggunakan kesempatan itu untuk memperkaya diri, bukan untuk hormat diri. Mestinya dia mempersilakan Abraham mengam-bil lebih dulu. Itu sebenarnya kesempatan bagi Lot untuk menyatakan sikap yang baik. Tetapi Lot tidak melihat kesem-patan itu, dia mengambil kesem-patan untuk memperoleh materi. Lot ambil kesempatan untuk keuntungan diri, bukan hormat diri. Lot mengambil kesempatan memperkaya diri, bukan mendemonstrasikan harga diri.
Mata jasmani
Opportunity-nya sama, tetapi Lot memilih yang menyangkut masalah materi. Maka Lot memilih Sodom dan Gomorah karena tempat itu sangat indah. Banyak pohon yang menjanjikan masa depan bisnisnya. Tetapi Alkitab mencatat orang Sodom dan Gomorah jahat, berdosa pada Tuhan. Artinya keputusannya membawanya ke pilihan yang salah, yang dibenci Tuhan. Karena Lot hanya melihat dengan mata jasmani yang memuaskan keinginan materinya. Maka Lot terperangkap dalam sebuah opportunity yang salah. Opportunity memang kesempatan yang tidak boleh disia-siakan, tidak terulang dengan momentum dan model yang sama. Tetapi, apakah setiap opportunity harus ditangkap dan dimanfaatkan? Apakah setiap opportunity pasti sesuai kehendak Tuhan?
Naluri bisnis kita boleh tajam, tetapi perlu juga kita tahu apakah ini Tuhan mau atau tidak? Banyak pilihan yang salah dan berakibat fatal. Karena itu, kita juga harus peka pada pimpinan Allah. Yang baik menurut mata belum tentu baik menurut Tuhan. Pemahaman seperti inilah yang dimiliki Abraham. Dia menyadari opportunity yang sejati datang dari Tuhan. Kalau kita mengatakan Lot itu bisnismen modern, maka Abraham orang yang sangat percaya pada kebaikan, nilai-nilai luhur, yang mendatangkan kebijakan, suka cita dari Tuhan.
Karena itu, belajar dari Abraham, jangan sampai kita salah dalam hidup ini. Seringkali ketidakmampuan melihat opportunity membuat kita marah pada Tuhan. Kita hanya melihat sakit sebagai malapetaka, seakan itu kutuk. Kalau memang Saudara penuh dosa, pantas minta ampun. Mungkin Tuhan memukul dengan penyakit. Tetapi ketika Saudara hidup seperti yang Tuhan ajarkan, dalam ketulusan tetapi bisa sakit, sadarilah ada opportunity yang Tuhan berikan, kesempatan ber-tumbuh dalam iman. Kesempatan melewati ujian iman, kesempatan untuk tahu sejauh mana kuat imanmu, apakah imanmu hanya kalau lagi bahagia, tetapi tidak per-nah mampu mengucap “haleluya” kalau lagi sakit. Padahal kita mengatakan “mengucap syukurlah dalam segala hal”.
Ketika melihat Yesus, di mana kesempatan-Nya di mana kemenangan-Nya, di mana opportunity yang diambil-Nya? Jawabnya sederhana: di Taman Getsemani Dia berkata, “Kalau boleh Bapa, cawan ini lalu daripada-Ku, tetapi bukan kehendak-Ku, kehendak-Mu-lah yang jadi”. Yesus menangkap opportunity paling pas untuk taat kepada Bapa, bukan untuk menyelamatkan diri.
Kadang-kadang opportunity yang kita ambil memang tidak mengenakkan untuk ukuran dunia. Tetapi jangan takut, cinta kasih Allah menjangkau kita. Dia menolong kita dari berbagai kesulitan. Karena itu, selamat berjuang, nikmati apa pun pilihan yang Tuhan berikan. Masuki hari-harimu dengan penuh gairah dan kebangunan. Ada persoalan hari ini? Bangun dan lihatlah, Tuhan sudah menyiapkan kesempatan itu bagimu. Tetapi kalau kau bersalah, sadari kesalahan. Itu pun opportunity untuk mengakui dosa di hadapan Tuhan, bukan melulu memikirkan bisnis atau kesehatan, tetapi hubunganmu dengan Tuhan.
(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)
Oleh: Pdt. Bigman Sirait
Info:
Jika Anda butuh:
1. Jasa Design Hotel, Villa, Spa, Resort, Landscape klik www.GunardiSaputra.com/Presiska atau hubungi Ardi di 08558827222
2.Peralatan makan Stainless Steel: Sendok Makan, Sendok Teh untuk usaha Anda (buka restoran atau catering) maupun untuk kegiatan promosi pemasaran Anda (pemberian hadiah atas produk dagangan Anda), hubungi: Ardi di 08558827222
3.Rekomendasi Saham klik www.GunardiSaputra.com
4.Promosi dengan Sendok Makan Stainless klik gl_trading.indonetwork.co.id
promosi Anda ya Sendok Makan atau Sendok Teh saja...
BS: Miskin Harta, Kaya Cinta Kasih
Setiap orang Kristen harus menyadari bahwa sebagai orang percaya dia diberi anugerah oleh Allah untuk ambil bagian menolong banyak orang, bukan mengurung diri di menara gereja untuk memuaskan diri sendiri dan berkisah tentang keberhasilannya tanpa peduli orang lain. Untuk itu Injil harus melebar, menjangkau setiap orang di berbagai sudut. Maka pelayanan itu sangat penting bagi kehidupan gereja, karena gereja yang tidak memiliki misi (misioner) tidak dapat lagi disebut sebagai gereja, karena gereja dipanggil justru untuk melakukan pelayanan di tengah-tengah masyarakat.
Di dalam 2 Kor 8: 1-5 dibeberkan tentang tindakan jemaat Makedonia yang sangat luar biasa. Secara ekonomi mereka mengalami kesulitan dan kepahitan. Orang-orang Makedonia tidak memiliki cukup uang, maka mereka dikatakan sangat miskin. Tetapi di sisi lain mereka sangat kaya, bukan kaya harta tetapi kaya di dalam cinta kasih, kemurahan, kepedulian pada orang lain. Mereka begitu mudah menolong orang lain, sekalipun miskin dalam keuangan. Mereka hanya kaya akan kemurahan. Ada banyak orang kaya di dalam keuangan, tetapi miskin dalam kemurahan. Ada banyak gereja terjebak dalam dilema seperti ini: mampu membangun diri tetapi tidak mampu membagi diri.
Apa yang dilakukan orang Makedonia memang sangat luar biasa. Mereka telah mendahului dan bekerja lebih dari apa yang dikerjakan orang Korintus. Secara finansial kemampuan jemaat Korintus di atas Makedonia, tetapi semangat Makedonia jauh di atas semangat Korintus. Oleh karena itulah apa yang dikerjakan oleh jemaat Makedonia, menjadi pemikiran yang sangat serius bagi kita. Di tengah kondisi yang sulit dan pahit, pencobaan berat dalam berbagai penderitaan, namun sukacita mereka meluap. Meskipun mereka sangat miskin namun kaya dalam kemurahan. Mereka memberi menurut kemampuan, bahkan melampaui kemampuan mereka. Mereka bagai janda miskin dalam kitab Injil, yang memberikan persembahan dari apa yang dia tidak punya. Artinya, ketika dia memberikan apa yang ada padanya maka habislah persediaan. Entah bagaimana dengan hari esok bahkan hari ini, bukan jadi pertanyaan baginya. Tindakan itu membuat Yesus memberikan apresiasi atau penghargaan luar biasa.
Sama seperti jemaat Makedonia, yang ketika memberi persembahan tidak bertanya bagaimana hidup mereka nanti, tetapi apa yang mereka lakukan sekarang. Sebuah pemikiran yang sangat jenius di dalam kekristenan. Bagi saya, kejeniusan itu bukan karena bisa menemukan teori fisika. Jenius bisa juga bagaimana Anda bisa menangkap betul-betul pimpinan Allah dan bertindak secara luar biasa. Karena banyak orang Kristen yang jadi bodoh di hadapan Tuhan, selalu mengeluh, selalu merasa kurang ini dan itu, seakan Tuhan tidak hidup, tidak mampu menolong dia.
Tetapi orang-orang di Makedonia saya katakan jenius karena mereka tahu bahwa Allah yang hidup itu yang sudah menebus mereka, maka urusan kecil bagi Dia untuk memampukan, mencukupkan kebutuhan mereka. Karena itu Paulus juga melukiskan bagaimana orang-orang Makedonia mampu menangkap bahwa Kristus Yesus ialah Allah yang mahakaya yang mau hidup miskin, supaya di dalam kemiskinan-Nya kita menjadi kaya. Itu bukan membicarakan bahwa Allah menjadi miskin, dan di dalam kemiskinannya itu kita menjadi kaya—kaya uang, tapi kaya cinta kasih.
Saya sangat terobsesi dan belajar banyak dari orang-orang Makedonia, semangat mereka luar biasa. Nama-nama jemaat tak tercatat, tetapi pekerjaan penginjilan yang sangat hebat itu tercatat di Makedonia, dan bergerak ke berbagai tempat. Mereka sangat peduli dengan orang lain. Maka marilah menjadi orang-orang Kristen yang tidak menggerutu, “Tuhan, kenapa aku miskin?”. Saya berkata, Makedonia miskin tetapi tidak pernah menghina dirinya. Tetapi jangan pula kita membangun suatu struktur pemahaman yang salah: “Ikutlah Yesus maka engkau kaya”. Celakalah mereka yang mengatakan hal-hal seperti itu. Jemaat Makedonia tidak seperti itu. Janda miskin tidak seperti itu. Kita tidak perlu kaya hanya supaya bisa melayani Tuhan.
Gereja perlu dikembalikan ke jalan yang lurus, kepada konsep yang benar: memberi bukan karena kau kaya tetapi karena kasih karunia Allah. Percaya bukan supaya kau kaya, tetapi supaya diperkaya di dalam cinta kasih karunia-Nya memahami makna hidup, sehingga kau berbeda dengan orang lain. Tuhan tahu bagaimana mencukupkan kita. Dia tidak akan membiarkan kita kere dan mati kelaparan karena percaya pada Dia. Allah mampu berbuat segala perkara. Karena itu, biarlah semangat Makedonia menjadi semangat kita hidup melayani di mana pun kita berada, di gereja, atau di yayasan, tetap setia melayani Tuhan.
Lihat sekitarmu, banyak orang yang belum mengenal Kristus. Jangkau mereka. Banyak orang kesulitan, dan menjerit dalam kemiskinan materi karena mereka tak punya Allah. Datanglah pada mereka, ajari mereka bahwa di dalam Tuhan ada kekuatan nyata. Jangan hina dirimu dengan berkata, “Aku hanya orang miskin tidak bisa apa-apa”. Justru kau bisa apa-apa. Katakan pada Tuhan, “Tuhan, tolong aku untuk melakukan apa yang Kau mau”.
Dan kau yang kaya jangan hanya memperkaya diri dan berkata “Tuhan memberkatiku”, seperti dilakukan banyak orang Kristen, yang hanya berteriak tentang apa yang dia dapatkan, tetapi tak berani berkisah tentang apa yang telah dia lakukan. Jangan berhenti ambil bagian melayani, maka kau akan tahu betapa kayanya Allah di dalam hidupmu. Karena itu mari kita berkarya nyata di mana pun kita berada.
Biarlah segala puji dan hormat kembali kepada Dia, Tuhan yang hebat, Yesus Kristus yang telah menebus kita. Kebahagiaan kita ketika Ia menolong kita, bukan mencari kebahagiaan mengikut Dia. Karena ia telah memberikan nyawa-Nya sebelum kita tahu apa-apa. Terpujilah Tuhan yang telah memulai “proyek” dan akan menyelesaikannya.
(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan).
Oleh: Pdt.Bigman Sirait
Info:
Jika Anda butuh:
1. Jasa Design Hotel, Villa, Spa, Resort, Landscape klik www.GunardiSaputra.com/Presiska atau hubungi Ardi di 08558827222
2.Peralatan makan Stainless Steel: Sendok Makan, Sendok Teh untuk usaha Anda (buka restoran atau catering) maupun untuk kegiatan promosi pemasaran Anda (pemberian hadiah atas produk dagangan Anda), hubungi: Ardi di 08558827222
3.Rekomendasi Saham klik www.GunardiSaputra.com
4.Promosi dengan Sendok Makan Stainless klik gl_trading.indonetwork.co.id
promosi Anda ya Sendok Makan atau Sendok Teh saja...
Di dalam 2 Kor 8: 1-5 dibeberkan tentang tindakan jemaat Makedonia yang sangat luar biasa. Secara ekonomi mereka mengalami kesulitan dan kepahitan. Orang-orang Makedonia tidak memiliki cukup uang, maka mereka dikatakan sangat miskin. Tetapi di sisi lain mereka sangat kaya, bukan kaya harta tetapi kaya di dalam cinta kasih, kemurahan, kepedulian pada orang lain. Mereka begitu mudah menolong orang lain, sekalipun miskin dalam keuangan. Mereka hanya kaya akan kemurahan. Ada banyak orang kaya di dalam keuangan, tetapi miskin dalam kemurahan. Ada banyak gereja terjebak dalam dilema seperti ini: mampu membangun diri tetapi tidak mampu membagi diri.
Apa yang dilakukan orang Makedonia memang sangat luar biasa. Mereka telah mendahului dan bekerja lebih dari apa yang dikerjakan orang Korintus. Secara finansial kemampuan jemaat Korintus di atas Makedonia, tetapi semangat Makedonia jauh di atas semangat Korintus. Oleh karena itulah apa yang dikerjakan oleh jemaat Makedonia, menjadi pemikiran yang sangat serius bagi kita. Di tengah kondisi yang sulit dan pahit, pencobaan berat dalam berbagai penderitaan, namun sukacita mereka meluap. Meskipun mereka sangat miskin namun kaya dalam kemurahan. Mereka memberi menurut kemampuan, bahkan melampaui kemampuan mereka. Mereka bagai janda miskin dalam kitab Injil, yang memberikan persembahan dari apa yang dia tidak punya. Artinya, ketika dia memberikan apa yang ada padanya maka habislah persediaan. Entah bagaimana dengan hari esok bahkan hari ini, bukan jadi pertanyaan baginya. Tindakan itu membuat Yesus memberikan apresiasi atau penghargaan luar biasa.
Sama seperti jemaat Makedonia, yang ketika memberi persembahan tidak bertanya bagaimana hidup mereka nanti, tetapi apa yang mereka lakukan sekarang. Sebuah pemikiran yang sangat jenius di dalam kekristenan. Bagi saya, kejeniusan itu bukan karena bisa menemukan teori fisika. Jenius bisa juga bagaimana Anda bisa menangkap betul-betul pimpinan Allah dan bertindak secara luar biasa. Karena banyak orang Kristen yang jadi bodoh di hadapan Tuhan, selalu mengeluh, selalu merasa kurang ini dan itu, seakan Tuhan tidak hidup, tidak mampu menolong dia.
Tetapi orang-orang di Makedonia saya katakan jenius karena mereka tahu bahwa Allah yang hidup itu yang sudah menebus mereka, maka urusan kecil bagi Dia untuk memampukan, mencukupkan kebutuhan mereka. Karena itu Paulus juga melukiskan bagaimana orang-orang Makedonia mampu menangkap bahwa Kristus Yesus ialah Allah yang mahakaya yang mau hidup miskin, supaya di dalam kemiskinan-Nya kita menjadi kaya. Itu bukan membicarakan bahwa Allah menjadi miskin, dan di dalam kemiskinannya itu kita menjadi kaya—kaya uang, tapi kaya cinta kasih.
Saya sangat terobsesi dan belajar banyak dari orang-orang Makedonia, semangat mereka luar biasa. Nama-nama jemaat tak tercatat, tetapi pekerjaan penginjilan yang sangat hebat itu tercatat di Makedonia, dan bergerak ke berbagai tempat. Mereka sangat peduli dengan orang lain. Maka marilah menjadi orang-orang Kristen yang tidak menggerutu, “Tuhan, kenapa aku miskin?”. Saya berkata, Makedonia miskin tetapi tidak pernah menghina dirinya. Tetapi jangan pula kita membangun suatu struktur pemahaman yang salah: “Ikutlah Yesus maka engkau kaya”. Celakalah mereka yang mengatakan hal-hal seperti itu. Jemaat Makedonia tidak seperti itu. Janda miskin tidak seperti itu. Kita tidak perlu kaya hanya supaya bisa melayani Tuhan.
Gereja perlu dikembalikan ke jalan yang lurus, kepada konsep yang benar: memberi bukan karena kau kaya tetapi karena kasih karunia Allah. Percaya bukan supaya kau kaya, tetapi supaya diperkaya di dalam cinta kasih karunia-Nya memahami makna hidup, sehingga kau berbeda dengan orang lain. Tuhan tahu bagaimana mencukupkan kita. Dia tidak akan membiarkan kita kere dan mati kelaparan karena percaya pada Dia. Allah mampu berbuat segala perkara. Karena itu, biarlah semangat Makedonia menjadi semangat kita hidup melayani di mana pun kita berada, di gereja, atau di yayasan, tetap setia melayani Tuhan.
Lihat sekitarmu, banyak orang yang belum mengenal Kristus. Jangkau mereka. Banyak orang kesulitan, dan menjerit dalam kemiskinan materi karena mereka tak punya Allah. Datanglah pada mereka, ajari mereka bahwa di dalam Tuhan ada kekuatan nyata. Jangan hina dirimu dengan berkata, “Aku hanya orang miskin tidak bisa apa-apa”. Justru kau bisa apa-apa. Katakan pada Tuhan, “Tuhan, tolong aku untuk melakukan apa yang Kau mau”.
Dan kau yang kaya jangan hanya memperkaya diri dan berkata “Tuhan memberkatiku”, seperti dilakukan banyak orang Kristen, yang hanya berteriak tentang apa yang dia dapatkan, tetapi tak berani berkisah tentang apa yang telah dia lakukan. Jangan berhenti ambil bagian melayani, maka kau akan tahu betapa kayanya Allah di dalam hidupmu. Karena itu mari kita berkarya nyata di mana pun kita berada.
Biarlah segala puji dan hormat kembali kepada Dia, Tuhan yang hebat, Yesus Kristus yang telah menebus kita. Kebahagiaan kita ketika Ia menolong kita, bukan mencari kebahagiaan mengikut Dia. Karena ia telah memberikan nyawa-Nya sebelum kita tahu apa-apa. Terpujilah Tuhan yang telah memulai “proyek” dan akan menyelesaikannya.
(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan).
Oleh: Pdt.Bigman Sirait
Info:
Jika Anda butuh:
1. Jasa Design Hotel, Villa, Spa, Resort, Landscape klik www.GunardiSaputra.com/Presiska atau hubungi Ardi di 08558827222
2.Peralatan makan Stainless Steel: Sendok Makan, Sendok Teh untuk usaha Anda (buka restoran atau catering) maupun untuk kegiatan promosi pemasaran Anda (pemberian hadiah atas produk dagangan Anda), hubungi: Ardi di 08558827222
3.Rekomendasi Saham klik www.GunardiSaputra.com
4.Promosi dengan Sendok Makan Stainless klik gl_trading.indonetwork.co.id
promosi Anda ya Sendok Makan atau Sendok Teh saja...
BS: Hidup Bahagia bila Dekat 'Sumber Hidup' Itu
Saudara terkasih, Mazmur
36: 6-10 dengan begitu
indahnya memaparkan bagaimana kasih setia Tuhan dinyatakan dalam kehidupan orang-orang benar. Sang pemazmur melihat bahwa kasih Tuhan itu sampai ke langit. Istilah “kasih Tuhan itu sampai ke langit” untuk menunjukkan betapa tidak terbatasnya kasih itu bagi orang-orang yang dikasihi-Nya, betapa kasih itu melintasi segala ukuran (unlimited), tidak bisa dikurung. Manusia tidak pernah mampu melukiskan kasih Allah. “Dia setia sampai ke awan”, ini untuk menunjukkan ketidakterbatasan kesetiaan Tuhan. Alkitab berkata, “Sekalipun kita tidak setia Dia akan tetap setia”. Ini suatu hal yang luar biasa yang dikerjakan-Nya di tengah kehidupan manusia.
Keadilan-Nya bagai gunung. Satu keadilan yang mengatasi apa pun juga, keadilan yang nyata terlihat, tidak tersembunyi. Sebuah keadil-an yang begitu sederhana untuk dipahami. Dan hukum-Nya seperti samudra menguasai segalanya, menjangkau seluruh tepi, dan tidak bisa dipermainkan. Di sini kita melihat Tuhan itu penuh cinta ka-sih, penuh dengan kesetiaan, pe-nuh dengan keadilan. Maka dalam kehidupan orang-orang percaya, dan mengandalkan Tuhan, pasti ada gairah luar biasa.
Mungkin kita sering berkata,
bahwa mudah mengatakan Tuhan itu penuh kasih, setia dan adil, menegakkan hukum, tetapi dalam kenyataannya kita menga-lami kepahitan dan kegetiran. Habakuk saja, seorang nabi, ber-seru kebingungan atas realita hidup. Ia berteriak, “Mengapa hukum datang terbalik, keadilan dijungkirbalikkan ya Tuhan!” Tetapi justru Tuhan menjawab, “Engkau akan melihat hal yang tidak pernah terbayangkan. Engkau akan melihat hal-hal yang lebih mengerikan!” Gugatan Habakuk bukan dijawab Allah, justru Allah mendemonstrasikan kenyataan yang sangat menakutkan dan tidak terbayangkan (Habakuk 1).
Tetapi yang luar biasa adalah ketika pada bagian akhir Habakuk berkata, “Sekalipun gandum itu tidak panen, tidak akan jadi masalah. Sekalipun tidak berbunga tidak menjadi masalah”. Kenapa dia berkata demikian? Karena Habakuk bukan lagi melihat apa yang dilihat mata, tetapi apa yang hanya bisa ditangkap oleh iman yang dalam dan kuat. Dia menemukan kesejatian bahwa Allah adalah Allah yang penuh cinta kasih, setia, adil, dan menegakkan hukum.
Jika ingin mengenal Allah sebagai sumber hidup, maka kita tidak dapat mengukur Dia dengan logika atau apa yang dilihat oleh mata, tetapi mesti melihat jauh ke dalam, menggali dan mene-mukan kesejatian Allah yang hidup itu, karena Dia memang sumber hidup sejati yang menghidupi kita yang percaya kepada-Nya. Oleh karena itu, sudah pada tempatnya jika kita menaruh pengharapan kepada Tuhan. Sudah seharusnyalah jika kita meletakkan seluruh kehidupan kita di bawah kaki-Nya, dan memasrahkan diri ke dalam pemeliharaan-Nya.
Jadi, setiap orang percaya tidak perlu gentar, melainkan memainkan peran yang diberikan Tuhan sehingga sungguh mengalami kegairahan dalam hidup, beroleh kemenangan karena ketaatan, karena orang-orang yang percaya kepada Tuhan tidak akan pernah ditinggalkan. Mereka akan menemukan kesejatian dalam pengalaman-pengalaman indah, dan berkata, “Tak menjadi penting apakah aku sehat atau sakit, kaya atau miskin, karena bukan itu yang menjadi pemikiranku, tetapi kekuatan keteguhanku berpegang dan beriman kepada Dia, Allah yang hidup itu”.
Berbahagialah
Berbahagialah jika Dia memberi kita kesehatan dan harta. Tetapi kebahagiaan itu akan hilang, ketika sumber hidup, Allah itu, tidak lagi menghidupi hidup kita. Oleh karena itu, di dalam pergumulan hidup mari kita menyoroti dengan tajam seluruh kenyataan hidup. Sehingga jangan salah paham lalu menggugat bahwa Allah tidak memelihara, dan tidak mau tahu persoalan kita. Ketidakmengertian kita tentang Dia sebagai Allah sumber hiduplah yang membuat kita salah paham, seakan-akan Dia tidak memelihara kita. Dia mencukupkan kita di dalam kebutuhan. Dia menjamin kita, karena itu kenapa marah dan kecewa jika terbelit masalah? Tak ada yang perlu disesalkan. Tuhan tidak pernah salah dalam bertindak. Kitalah yang salah memahami kasih dan pemeliharaan-Nya.
Oleh karena itu, mari terus menjelajah, melihat bahwa Tuhan campur tangan dalam kehidupan alam semesta. Dia tidak pernah menjadi pencipta yang kemudian melepaskan segalanya dan membiarkan itu rusak. Dia pemelihara yang bertanggung jawab. Dia mencipta dan memelihara seluruh ciptaan-Nya. Kurangnya perenungan akan hal ini membuat kita kurang memahami kasih itu, dan membuat kita kurang merespon atau kurang dalam bersekutu dengan Dia. Akhirnya kita kadang kehausan karena tidak menemukan kasih yang luar biasa itu.
Dalam pergumulan hidup, biarlah kita belajar untuk bergantung pada Tuhan, Dia-lah yang memberi kenikmatan dan kesenangan kepada setiap manusia, karena dikatakan, “Mereka mengenyang-kan dirinya dengan lemak di rumah-Mu. Engkau memberi mereka minum dari sungai-Mu”. Betapa indah dan memuaskan kehidupan yang diberikan Tuhan kepada orang yang percaya kepada-Nya. Mereka mengalami kepuasan kegairahan di tengah kehidupan.
Apa yang dikerjakan Tuhan bagi orang percaya sangat luar biasa dan tidak pernah terbayangkan akal yang terbatas. Ini membuat kita terkejut dan tersentak. Tetapi itulah Tuhan di dalam keajaiban cinta kasih-Nya. Maka umat yang menerima Dia, menjadi umat yang berbahagia. Ketika kurang bahagia, bukankah ada baiknya kita introspeksi diri, mengapa tak mampu menikmati cinta kasih itu? “Berbahagialah orang yang Kau pilih dan Engkau suruh mendekat untuk diam di pelataran-Mu, kiranya kami kenyang dengan segala yang baik di dalam rumah-Mu, di bait-Mu yang kudus” (Maz 65: 5). Maka dalam konteks ini kita melihat kekenyangan bukanlah sekadar kekenyangan perut (jasmani) tetapi lebih dari itu, yakni kekenyangan jiwa (rohani). Kepuasan hidup ada apabila kita dekat Allah, sumber hidup itu.
Allah menjamin setiap langkah kita, baik suka maupun duka, jasmani maupun rohani. Karena itu kita harus berpegang teguh dan melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya, jangan sampai terjebak pada perangkap yang membuat kita lemah. Jangan sampai terperangkap iblis yang mengajar kita menuduh dan menggugat seakan Tuhan tak peduli lagi. Bertarung dan berperanglah dalam hidup untuk menemukan kesejatian sehingga kita tampil menjadi pemenang yang memuji dan memuliakan Dia, Tuhan, sumber hidup.v
(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)
Oleh: Pdt.Bigman Sirait
Info:
Jika Anda butuh:
1. Jasa Design Hotel, Villa, Spa, Resort, Landscape klik www.GunardiSaputra.com/Presiska atau hubungi Ardi di 08558827222
2.Peralatan makan Stainless Steel: Sendok Makan, Sendok Teh untuk usaha Anda (buka restoran atau catering) maupun untuk kegiatan promosi pemasaran Anda (pemberian hadiah atas produk dagangan Anda), hubungi: Ardi di 08558827222
3.Rekomendasi Saham klik www.GunardiSaputra.com
4.Promosi dengan Sendok Makan Stainless klik gl_trading.indonetwork.co.id
promosi Anda ya Sendok Makan atau Sendok Teh saja...
36: 6-10 dengan begitu
indahnya memaparkan bagaimana kasih setia Tuhan dinyatakan dalam kehidupan orang-orang benar. Sang pemazmur melihat bahwa kasih Tuhan itu sampai ke langit. Istilah “kasih Tuhan itu sampai ke langit” untuk menunjukkan betapa tidak terbatasnya kasih itu bagi orang-orang yang dikasihi-Nya, betapa kasih itu melintasi segala ukuran (unlimited), tidak bisa dikurung. Manusia tidak pernah mampu melukiskan kasih Allah. “Dia setia sampai ke awan”, ini untuk menunjukkan ketidakterbatasan kesetiaan Tuhan. Alkitab berkata, “Sekalipun kita tidak setia Dia akan tetap setia”. Ini suatu hal yang luar biasa yang dikerjakan-Nya di tengah kehidupan manusia.
Keadilan-Nya bagai gunung. Satu keadilan yang mengatasi apa pun juga, keadilan yang nyata terlihat, tidak tersembunyi. Sebuah keadil-an yang begitu sederhana untuk dipahami. Dan hukum-Nya seperti samudra menguasai segalanya, menjangkau seluruh tepi, dan tidak bisa dipermainkan. Di sini kita melihat Tuhan itu penuh cinta ka-sih, penuh dengan kesetiaan, pe-nuh dengan keadilan. Maka dalam kehidupan orang-orang percaya, dan mengandalkan Tuhan, pasti ada gairah luar biasa.
Mungkin kita sering berkata,
bahwa mudah mengatakan Tuhan itu penuh kasih, setia dan adil, menegakkan hukum, tetapi dalam kenyataannya kita menga-lami kepahitan dan kegetiran. Habakuk saja, seorang nabi, ber-seru kebingungan atas realita hidup. Ia berteriak, “Mengapa hukum datang terbalik, keadilan dijungkirbalikkan ya Tuhan!” Tetapi justru Tuhan menjawab, “Engkau akan melihat hal yang tidak pernah terbayangkan. Engkau akan melihat hal-hal yang lebih mengerikan!” Gugatan Habakuk bukan dijawab Allah, justru Allah mendemonstrasikan kenyataan yang sangat menakutkan dan tidak terbayangkan (Habakuk 1).
Tetapi yang luar biasa adalah ketika pada bagian akhir Habakuk berkata, “Sekalipun gandum itu tidak panen, tidak akan jadi masalah. Sekalipun tidak berbunga tidak menjadi masalah”. Kenapa dia berkata demikian? Karena Habakuk bukan lagi melihat apa yang dilihat mata, tetapi apa yang hanya bisa ditangkap oleh iman yang dalam dan kuat. Dia menemukan kesejatian bahwa Allah adalah Allah yang penuh cinta kasih, setia, adil, dan menegakkan hukum.
Jika ingin mengenal Allah sebagai sumber hidup, maka kita tidak dapat mengukur Dia dengan logika atau apa yang dilihat oleh mata, tetapi mesti melihat jauh ke dalam, menggali dan mene-mukan kesejatian Allah yang hidup itu, karena Dia memang sumber hidup sejati yang menghidupi kita yang percaya kepada-Nya. Oleh karena itu, sudah pada tempatnya jika kita menaruh pengharapan kepada Tuhan. Sudah seharusnyalah jika kita meletakkan seluruh kehidupan kita di bawah kaki-Nya, dan memasrahkan diri ke dalam pemeliharaan-Nya.
Jadi, setiap orang percaya tidak perlu gentar, melainkan memainkan peran yang diberikan Tuhan sehingga sungguh mengalami kegairahan dalam hidup, beroleh kemenangan karena ketaatan, karena orang-orang yang percaya kepada Tuhan tidak akan pernah ditinggalkan. Mereka akan menemukan kesejatian dalam pengalaman-pengalaman indah, dan berkata, “Tak menjadi penting apakah aku sehat atau sakit, kaya atau miskin, karena bukan itu yang menjadi pemikiranku, tetapi kekuatan keteguhanku berpegang dan beriman kepada Dia, Allah yang hidup itu”.
Berbahagialah
Berbahagialah jika Dia memberi kita kesehatan dan harta. Tetapi kebahagiaan itu akan hilang, ketika sumber hidup, Allah itu, tidak lagi menghidupi hidup kita. Oleh karena itu, di dalam pergumulan hidup mari kita menyoroti dengan tajam seluruh kenyataan hidup. Sehingga jangan salah paham lalu menggugat bahwa Allah tidak memelihara, dan tidak mau tahu persoalan kita. Ketidakmengertian kita tentang Dia sebagai Allah sumber hiduplah yang membuat kita salah paham, seakan-akan Dia tidak memelihara kita. Dia mencukupkan kita di dalam kebutuhan. Dia menjamin kita, karena itu kenapa marah dan kecewa jika terbelit masalah? Tak ada yang perlu disesalkan. Tuhan tidak pernah salah dalam bertindak. Kitalah yang salah memahami kasih dan pemeliharaan-Nya.
Oleh karena itu, mari terus menjelajah, melihat bahwa Tuhan campur tangan dalam kehidupan alam semesta. Dia tidak pernah menjadi pencipta yang kemudian melepaskan segalanya dan membiarkan itu rusak. Dia pemelihara yang bertanggung jawab. Dia mencipta dan memelihara seluruh ciptaan-Nya. Kurangnya perenungan akan hal ini membuat kita kurang memahami kasih itu, dan membuat kita kurang merespon atau kurang dalam bersekutu dengan Dia. Akhirnya kita kadang kehausan karena tidak menemukan kasih yang luar biasa itu.
Dalam pergumulan hidup, biarlah kita belajar untuk bergantung pada Tuhan, Dia-lah yang memberi kenikmatan dan kesenangan kepada setiap manusia, karena dikatakan, “Mereka mengenyang-kan dirinya dengan lemak di rumah-Mu. Engkau memberi mereka minum dari sungai-Mu”. Betapa indah dan memuaskan kehidupan yang diberikan Tuhan kepada orang yang percaya kepada-Nya. Mereka mengalami kepuasan kegairahan di tengah kehidupan.
Apa yang dikerjakan Tuhan bagi orang percaya sangat luar biasa dan tidak pernah terbayangkan akal yang terbatas. Ini membuat kita terkejut dan tersentak. Tetapi itulah Tuhan di dalam keajaiban cinta kasih-Nya. Maka umat yang menerima Dia, menjadi umat yang berbahagia. Ketika kurang bahagia, bukankah ada baiknya kita introspeksi diri, mengapa tak mampu menikmati cinta kasih itu? “Berbahagialah orang yang Kau pilih dan Engkau suruh mendekat untuk diam di pelataran-Mu, kiranya kami kenyang dengan segala yang baik di dalam rumah-Mu, di bait-Mu yang kudus” (Maz 65: 5). Maka dalam konteks ini kita melihat kekenyangan bukanlah sekadar kekenyangan perut (jasmani) tetapi lebih dari itu, yakni kekenyangan jiwa (rohani). Kepuasan hidup ada apabila kita dekat Allah, sumber hidup itu.
Allah menjamin setiap langkah kita, baik suka maupun duka, jasmani maupun rohani. Karena itu kita harus berpegang teguh dan melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya, jangan sampai terjebak pada perangkap yang membuat kita lemah. Jangan sampai terperangkap iblis yang mengajar kita menuduh dan menggugat seakan Tuhan tak peduli lagi. Bertarung dan berperanglah dalam hidup untuk menemukan kesejatian sehingga kita tampil menjadi pemenang yang memuji dan memuliakan Dia, Tuhan, sumber hidup.v
(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)
Oleh: Pdt.Bigman Sirait
Info:
Jika Anda butuh:
1. Jasa Design Hotel, Villa, Spa, Resort, Landscape klik www.GunardiSaputra.com/Presiska atau hubungi Ardi di 08558827222
2.Peralatan makan Stainless Steel: Sendok Makan, Sendok Teh untuk usaha Anda (buka restoran atau catering) maupun untuk kegiatan promosi pemasaran Anda (pemberian hadiah atas produk dagangan Anda), hubungi: Ardi di 08558827222
3.Rekomendasi Saham klik www.GunardiSaputra.com
4.Promosi dengan Sendok Makan Stainless klik gl_trading.indonetwork.co.id
promosi Anda ya Sendok Makan atau Sendok Teh saja...
BS: Kasih Harus Dibuktikan dengan Tindakan
KASIH harus dibuktikan dengan tindakan dan perbuatan, bukan sekadar diucapkan. Tapi gereja masa kini terjebak pada perangkap ini karena kita suka sekali memakai kata “kasih” itu seperti topeng, bukan kesejatian. Kasih yang sejati selalu memberikan satu inspirasi untuk orang bertindak di dalam hidupnya sehingga melahirkan tindakan-tindakan yang luar biasa. Kasih yang murni, tidak ada permainan sandiwara, itulah yang dituntut Tuhan untuk kita kerjakan. Dan itu menjadi sebuah keharusan. Kita bisa saja sepertinya mengasihi orang tetapi hati kita tidak. Jika begini, betapa jahatnya kita.
Kejujuran, keterusterangan, adalah sesuatu yang sangat menyakitkan, tetapi menyenang-kan bagi orang yang memiliki kebenaran, dan hidup dalam kebenaran. Hidup seperti itulah yang harus kita demonstrasikan. Dengan demikianlah kita bisa saling mengasihi sebagai saudara. Di situlah suasana dalam satu komuni-tas menjadi hidup karena saling mengisi dan saling menggairahkan, bukan lagi dipengaruhi faktor-faktor emosi, tetapi ikatan cinta-kasih. Itu mimpi dan kerinduan kita. Kita harus mendemonstrasikan bagaimana ikatan cinta kasih itu terbentuk antarkita, sehingga biarpun jumlah kita minoritas, tapi bermakna. Jangan malah sebaliknya, sudah kecil tapi ribut
melulu. Boleh saja kita kecil dari segi jumlah, tetapi di surga dipuji Tuhan karena penuh cita kasih.
Hidup dalam kebersamaan, menjadi satu keluarga di mana semua orang mengambil bagian, tahu tugas dan tanggung jawab di dalam keluarga itu. Apa bagianmu kerjakan, sehingga dengan demikian kasih punya tempat untuk bertumbuh bersama-sama. Tetapi ketika kita mencipta-kan berbagai kepin-cangan, yang bukan bagianmu kamu kerja-kan, yang bagianmu tidak kamu kerjakan, maka timbul ben-trokan, maka kita membunuh cinta kasih itu di dalam kehidupan. Ini penting kita pikir-kan, dan itulah yang akan menggelorakan kita, mem-buat kita menjadi rajin. Orang tidak mungkin tidak rajin kalau dia punya cinta kasih. Karena kasih, seorang ibu rela membanting tulang untuk anak-anaknya. Demi kasih, orang memiliki keberanian. Dalam peristiwa kebakaran, seorang ibu menerobos api, untuk menyelamatkan bayinya. Dia bisa mati tetapi tidak peduli dengan dirinya. Bagi dia jauh lebih terhormat mati demi bayinya atau mati berdua.
Lukisan-lukisan kasih itu memberikan kontribusi dan dampak di dalam kehidupan. Kasih mendorong kita bergairah untuk mau tahu banyak, menciptakan kerajinan-kerajinan yang terus menyala-nyala. Karena kasihlah apinya. Kasih adalah personal relationship kita dengan Tuhan. Kalau personal relationship ini tidak beres, kasih tidak menyala, akibatnya melayani pun kita kendor. Orang Kristen, jika ingat berkat Tuhan maka berapi-apilah dia melayani. Dia tidak akan berhitung, tapi akan melakukan apa saja, dan terus maju di dalam perjuangan untuk menyenangkan hati Tuhan. Kobaran itu harus terus menyala.
Rasul-rasul bekerja babak belur, masuk-keluar penjara tapi semangat mereka tidak pernah turun. Dari dalam penjara mereka masih menasihati orang di luar penjara. Begitu bergairah dan hebatnya, mereka terus maju dan tak pernah berhenti, bekerja menghadapi kesulitan kegetiran. Itulah gelora, ketika api cinta kasih itu menyala-nyala. Semakin mereka melayani orang karena cinta kasih, semakin mereka berkobar-kobar. Sampai-sampai Paulus mengucapkan kalimat: “Bagiku upah adalah ketika aku memberitakan Injil tanpa diupah”. Luar biasa. Kalau dipikir-pikir, bagaimana kita melakukan sesuatu tanpa imbalan, karena toh manusia bekerja selalu dengan pamrih. Nyaris kita tidak bisa terhindar dari pamrih, minimal kerja kita dihargai. Jika Rasul Paulus rela melayani Tuhan tanpa upah, itu karena keterikatan yang kuat pada surga, sehingga respon dia adalah karena kasih surga, dan pamrih dia adalah boleh menyenangkan Tuhan.
Pembaruan rohani
Dalam hidup ini, kalau ada persoalan yang sangat sulit, rasanya kesal sekali. Maunya sih jangan ada persoalan. Tapi kalau dipikir-pikir, mana mungkin hidup tidak ada persoalan? Persoalannya justru adalah bagaimana menghadapi dan melewati persoalan sehingga menjadi semacam tekanan yang menguji sejauh mana semangat kita melayani Tuhan. Sehingga ketika sedang sulit dan punya masalah pun kita tetap bersukacita. Bagaimana bisa? Karena ada pengharapan. Di atas bara persoalan kita bersukacita terhadap pengharapan. Kita maju karena ada pengharapan. Itu sebab kita mesti kuat melangkah, kalau tidak lilitan persoalan ini seperti lumpur hidup yang semakin kita bergerak, kita makin ditelan.
Satu kekhawatiran yang kita ijinkan menguasai diri kita, akan bertambah menjadi dua, tiga, dan akhirnya menenggelamkan. Mengabaikan dan melupakannya tidak bisa, karena akan semakin bertambah persoalan itu. Karena itu persoalan tidak bisa diselesaikan dengan ekstasi tetapi dengan katarsis. Katarsis itu semacam proses penyucian diri yang membawa pembaruan rohani, oleh kekuatan Tuhan sehingga kita sadar: “Oh Tuhan, engkaulah Tuhan dan juru selamatku, kekuatanku”.
Orang kadang-kadang bingung kalau menemukan Kristen sejati, yang sekalipun secara ekonomi susah, tetapi dalam menjalani hidup enteng-enteng saja. Hal itu karena dia memiliki kesukacitaan atas pengharapan, sehingga dia sabar dalam kesesakan. Dalam Alkitab tertulis: “Sabarlah menderita”. Karena itulah orang-orang Kristen berkobar, kuat dalam kesesakan, bertekun di dalam doa karena dia tahu Tuhan menolongnya. Maka cinta kasih tidak akan membuat kita menuntut pada Allah, tetapi cinta kasih membuat kita mengabdi pada Dia. Karena dia sudah mengasihi kita, maka kita akan mengabdi pada-Nya. Maka doa kita cuma satu: mampukan aku mengabdi pada-Mu. Dan pengabdian kita: siapa yang mencari kerajaan-Nya akan mendapat tambahannya. Itu janji Tuhan.
Jadi, mau sukses dan baik? Hidup saja sesuai kehendak Tuhan, jangan dibikin rumit-rumit. Bekal cinta kasih itu akan mendorong kita mencip-takan berbagai kemungkinan dan peluang.
(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)
Oleh: Pdt.Bigman Sirait
Info:
Jika Anda butuh:
1. Jasa Design Hotel, Villa, Spa, Resort, Landscape klik www.GunardiSaputra.com/Presiska atau hubungi Ardi di 08558827222
2.Peralatan makan Stainless Steel: Sendok Makan, Sendok Teh untuk usaha Anda (buka restoran atau catering) maupun untuk kegiatan promosi pemasaran Anda (pemberian hadiah atas produk dagangan Anda), hubungi: Ardi di 08558827222
3.Rekomendasi Saham klik www.GunardiSaputra.com
4.Promosi dengan Sendok Makan Stainless klik gl_trading.indonetwork.co.id
promosi Anda ya Sendok Makan atau Sendok Teh saja...
Kejujuran, keterusterangan, adalah sesuatu yang sangat menyakitkan, tetapi menyenang-kan bagi orang yang memiliki kebenaran, dan hidup dalam kebenaran. Hidup seperti itulah yang harus kita demonstrasikan. Dengan demikianlah kita bisa saling mengasihi sebagai saudara. Di situlah suasana dalam satu komuni-tas menjadi hidup karena saling mengisi dan saling menggairahkan, bukan lagi dipengaruhi faktor-faktor emosi, tetapi ikatan cinta-kasih. Itu mimpi dan kerinduan kita. Kita harus mendemonstrasikan bagaimana ikatan cinta kasih itu terbentuk antarkita, sehingga biarpun jumlah kita minoritas, tapi bermakna. Jangan malah sebaliknya, sudah kecil tapi ribut
melulu. Boleh saja kita kecil dari segi jumlah, tetapi di surga dipuji Tuhan karena penuh cita kasih.
Hidup dalam kebersamaan, menjadi satu keluarga di mana semua orang mengambil bagian, tahu tugas dan tanggung jawab di dalam keluarga itu. Apa bagianmu kerjakan, sehingga dengan demikian kasih punya tempat untuk bertumbuh bersama-sama. Tetapi ketika kita mencipta-kan berbagai kepin-cangan, yang bukan bagianmu kamu kerja-kan, yang bagianmu tidak kamu kerjakan, maka timbul ben-trokan, maka kita membunuh cinta kasih itu di dalam kehidupan. Ini penting kita pikir-kan, dan itulah yang akan menggelorakan kita, mem-buat kita menjadi rajin. Orang tidak mungkin tidak rajin kalau dia punya cinta kasih. Karena kasih, seorang ibu rela membanting tulang untuk anak-anaknya. Demi kasih, orang memiliki keberanian. Dalam peristiwa kebakaran, seorang ibu menerobos api, untuk menyelamatkan bayinya. Dia bisa mati tetapi tidak peduli dengan dirinya. Bagi dia jauh lebih terhormat mati demi bayinya atau mati berdua.
Lukisan-lukisan kasih itu memberikan kontribusi dan dampak di dalam kehidupan. Kasih mendorong kita bergairah untuk mau tahu banyak, menciptakan kerajinan-kerajinan yang terus menyala-nyala. Karena kasihlah apinya. Kasih adalah personal relationship kita dengan Tuhan. Kalau personal relationship ini tidak beres, kasih tidak menyala, akibatnya melayani pun kita kendor. Orang Kristen, jika ingat berkat Tuhan maka berapi-apilah dia melayani. Dia tidak akan berhitung, tapi akan melakukan apa saja, dan terus maju di dalam perjuangan untuk menyenangkan hati Tuhan. Kobaran itu harus terus menyala.
Rasul-rasul bekerja babak belur, masuk-keluar penjara tapi semangat mereka tidak pernah turun. Dari dalam penjara mereka masih menasihati orang di luar penjara. Begitu bergairah dan hebatnya, mereka terus maju dan tak pernah berhenti, bekerja menghadapi kesulitan kegetiran. Itulah gelora, ketika api cinta kasih itu menyala-nyala. Semakin mereka melayani orang karena cinta kasih, semakin mereka berkobar-kobar. Sampai-sampai Paulus mengucapkan kalimat: “Bagiku upah adalah ketika aku memberitakan Injil tanpa diupah”. Luar biasa. Kalau dipikir-pikir, bagaimana kita melakukan sesuatu tanpa imbalan, karena toh manusia bekerja selalu dengan pamrih. Nyaris kita tidak bisa terhindar dari pamrih, minimal kerja kita dihargai. Jika Rasul Paulus rela melayani Tuhan tanpa upah, itu karena keterikatan yang kuat pada surga, sehingga respon dia adalah karena kasih surga, dan pamrih dia adalah boleh menyenangkan Tuhan.
Pembaruan rohani
Dalam hidup ini, kalau ada persoalan yang sangat sulit, rasanya kesal sekali. Maunya sih jangan ada persoalan. Tapi kalau dipikir-pikir, mana mungkin hidup tidak ada persoalan? Persoalannya justru adalah bagaimana menghadapi dan melewati persoalan sehingga menjadi semacam tekanan yang menguji sejauh mana semangat kita melayani Tuhan. Sehingga ketika sedang sulit dan punya masalah pun kita tetap bersukacita. Bagaimana bisa? Karena ada pengharapan. Di atas bara persoalan kita bersukacita terhadap pengharapan. Kita maju karena ada pengharapan. Itu sebab kita mesti kuat melangkah, kalau tidak lilitan persoalan ini seperti lumpur hidup yang semakin kita bergerak, kita makin ditelan.
Satu kekhawatiran yang kita ijinkan menguasai diri kita, akan bertambah menjadi dua, tiga, dan akhirnya menenggelamkan. Mengabaikan dan melupakannya tidak bisa, karena akan semakin bertambah persoalan itu. Karena itu persoalan tidak bisa diselesaikan dengan ekstasi tetapi dengan katarsis. Katarsis itu semacam proses penyucian diri yang membawa pembaruan rohani, oleh kekuatan Tuhan sehingga kita sadar: “Oh Tuhan, engkaulah Tuhan dan juru selamatku, kekuatanku”.
Orang kadang-kadang bingung kalau menemukan Kristen sejati, yang sekalipun secara ekonomi susah, tetapi dalam menjalani hidup enteng-enteng saja. Hal itu karena dia memiliki kesukacitaan atas pengharapan, sehingga dia sabar dalam kesesakan. Dalam Alkitab tertulis: “Sabarlah menderita”. Karena itulah orang-orang Kristen berkobar, kuat dalam kesesakan, bertekun di dalam doa karena dia tahu Tuhan menolongnya. Maka cinta kasih tidak akan membuat kita menuntut pada Allah, tetapi cinta kasih membuat kita mengabdi pada Dia. Karena dia sudah mengasihi kita, maka kita akan mengabdi pada-Nya. Maka doa kita cuma satu: mampukan aku mengabdi pada-Mu. Dan pengabdian kita: siapa yang mencari kerajaan-Nya akan mendapat tambahannya. Itu janji Tuhan.
Jadi, mau sukses dan baik? Hidup saja sesuai kehendak Tuhan, jangan dibikin rumit-rumit. Bekal cinta kasih itu akan mendorong kita mencip-takan berbagai kemungkinan dan peluang.
(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)
Oleh: Pdt.Bigman Sirait
Info:
Jika Anda butuh:
1. Jasa Design Hotel, Villa, Spa, Resort, Landscape klik www.GunardiSaputra.com/Presiska atau hubungi Ardi di 08558827222
2.Peralatan makan Stainless Steel: Sendok Makan, Sendok Teh untuk usaha Anda (buka restoran atau catering) maupun untuk kegiatan promosi pemasaran Anda (pemberian hadiah atas produk dagangan Anda), hubungi: Ardi di 08558827222
3.Rekomendasi Saham klik www.GunardiSaputra.com
4.Promosi dengan Sendok Makan Stainless klik gl_trading.indonetwork.co.id
promosi Anda ya Sendok Makan atau Sendok Teh saja...
BS: Jika Berbuat Dosa, Jangan Lari dari Tuhan
KETIKA seseorang melakukan dosa, biasanya dia dihinggapi rasa takut terhadap Tuhan. Rasa takut pada Tuhan ini ada dalam dua perspektif: negatif dan positif. Tentang rasa takut dalam perspektif yang negatif, ada dalam Kitab Kejadian 3: 10. “Ia menjawab: ‘Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada di dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.”
Itu perikop tentang kejatuhan manusia ke dalam dosa. Dikatakan, manusia itu menjadi takut karena telanjang. Ini alasan yang kurang relevan. Apa hubungannya takut dengan telanjang? Telanjang itu biasa kok. Orang kalau mandi, kan telanjang. Tetapi, apa yang menyebabkan Adam menjadi takut kepada Tuhan sehingga dia harus bersembunyi? Ini takut yang negatif. Takut yang positif adalah takut yang membawa orang datang kepada Tuhan, bersujud di hadapan-Nya. Sementara Adam menghindari pertemuan dengan Tuhan. Di sini kita melihat bahwa rupanya kejatuhan ke dalam dosa itu adalah sumber pertama yang membuat manusia takut berhadapan dengan Tuhan. Sebaliknya, dalam ketidakberdosaan, sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, tidak ada rasa takut, karena pertemuan dengan Tuhan adalah sebuah kegembiraan, dan selalu dinantikan.
Takut karena dosa yang membuat orang melarikan diri dari Tuhan, itu tidak benar. Takut akan Tuhan yang membuat orang merusak dirinya, merusak lingkungan, mempersalahkan sekitarnya, itu tidak benar. Mari mencermati, apakah kita, saudara kita, atau teman kita ada pada posisi itu? Jika Anda merasa takut akan Tuhan sehingga takut untuk berdoa, lalu mencoba membunuh rasa takut itu dengan bersikap masa bodoh, lalu tidak mau tahu lagi akan kebenaran Tuhan, hati-hatilah. Ini bahaya yang perlu disikapi serius, karena bisa membawa kita hanyut makin dalam. Karena akan ada waktunya manusia tidak takut lagi kepada Tuhan sekalipun berbuat dosa, dan ini sangat mengerikan.
Ketika ada teman mengatakan kalau dirinya takut Tuhan karena berbuat dosa,
kita harus memperingatkan dia supaya jangan larut,membuat dia semakin lari jauh dari Tuhan. Kita harus mendorong dia berhenti sejenak menunduk malu dan mengakui dosa-dosanya, bukan lari dari Tuhan. Dalam kenyataan, banyak orang berbuat dosa, bukannya berhenti. Ada anak yang tadinya baik, berubah menjadi jahat. Dosa bisa mengubah sifat yang baik itu dalam sekejap. Karena tidak pernah cukup kebaikan seseorang untuk mengatasi dirinya dari benturan atau kehancuran dosa. Pimpinan Tuhanlah satu-satunya yang bisa membuat orang kuat, memproteksi dirinya dari godaan atau pengaruh dosa. Kalau hanya sekadar kebaikan perilaku, kedewasaan moral, itu tidak akan cukup kuat, dan akan jebol.
Makin najis
Orang yang melakukan dosa, mula-mula gelisah, bimbang terutama saat mendengar suara-suara dalam hatinya, yang berkata: “Kamu sudah bikin dosa, kembali pada Tuhan”. Lalu ada teriakan lagi: “Bagaimana mau kembali ke Tuhan, kan sudah bikin dosa kok malah kembali, mana kamu diterima, mana pantas ketemu Tuhan lagi”. Dan celakanya, biasanya orang cenderung mendengarkan suara kedua. Maka takutlah dia untuk bertemu Tuhan, lalu meninggalkan Tuhan. Tragis.
Jika orang semakin jatuh ke dalam dosa, ada kalanya makin kita benci. Nah waktu kita makin benci dia makin jatuh. Dia makin takut kembali pada Tuhan karena merasa makin najis. Rasa takut semacam ini bukankah sebenarnya juga pernah terjadi dalam hidup kita? Tapi hal seperti ini terjadi pada orang yang secara personal belum mengalami pertemuan pribadi dengan Tuhan. Orang yang sudah mengalami pertobatan, kalau sudah berbuat dosa, perasaan takut pada Tuhan biasanya bisa membawa dia kembali pada Tuhan. Karena itulah kita perlu bijak melihat setiap orang, dan sebaliknya juga perlu bijak memahami diri kita, supaya tidak terjebak pada perangkap itu.
Kadang orang yang takut kepada Tuhan karena berbuat dosa, ia lari menyembunyikan diri dan berkata, “Aku tidak layak bagi Tuhan”. Dia menghukum diri dengan berkata, “Sudahlah, ini salahku, ini risiko yang mesti kutanggung, sekalipun harus masuk neraka!” Sepertinya patriotik, punya rasa tanggung jawab. Dia mau menunjukkan kalau dirinya gentleman. Sudah berbuat dosa maka dia tanggung akibatnya. Semakin berkata seperti itu atau melarikan diri, semakin kau membunuh dirimu sendiri. Kau tidak sedang berbuat apa-apa, tidak sedang menolong apa-apa. Itu hanya kesombongan karena kurang mengenal Tuhan yang sejati. Dan bukan seperti itu yang diinginkan oleh Tuhan.
Kalau berbuat dosa lalu takut pada Tuhan, jangan melarikan diri, tetapi menaklukkan diri. Mendekat dan merendahkan dirilah pada Tuhan. Melarikan diri dari Tuhan ketika berbuat dosa, itu sama saja membunuh diri. Melarikan diri dari Tuhan, itu justru tidak bertanggung jawab. Yang bertanggung jawab adalah datang mendekatkan diri kepada Tuhan, menaklukkan diri kepada Dia. Jadi, takut pada Tuhan yang negatif yang membawa kita melarikan diri, tidak diperlukan. Rasa takut pada Tuhan seha-rusnya membawa kita datang dan meminta ampun dan belas kasih-Nya.
Ketika engkau terpuruk, semakin jatuh ke dalam dosa, sehingga ragu-ragu untuk kembali, takut ditolak Tuhan, jangan melarikan diri. Kembalilah kepada Dia, kepada kasih yang indah, yang manis, ajaib, dan luar biasa itu. Karena Dia yang kita takuti karena kita berbuat dosa, adalah Dia yang siap untuk mengampuni. Kembalilah jangan lari jauh. Jangan berhenti berdoa. Jangan berhenti membaca Alkitab, karena sudah dikatakan: “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi akan diubah-Nya menjadi putih seperti salju.”
(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)
Oleh: Pdt.Bigman Sirait
Info:
Jika Anda butuh:
1. Jasa Design Hotel, Villa, Spa, Resort, Landscape klik www.GunardiSaputra.com/Presiska atau hubungi Ardi di 08558827222
2.Peralatan makan Stainless Steel: Sendok Makan, Sendok Teh untuk usaha Anda (buka restoran atau catering) maupun untuk kegiatan promosi pemasaran Anda (pemberian hadiah atas produk dagangan Anda), hubungi: Ardi di 08558827222
3.Rekomendasi Saham klik www.GunardiSaputra.com
4.Promosi dengan Sendok Makan Stainless klik gl_trading.indonetwork.co.id
promosi Anda ya Sendok Makan atau Sendok Teh saja...
Itu perikop tentang kejatuhan manusia ke dalam dosa. Dikatakan, manusia itu menjadi takut karena telanjang. Ini alasan yang kurang relevan. Apa hubungannya takut dengan telanjang? Telanjang itu biasa kok. Orang kalau mandi, kan telanjang. Tetapi, apa yang menyebabkan Adam menjadi takut kepada Tuhan sehingga dia harus bersembunyi? Ini takut yang negatif. Takut yang positif adalah takut yang membawa orang datang kepada Tuhan, bersujud di hadapan-Nya. Sementara Adam menghindari pertemuan dengan Tuhan. Di sini kita melihat bahwa rupanya kejatuhan ke dalam dosa itu adalah sumber pertama yang membuat manusia takut berhadapan dengan Tuhan. Sebaliknya, dalam ketidakberdosaan, sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, tidak ada rasa takut, karena pertemuan dengan Tuhan adalah sebuah kegembiraan, dan selalu dinantikan.
Takut karena dosa yang membuat orang melarikan diri dari Tuhan, itu tidak benar. Takut akan Tuhan yang membuat orang merusak dirinya, merusak lingkungan, mempersalahkan sekitarnya, itu tidak benar. Mari mencermati, apakah kita, saudara kita, atau teman kita ada pada posisi itu? Jika Anda merasa takut akan Tuhan sehingga takut untuk berdoa, lalu mencoba membunuh rasa takut itu dengan bersikap masa bodoh, lalu tidak mau tahu lagi akan kebenaran Tuhan, hati-hatilah. Ini bahaya yang perlu disikapi serius, karena bisa membawa kita hanyut makin dalam. Karena akan ada waktunya manusia tidak takut lagi kepada Tuhan sekalipun berbuat dosa, dan ini sangat mengerikan.
Ketika ada teman mengatakan kalau dirinya takut Tuhan karena berbuat dosa,
kita harus memperingatkan dia supaya jangan larut,membuat dia semakin lari jauh dari Tuhan. Kita harus mendorong dia berhenti sejenak menunduk malu dan mengakui dosa-dosanya, bukan lari dari Tuhan. Dalam kenyataan, banyak orang berbuat dosa, bukannya berhenti. Ada anak yang tadinya baik, berubah menjadi jahat. Dosa bisa mengubah sifat yang baik itu dalam sekejap. Karena tidak pernah cukup kebaikan seseorang untuk mengatasi dirinya dari benturan atau kehancuran dosa. Pimpinan Tuhanlah satu-satunya yang bisa membuat orang kuat, memproteksi dirinya dari godaan atau pengaruh dosa. Kalau hanya sekadar kebaikan perilaku, kedewasaan moral, itu tidak akan cukup kuat, dan akan jebol.
Makin najis
Orang yang melakukan dosa, mula-mula gelisah, bimbang terutama saat mendengar suara-suara dalam hatinya, yang berkata: “Kamu sudah bikin dosa, kembali pada Tuhan”. Lalu ada teriakan lagi: “Bagaimana mau kembali ke Tuhan, kan sudah bikin dosa kok malah kembali, mana kamu diterima, mana pantas ketemu Tuhan lagi”. Dan celakanya, biasanya orang cenderung mendengarkan suara kedua. Maka takutlah dia untuk bertemu Tuhan, lalu meninggalkan Tuhan. Tragis.
Jika orang semakin jatuh ke dalam dosa, ada kalanya makin kita benci. Nah waktu kita makin benci dia makin jatuh. Dia makin takut kembali pada Tuhan karena merasa makin najis. Rasa takut semacam ini bukankah sebenarnya juga pernah terjadi dalam hidup kita? Tapi hal seperti ini terjadi pada orang yang secara personal belum mengalami pertemuan pribadi dengan Tuhan. Orang yang sudah mengalami pertobatan, kalau sudah berbuat dosa, perasaan takut pada Tuhan biasanya bisa membawa dia kembali pada Tuhan. Karena itulah kita perlu bijak melihat setiap orang, dan sebaliknya juga perlu bijak memahami diri kita, supaya tidak terjebak pada perangkap itu.
Kadang orang yang takut kepada Tuhan karena berbuat dosa, ia lari menyembunyikan diri dan berkata, “Aku tidak layak bagi Tuhan”. Dia menghukum diri dengan berkata, “Sudahlah, ini salahku, ini risiko yang mesti kutanggung, sekalipun harus masuk neraka!” Sepertinya patriotik, punya rasa tanggung jawab. Dia mau menunjukkan kalau dirinya gentleman. Sudah berbuat dosa maka dia tanggung akibatnya. Semakin berkata seperti itu atau melarikan diri, semakin kau membunuh dirimu sendiri. Kau tidak sedang berbuat apa-apa, tidak sedang menolong apa-apa. Itu hanya kesombongan karena kurang mengenal Tuhan yang sejati. Dan bukan seperti itu yang diinginkan oleh Tuhan.
Kalau berbuat dosa lalu takut pada Tuhan, jangan melarikan diri, tetapi menaklukkan diri. Mendekat dan merendahkan dirilah pada Tuhan. Melarikan diri dari Tuhan ketika berbuat dosa, itu sama saja membunuh diri. Melarikan diri dari Tuhan, itu justru tidak bertanggung jawab. Yang bertanggung jawab adalah datang mendekatkan diri kepada Tuhan, menaklukkan diri kepada Dia. Jadi, takut pada Tuhan yang negatif yang membawa kita melarikan diri, tidak diperlukan. Rasa takut pada Tuhan seha-rusnya membawa kita datang dan meminta ampun dan belas kasih-Nya.
Ketika engkau terpuruk, semakin jatuh ke dalam dosa, sehingga ragu-ragu untuk kembali, takut ditolak Tuhan, jangan melarikan diri. Kembalilah kepada Dia, kepada kasih yang indah, yang manis, ajaib, dan luar biasa itu. Karena Dia yang kita takuti karena kita berbuat dosa, adalah Dia yang siap untuk mengampuni. Kembalilah jangan lari jauh. Jangan berhenti berdoa. Jangan berhenti membaca Alkitab, karena sudah dikatakan: “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi akan diubah-Nya menjadi putih seperti salju.”
(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)
Oleh: Pdt.Bigman Sirait
Info:
Jika Anda butuh:
1. Jasa Design Hotel, Villa, Spa, Resort, Landscape klik www.GunardiSaputra.com/Presiska atau hubungi Ardi di 08558827222
2.Peralatan makan Stainless Steel: Sendok Makan, Sendok Teh untuk usaha Anda (buka restoran atau catering) maupun untuk kegiatan promosi pemasaran Anda (pemberian hadiah atas produk dagangan Anda), hubungi: Ardi di 08558827222
3.Rekomendasi Saham klik www.GunardiSaputra.com
4.Promosi dengan Sendok Makan Stainless klik gl_trading.indonetwork.co.id
promosi Anda ya Sendok Makan atau Sendok Teh saja...
Friday, September 18, 2009
BS: Berani Melepas Hak, Itu Kekuasaan Sejati
PEMIKIRAN Kristus adalah suatu kekuatan yang sangat luar biasa, dan menjadi pola pikir satu-satunya di muka bumi, karena tidak pernah ada manusia berpikir seperti Kristus berpikir. Kristus berpikir dengan tidak mem-pertahankan kesetaraan-Nya dengan Allah… (Fil 2: 5-11). Artinya, Dia rela melepaskan atribut itu. Istilahnya “mengo-songkan diri”. Sementara se-mua orang, di dalam pemikiran-nya mau berkuasa. Adam jatuh ke dalam dosa karena ingin sama dengan Allah. Lucifer (malaikat) jatuh menjadi iblis karena ingin sama dengan Allah. Tetapi apa yang Yesus lakukan? Dia memang sudah sama dengan Allah, tetapi Dia rela melepaskannya. Ini pola pikir yang berlawan sekali dengan pola pikir dunia, melawan arus jaman.
Sejujurnya kita juga tidak suka dengan cara berpikir seperti ini. Mana bisa? Kita bisa dilecehkan orang. Tetapi panggilan kita sebagai murid Yesus justru untuk berani melawan arus itu. Alkitab mempersaksikan kepada kita, malaikat jatuh karena ingin sama dengan Allah. Adam jatuh, karena ingin sama dengan Allah. Tetapi, kenapa Yesus ditinggikan? Kenapa Dia tidak jatuh? Karena Dia mau direndahkan. Waktu Dia mengambil sikap mau menjadi rendah, menjadi manusia, itu bukan sebuah paksaan. Dia rela dan siap melakukan itu. Dia bukan seorang raja di dunia yang menjadi hamba. Dia bukan raja yang menjadi gembel. Dia lebih dari sekadar itu, sebab Dia adalah Allah yang menjadi manusia. Raja dan gembel, bedanya antara bumi dengan langit. Tetapi Dia melintasi jauh daripada itu. Dia Allah yang menjadi manusia. Dan waktu menjadi manusia, Dia mengambil rupa seorang hamba, bukan raja. Kalau Dia menjadi manusia yang raja, itu juga rendah, karena toh Dia raja kekekalan.
Mestinya ini menjadi satu titik penting dalam pola pemikiran kita, membuat kita tidak melulu berorientasi kepada diri yang menciptakan berbagai kesera-kahan dan tidak mau mengalah, yang kemudian menciptakan kesulitan dan pertikaian. Kegai-rahan akan kekuasaan mestinya jangan banyak menguasai pikiran kita, sementara kita mengaku Kristen. Nah, supaya kekristenan kita aktual, bisa dipertang-gungjawabkan, dinikmati banyak orang, dan banyak orang bisa belajar, maka kita harus berani juga seperti Kristus: berani merendahkan diri.
Menyombongkan diri itu benih-benih keinginan berkua-sa. Dan keinginan berkuasa bukan hanya ada pada orang kaya saja, orang miskin juga. Itu juga tidak monopoli orang dewasa, anak-anak pun ingin berkuasa. Semua orang ingin tampak tinggi. Semua orang ingin lebih baik dari yang lain. Semua orang ingin tampak lebih luar biasa dari yang lain. Nah, ketika kita menjadi manusia yang bukan biasa-biasa saja, karena menjadi manusia yang dibalikkan citranya, menjadi seperti apa yang Allah kehendaki, yang sudah dikembalikan kepada hekaket gambar dan rupa Allah itu, maka kita akan menjadi manusia yang berbeda dengan jaman. Sehingga kita bukan manusia yang mau menggapai ketinggian, di mana kita menjadi pusat daripada pujian, tetapi justru mengambil suatu sikap yang sangat luar biasa, merendah, sehingga tidak menjadi pusat perhatian.
Mendemonstrasikan
Kita juga tidak sekadar merendahkan diri, tetapi harus berani melepas hak, memaafkan untuk menciptakan perdamaian. Yesus melepas hak-Nya, kemu-dian menjadi manusia, tetapi Dia menegur keras orang-orang berdosa, menelanjangi dosa. Tetapi Dia selalu membuka pintu pengampunan bagi orang yang percaya. Betapa ajaib dan benar pikiran Kristus itu. Justru ke-kuatan-Nya ada di dalam kerelaan untuk melepaskan kekuasaan. Dan kekuasaan sejati itu adalah kekuasaan yang tidak kita rengkuh untuk diri sendiri. Karena kekuasaan yang sejati itu adalah keberanian melepas diri, keberanian melepas hak.
Kristus tidak hanya mengatakan atau mengajarkan, tetapi sudah mendemonstrasikan bagaimana hidup yang bertanggung jawab itu. Karena itu penting bagi kita untuk melakukan apa yang dikehendaki Tuhan, sehingga ada kepuasan nilai karena mempunyai keberanian melepas hak. Hidup hanya bisa didapatkan, dan hanya bisa menjadi pengharapan, menjadi gairah yang menguatkan, kalau kita betul-betul bisa melepas seluruh ambisi, dan menggantinya dengan yang sesuai kehendak Tuhan.
Nah, perlawan arus dari semangat jaman, kita terobos seperti Kristus berpikir, sehingga kita harus menaruh pikiran atau perasaan yang terdapat juga di dalam Yesus, yang rela melepas semuanya untuk menggapai hal yang hina yang tidak terba-yangkan oleh manusia, bukan untuk Dia dan kepuasan-Nya, tetapi untuk menyelamatkan manusia. Kalau kita mampu berpikir ke bawah, mampu memperhatikan ke bawah, berani melepas hak, itulah kemenangan sejati, di situlah ada kemerdekaan dan kebebasan.
Oleh karena itu, pengharapan supaya Tuhan dimuliakan hanya ada kalau kita mau memainkan peran kita berpikir seperti Yesus berpikir. Kita turun ke bawah. Ketika turun ke bawah, biarlah di sana ada pengharapan kita karena Tuhan akan meninggi-kan kita dengan caranya yang luar biasa. Sehingga kita bisa mencatat berbagai peluang, ke-menangan yang membuat kita luar biasa di tengah kehidupan. Sehingga kita tidak saja menca-tat tetapi juga mencipta perbagai perubahan di mana Tuhan dimuliakan.
Kita berpikir seperti Kristus membuat kita mampu menuruni lembah, di mana harga diri kita tercabik-cabik tetapi kita menemukan kebenaran. Ini tak mudah, tetapi untuk itulah Kristus mati bagi kita, supaya kita mampu mengikut Dia. Tetapi alangkah indahnya, dan amat sangat luar biasa kalau kita mencapainya maka tahulah kita bahwa Yesus tidak pernah salah meminta pada kita. Yesus tidak pernah salah memerintahkan apa yang harus kita kerjakan. Yesus tidak pernah salah. Dia melakukan apa yang menjadi tuntutan dan kehendak Bapa.
Begitu pula kita, melakukan tuntutan-tuntunan yang Kristus tetapkan supaya kita seperti Kristus, berpikir seperti Dia berpikir. Itulah berpikir yang benar. Sehingga dengan ber-pikiran seperti Kristus kita bisa menyongsong, membangun kerendahan hati, menjadi titik kemenangan.v
(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)
Oleh: Pdt. Bigman Sirait
Info:
Jika Anda butuh peralatan makan Stainless Steel: Sendok Makan, Sendok Teh untuk usaha Anda (buka restoran atau catering) maupun untuk kegiatan promosi pemasaran Anda (pemberian hadiah atas produk dagangan Anda), hubungi: Ardi di 08558827222
Sejujurnya kita juga tidak suka dengan cara berpikir seperti ini. Mana bisa? Kita bisa dilecehkan orang. Tetapi panggilan kita sebagai murid Yesus justru untuk berani melawan arus itu. Alkitab mempersaksikan kepada kita, malaikat jatuh karena ingin sama dengan Allah. Adam jatuh, karena ingin sama dengan Allah. Tetapi, kenapa Yesus ditinggikan? Kenapa Dia tidak jatuh? Karena Dia mau direndahkan. Waktu Dia mengambil sikap mau menjadi rendah, menjadi manusia, itu bukan sebuah paksaan. Dia rela dan siap melakukan itu. Dia bukan seorang raja di dunia yang menjadi hamba. Dia bukan raja yang menjadi gembel. Dia lebih dari sekadar itu, sebab Dia adalah Allah yang menjadi manusia. Raja dan gembel, bedanya antara bumi dengan langit. Tetapi Dia melintasi jauh daripada itu. Dia Allah yang menjadi manusia. Dan waktu menjadi manusia, Dia mengambil rupa seorang hamba, bukan raja. Kalau Dia menjadi manusia yang raja, itu juga rendah, karena toh Dia raja kekekalan.
Mestinya ini menjadi satu titik penting dalam pola pemikiran kita, membuat kita tidak melulu berorientasi kepada diri yang menciptakan berbagai kesera-kahan dan tidak mau mengalah, yang kemudian menciptakan kesulitan dan pertikaian. Kegai-rahan akan kekuasaan mestinya jangan banyak menguasai pikiran kita, sementara kita mengaku Kristen. Nah, supaya kekristenan kita aktual, bisa dipertang-gungjawabkan, dinikmati banyak orang, dan banyak orang bisa belajar, maka kita harus berani juga seperti Kristus: berani merendahkan diri.
Menyombongkan diri itu benih-benih keinginan berkua-sa. Dan keinginan berkuasa bukan hanya ada pada orang kaya saja, orang miskin juga. Itu juga tidak monopoli orang dewasa, anak-anak pun ingin berkuasa. Semua orang ingin tampak tinggi. Semua orang ingin lebih baik dari yang lain. Semua orang ingin tampak lebih luar biasa dari yang lain. Nah, ketika kita menjadi manusia yang bukan biasa-biasa saja, karena menjadi manusia yang dibalikkan citranya, menjadi seperti apa yang Allah kehendaki, yang sudah dikembalikan kepada hekaket gambar dan rupa Allah itu, maka kita akan menjadi manusia yang berbeda dengan jaman. Sehingga kita bukan manusia yang mau menggapai ketinggian, di mana kita menjadi pusat daripada pujian, tetapi justru mengambil suatu sikap yang sangat luar biasa, merendah, sehingga tidak menjadi pusat perhatian.
Mendemonstrasikan
Kita juga tidak sekadar merendahkan diri, tetapi harus berani melepas hak, memaafkan untuk menciptakan perdamaian. Yesus melepas hak-Nya, kemu-dian menjadi manusia, tetapi Dia menegur keras orang-orang berdosa, menelanjangi dosa. Tetapi Dia selalu membuka pintu pengampunan bagi orang yang percaya. Betapa ajaib dan benar pikiran Kristus itu. Justru ke-kuatan-Nya ada di dalam kerelaan untuk melepaskan kekuasaan. Dan kekuasaan sejati itu adalah kekuasaan yang tidak kita rengkuh untuk diri sendiri. Karena kekuasaan yang sejati itu adalah keberanian melepas diri, keberanian melepas hak.
Kristus tidak hanya mengatakan atau mengajarkan, tetapi sudah mendemonstrasikan bagaimana hidup yang bertanggung jawab itu. Karena itu penting bagi kita untuk melakukan apa yang dikehendaki Tuhan, sehingga ada kepuasan nilai karena mempunyai keberanian melepas hak. Hidup hanya bisa didapatkan, dan hanya bisa menjadi pengharapan, menjadi gairah yang menguatkan, kalau kita betul-betul bisa melepas seluruh ambisi, dan menggantinya dengan yang sesuai kehendak Tuhan.
Nah, perlawan arus dari semangat jaman, kita terobos seperti Kristus berpikir, sehingga kita harus menaruh pikiran atau perasaan yang terdapat juga di dalam Yesus, yang rela melepas semuanya untuk menggapai hal yang hina yang tidak terba-yangkan oleh manusia, bukan untuk Dia dan kepuasan-Nya, tetapi untuk menyelamatkan manusia. Kalau kita mampu berpikir ke bawah, mampu memperhatikan ke bawah, berani melepas hak, itulah kemenangan sejati, di situlah ada kemerdekaan dan kebebasan.
Oleh karena itu, pengharapan supaya Tuhan dimuliakan hanya ada kalau kita mau memainkan peran kita berpikir seperti Yesus berpikir. Kita turun ke bawah. Ketika turun ke bawah, biarlah di sana ada pengharapan kita karena Tuhan akan meninggi-kan kita dengan caranya yang luar biasa. Sehingga kita bisa mencatat berbagai peluang, ke-menangan yang membuat kita luar biasa di tengah kehidupan. Sehingga kita tidak saja menca-tat tetapi juga mencipta perbagai perubahan di mana Tuhan dimuliakan.
Kita berpikir seperti Kristus membuat kita mampu menuruni lembah, di mana harga diri kita tercabik-cabik tetapi kita menemukan kebenaran. Ini tak mudah, tetapi untuk itulah Kristus mati bagi kita, supaya kita mampu mengikut Dia. Tetapi alangkah indahnya, dan amat sangat luar biasa kalau kita mencapainya maka tahulah kita bahwa Yesus tidak pernah salah meminta pada kita. Yesus tidak pernah salah memerintahkan apa yang harus kita kerjakan. Yesus tidak pernah salah. Dia melakukan apa yang menjadi tuntutan dan kehendak Bapa.
Begitu pula kita, melakukan tuntutan-tuntunan yang Kristus tetapkan supaya kita seperti Kristus, berpikir seperti Dia berpikir. Itulah berpikir yang benar. Sehingga dengan ber-pikiran seperti Kristus kita bisa menyongsong, membangun kerendahan hati, menjadi titik kemenangan.v
(Diringkas dari kaset khotbah oleh Hans P.Tan)
Oleh: Pdt. Bigman Sirait
Info:
Jika Anda butuh peralatan makan Stainless Steel: Sendok Makan, Sendok Teh untuk usaha Anda (buka restoran atau catering) maupun untuk kegiatan promosi pemasaran Anda (pemberian hadiah atas produk dagangan Anda), hubungi: Ardi di 08558827222
Subscribe to:
Posts (Atom)
